Kabar Terbaru Hukum & Peristiwa Kabar Kalteng Ekonomi & Bisnis Nasional Olahraga Hiburan Kesehatan Internasional Kuliner Wisata Pena Politik Pendidikan

Kisah Muhammad Andi, Juara Lomba Cukur Internasional; Nggak Ada Bayangan Bisa Menang, Bendera Merah Putih Pun Tak Dibawa

Husrin A. Latif S.Pd • Sabtu, 19 Juli 2025 | 11:30 WIB

 

JUARA INTERNASIONAL: Muhammad Andi pengusaha Barbershop Palangka Raya juara 1 Solo Barber Battle Of Bali Barber Expo 2025, Minggu (13/7).FOTO: SHAFA KAMILA/KALTENG POS
JUARA INTERNASIONAL: Muhammad Andi pengusaha Barbershop Palangka Raya juara 1 Solo Barber Battle Of Bali Barber Expo 2025, Minggu (13/7).FOTO: SHAFA KAMILA/KALTENG POS
 

DI tengah hiruk pikuk dunia pangkas rambut yang kini menjelma industri kreatif, kisah Muhammad Andi pria asal Batulicin yang merantau ke Palangka Raya menjadi sosok inspiratif. Tak banyak yang tahu, di balik prestasinya menyabet juara pertama lomba cukur internasional di Bali, tersimpan perjalanan hidup yang penuh liku.

 

FITRI SHAFA KAMILA, Palangka Raya

 

RUANGAN berukuran 3x4 yang berlapis cat putih itu jadi saksi perjuangan Andi dalam menjajaki karir sebagai seorang tukang pangkas rambut konvensional hingga jadi profesional barbershop seperti saat ini. Tak melanjutkan Sekolah Menengah Pertama karena alasan biaya jadi faktor utama dirinya harus bertahan hidup dan masuk dalam pergaulan bebas di kalangan anak punk.

 

“Saya dulu anak punk. Pernah hidup di jalanan, tidur di pinggir toko, ikut konser, bahkan gak lulus SMP,” ujar Mas Andi mengenang masa lalunya saat ditemui di Barbershop Bee (Instagram https://www.instagram.com/barberbee.pky?igsh=ZHdqeWYyMjd3a2c3, Minggu (13/7/2025).

 

 

Semula ia menekuni cukur bukan sebagai pekerjaan, tapi sebagai seni dan bentuk ekspresi diri sejak usia muda dan masih tinggal bersama orang tuanya di Batulicin, Provinsi Kalimantan Selatan. Sebab, pada saat bergabung dengan teman-temannya di komunitas anak punk yang sedang mengadakan kegiatan atau event mereka kerap mempersiapkan diri untuk tampilan yang khas mulai dari penataan rambut, aksesoris, hingga pakaian.

 

Dari situlah bakatnya mulai tumbuh. Andi yang memiliki kemampuan dalam penataan rambut sering kali membantu teman di komunitas dalam mendukung penampilan mereka seperti memotong rambut dan menata gaya rambut yang beragam model.

 

“Saya sering nyukur teman-teman, bikin mohawk, igrat-igrat rambut kalau ada konser,” ceritanya.

 

Seiring bertambah usia, pemikiran dirinya tentang kehidupan juga mulai terbuka dan semakin luas dalam memandang segala sesuatu terutama keprihatinan dirinya terhadap kondisi orang tuanya yang kian menua.

Ada rasa khawatir jika dirinya dalam kondisi yang tidak berpenghasilan dan belum dapat membahagiakan orang tua serta tidak mampu mengurus di saat kesehatannya yang sudah tidak sekuat dulu.

 

Sekitaran tahun 2012 pada akhirnya ia memutuskan untuk berubah ke arah lebih baik dan bersamaan dengan perjalanan tersebut ia menemukan tambatan hati yaitu seorang wanita yang kini jadi ibu dari dua anak perempuannya.

Kehidupannya yang lahir dari orang biasa mencoba mengadu nasib di kota orang dengan mengajak sang istri untuk merantau ke Palangka Raya.

 

Meskipun awal mulanya karir tidak berjalan mulus sempat bergonta ganti kerjaan dan pada akhirnya memantapkan diri membuka usaha pangkas rambut dari modal seadanya yang dikumpulkan terus menerus sembari untuk menambah ilmu.

Yakni dengan mengikuti pelatihan, seminar dan pertemuan untuk kelas barbershop yang diadakan di nasional maupun regional membawa Andi kini jadi seorang pengusaha dan sudah memiliki setidaknya 5 cabang barbershop.

 

Ia tidak hanya dikenal ramah tapi juga menciptakan lapangan pekerjaan bagi kalangan anak muda khususnya yang tidak melanjutkan sekolah dan membantu untuk bisa memperoleh skill sebagai bekal jika suatu saat ingin membuka usaha serupa. Bukan omongan belaka, jejeran sertifikat bertengger di dinding penuh dengan kejuaran yang isi oleh para karyawan Andi.

 

"Alhamdulillah bisa mencetak SDM baik yang bergerak sesuai dengan fashionnya terutama di bidang style rambut, walaupun saya pribadi yang sebagai pemilik belum punya kejuaraan pada saat itu," ungkapnya sambil tertawa.

 

Dari sana, ia belajar dan terus meng-upgrade diri. Ia mengikuti sekolah barber, seminar ke Bali, Jakarta, hingga merencanakan pelatihan ke Malaysia. Salah satu misi besarnya adalah mempertahankan kualitas.

 

Hingga muncul perlombaan di tingkat internasional untuk para barber man yang diadakan di Bali. Andi pun mencoba peruntungan dengan mengikuti lomba tersebut. Dalam mengikuti ajang tersebut ia secara serius berlatih dan menyiapkan konsep dalam kontes potong rambut karena penilaian kali ini spesial oleh juri dari orang yang sudah jelas memiliki skill dan kredibilitas tinggi.

 

Lomba internasional yang ia menangkan bukan ajang sembarangan. Diikuti oleh 50 peserta dari berbagai negara, termasuk Thailand dan Mongolia yang masing-masing menduduki peringkat kedua dan ketiga.

 

“Saya ikut kategori solo, bukan tag team. Penjurinya enam orang, lima dari luar negeri,” ujarnya.

 

Andi tampil beda dalam ajang tersebut, ia mengusung tema budaya Dayak dengan potongan cukur yang membentuk siluet burung enggang—ikon khas Kalimantan. Konsep yang matang ini mengantarkannya menjadi juara pertama. “Kreativitas itu penting, saya pengen tampil sedikit berbeda,” tuturnya.

 

Tidak pernah sedikitpun dalam dirinya membayangkan akan menjadi seorang juara bahkan menempati urutan pertama. Namun, fakta lapangan membuktikan kreatifitasnya berhasil menjuarai perlombaan dan memikat hati para juri yang melihat hasil karyanya. Saat namanya diumumkan, suasana pecah. Tangis haru pecah di antara teman-teman barber dari Kalimantan.

 

“Gak ada bayangan menang sama sekali. Saya bahkan gak bawa bendera Indonesia,” ujarnya sambil tertawa.

 

Meski menang, perjuangan menuju kompetisi itu tidak mudah. Semua biaya ia tanggung sendiri. Sebelum keberangkatan ke Bali, ia telah mengajukan beberapa proposal kepada dinas maupun pemerintah agar kiranya dapat memberikan dukungan kepada putra putri daerahnya meskipun bukan sebagai atlet namun ia berangkat membawa nama Indonesia sekaligus daerah.

 

“Saya sempat bikin proposal ke pemerintah daerah, tapi gak bisa lanjut karena kurang surat pengantar,” katanya.

 

Berangkat tanpa sponsor, ia merogoh kocek pribadi, bahkan menyewa kostum Dayak dengan harga Rp500 ribu per hari. Ia menyiasati kekurangan dengan membuat sendiri sebagian atribut.

 

“Aku bikin sendiri dari bahan seadanya, total bisa hemat sejuta,” ucapnya bangga.

 

Perjalanan hidup pria 37 tahun ini tak lepas dari support keluarga. Walaupun ia berangkat ke Bali tanpa didampingi oleh istri dan anak-anaknya. Namun berdasarkan pengakuanya, lomba yang diikutinya bisa berjalan lancar dan hatinya saat itu begitu damai.

 

 “Istri dan anak itu support sistem utama saya. Bahkan saat lomba, meski gak ikut, mereka kirim doa dari rumah. Pas menang, istri saya nangis,” kenangnya.

 

Bagi pria kelahiran tahun 1988 ini menceritakan filosofi hidup yang dianutnya tidak lepas dari pengalaman bersama anak punk, hidup sebagai anak pang mengajarkan nilai-nilai solidaritas dan kesetaraan.

 

 “Pang itu bukan cuma soal penampilan urakan. Kami belajar menghargai sesama, saling bantu,” ujarnya.

 

Ia memulai semuanya dari nol. Sempat menjadi sales, hingga akhirnya memutuskan membuka barbershop kecil. Dua tahun pertama nyaris tanpa kemajuan, namun ia tak menyerah. Kini, ia jadi panutan bagi para barber muda. Tak hanya itu, brand-brand barbering mulai melirik.

 

“Titik baliknya saat saya ikut workshop. Baru sadar, ternyata banyak yang harus dibenahi, dari pelayanan sampai konsep tempat,” ungkapnya. Pelan tapi pasti, usahanya berkembang.

 

Menurutnya, ini bukan soal materi semata dirinya berharap pemerintah bisa lebih mendukung pelaku kreatif yang bawa budaya ke level internasional. Kemenangan itu menjadi kado ulang tahun ke-10 usahanya.

 

“Saya mulai usaha November 2015, jadi ini kayak penutup satu dekade yang manis,” katanya.

 

Kisahnya adalah bukti bahwa perubahan besar bisa dimulai dari langkah kecil. Dari anak pang hingga menjadi juara dunia, Andi membuktikan bahwa semangat, kerja keras, dan kreativitas tak pernah mengkhianati hasil. (*/ala)

Editor : Husrin A. Latif S.Pd
#bali #Muhammad Andi #Barber Battle Of Bali Barber Expo 2025 #lomba cukur internasional #barbershop