FITRI SHAFA KAMILA, Palangka Raya
CAHAYA temaram menemani pementasan seni budaya. Alunan musik khas kalimantan tengah semakin menggiring para penikmat pentas terbawa dalam suasana yang syahdu.
Lampu kelap kelip bergantian menyoroti pelakon di panggung malam itu. Dengan pakaian adat khas kalimantan tengah yang tergambar jelas pada corak bajunya. Pagelaran sendratari yang diadakan oleh Sanggar Budaya Bukit Kahias di UPT. Taman Budaya, Rabu (26/2/2025).
Kisah perjalanan cinta seorang pemuda gagah berani tengah berburu di Bukit Bantilung. Secara tak sengaja tersesat di hutan Pematang Kariau memasuki alam dunia berbeda, membawanya bertemu dengan seorang wanita paras cantik rupawan.
Dirinya tak bisa berbohong telah jatuh hati pada pandangan pertama. Segera ia nyatakan perasaannya, cintanya bersambut dan akhirnya mereka menikah di dunia lain. Sekian waktu, keluarga itu terus mencari keberadaan anaknya. Tak menemukan jalan keluar, kedua orang tuanya hanya bisa berdoa dan pasrah.
Sampai pada satu waktu, pria dayak ini kembali ke dunianya. Namun, tidak sendiri ia ditemani Kameluh Selung bermaksud untuk mengunduh mantu (menyambut kadatangan mantu).
Dalam penyambutan itu terdapat persyaratan dari sang istri, agar tidak ada seorangpun yang membakar sesuatu sehingga menimbulkan bau. Suami Kameluh Selung itu menyanggupi permintaannya.
Siapa menyangka, janji yang telah diucapkan justru dilanggar oleh masyarakat desa. Dengan membakar babi untuk menghilangkan bulunya. Kekecewaan muncul dari hati perempuan bergaun putih itu kepada masyarakat Keleleka Lewu Baras.
"Hidangan babi disiapkan oleh masyarakat, disentuh oleh Kameluh Selung dengan ujung kakinya dan babi itu berubah jadi batu,"ujar Maria Magdalena selaku produser pementasan sendratari.
Kameluh kembali ke hutan meninggalkan Hendun. Sedih, marah dan kecewa bercampur di pikiran Hendun. Tak bisa hidup tanpa pasangan yang amat dicintai. Ia memutuskan menyusul ke dalam hutan dan meninggalkan orang tua serta warga desa.
"Hendun membawa ayam jantan dan gerantung (gong) sebagai bekal menyusul sang istri ke alamnya,"tutur
Suara kokokan ayam di pagi hari dan bunyi gong pada senja hari masih terdengar sayup-sayup sekitar hutan. Namun, suara itu mulai pudar dan hilang. "
Sorak tepukan tangan dari penonton ramai menyaksikan pementasan drama tari pada malam itu. Sukses memukau jejeran masyarakat yang hadir.
Sementara itu, Ardi Kenzu Anarta salah berperan sebagai warga desa di panggung itu menyampaikan rasa syukur mendalam atas apresiasi dari masyarakat kepada dirinya dan semua penari.
Ia dan teman seniman lainnya merasa bahagia dan senang dapat menyampaikan pesan moral tersebut melalui olahan karya dalam bentuk pementasan tari ini.
Penata koreografer ini berharap semoga dengan diangkatnya legenda Batu Bawui ini dapat menumbuhkan rasa kecintaan masyarakat terhadap budaya lokal kalteng. Karena kisah dan legenda yang tersebar di kalteng sendiri masih banyak belum di ketahui.(ram)
Editor : Administrator