Tika salah satu pelaku UMKM yang merasakan dampak gelaran Huma Betang Night yang digagas oleh Gubernur Kalteng H Agustiar Sabran. Berkat event yang rutin digelar sekali sepekan ini, produk jamu racikannya semakin dikenal dan menjangkau banyak kalangan.
M RIFQI PADILA, Palangka Raya
USAHA Tika ini dikenal dengan brand Dapur Jamu Riska perpaduan nama anaknya, Riski, dan nama dirinya, Tika. Ini sebagai simbol harapan dan keberlanjutan. Sejak 2018, Tika memutuskan meracik jamu dari resep keluarga yang diwariskan turun-temurun.
“Saya besar dengan jamu buatan nenek dan ibu, rasanya khas, dan sekarang susah dicari yang benar-benar cocok di lidah,” tutur Tika, Sabtu malam (26/7/2025).
Dari situ, ia mulai menyeduh kembali warisan lama, lalu mengemasnya agar diterima lidah generasi baru. Dari sebuah dapur kecil di rumahnya, Tika meracik warisan yang sudah turun-temurun: jamu. Awalnya ia hanya membuat dalam bentuk cair kunyut asam, kunyit sirih, hingga campuran khusus seperti kunyit asam sirih dengan manjalani.
Namun seiring waktu, Tika mulai berinovasi. Ia mengubah bentuk jamu menjadi serbuk instan yang mudah diseduh kapan saja, dengan varian seperti beras kencur, temulawak, hingga gujamer.
Inovasi tak berhenti di situ. Dia mencoba mendekatkan jamu ke selera generasi muda dengan menciptakan jamu latte. Seperti kunyit latte dan beras kencur latte yang disajikan dingin, lengkap dengan susu segar dan es batu, layaknya kopi kekinian.
Harganya pun terjangkau untuk berbagai kalangan. Produk cair dijual mulai dari Rp15.000, sementara serbuk instan dalam kemasan 150 gram dipasarkan seharga Rp40.000. Untuk versi latte, cukup merogoh kocek Rp13.000 hingga Rp15.000 tergantung tambahan rasa.
Melalui kreativitas dan cita rasa, Tika mengemas tradisi menjadi gaya hidup, membuktikan bahwa jamu bisa tetap hidup di tengah tren yang terus berubah.
Dari deretan produk yang ditawarkan, ada beberapa yang selalu jadi incaran pelanggan. Untuk varian cair, kunyit asam dan kunyit asam sirih dengan manjakani jadi favorit karena rasanya yang menyegarkan sekaligus bermanfaat bagi kesehatan perempuan.
Sementara dalam bentuk serbuk, kunyit sirih dan gujamer paling banyak diminati karena praktis diseduh kapan saja.
Respons pasar pun cukup menggembirakan. Banyak pelanggan memuji rasa jamu buatan Tika yang dianggap enak, manisnya pas, kental, dan menyegarkan.
Bahkan, inovasi jamu latte terbukti berhasil menarik perhatian anak-anak muda yang biasanya enggan minum jamu. Dapur Jamu Riska seolah membuka jalan baru, memperkenalkan rempah-rempah leluhur dengan cara yang lebih kekinian dan akrab bagi generasi baru.
“Rasanya pas di lidah saya yang sebenarnya kurang suka jamu,” kata Yusuf, seorang pembeli yang ditemui saat car free night.
Meski belum punya toko permanen, dapur kecil di rumah Tika jadi pusat segala aktivitas produksinya. Di ruang itulah ia merebus bahan-bahan alami, mengeringkan rempah-rempah, hingga mengemas jamu dalam bentuk cair dan serbuk siap edar.
Semua dikerjakan secara mandiri, dengan perhatian pada kebersihan dan konsistensi rasa agar tetap terjaga kualitasnya.
Untuk menjangkau lebih banyak pembeli, Tika menggandeng beberapa mitra toko dan reseller di berbagai titik di Palangka Raya. Tapi ajang-ajang publik seperti Car Free Day dan Car Free Night tetap menjadi ladang promosi yang paling efektif.
Di sana, jamu-jamu racikannya tak hanya dijual, tapi juga dicicipi, dikenalkan, dan dibicarakan langsung oleh pelanggan baru maupun setia. “Kalau lewat event seperti ini, penjualan bisa naik dua sampai tiga kali lipat,” ujar Tika.
Saat ini, omzet bulanannya berkisar antara Rp7 juta hingga Rp8 juta.
Namun di balik aroma rempah yang menenangkan dan senyum ramah setiap kali melayani pembeli, Tika menyimpan tantangan khas pelaku usaha rumahan.
“Tantangannya ya di waktu. Kadang harus bagi tenaga antara urus anak, rumah, dan usaha. Tapi karena ini saya suka dan percaya jamu itu warisan, saya jalanin pelan-pelan,” ujarnya.
Tantangan lain datang dari sisi teknis dan logistik. Di Palangka Raya, bahan pendukung seperti botol kaca dan standing pouch tidak selalu tersedia.
Tika harus memesan semuanya dari luar pulau, yang otomatis menambah ongkos kirim dan waktu tunggu. Di sisi lain, proses pengurusan perizinan seperti BPOM juga semakin ketat, menjadi tantangan tersendiri bagi pelaku UMKM rumahan seperti dirinya yang harus membagi waktu antara produksi dan urusan administrasi.
Meski begitu, Tika tak pelit ilmu. Ia terbuka bagi siapa saja yang ingin belajar meracik jamu.
Keikut sertaannya di ajang Car Free Day dan Car Free Night juga menjadi titik penting dalam perjalanan Dapur Jamu Riska. “Event seperti ini sangat membantu. Omzet naik, produk dikenal, dan yang paling penting ekonomi keluarga bisa ikut bergerak,” ucapnya. (*/ala)