Kabar Terbaru Hukum & Peristiwa Kabar Kalteng Ekonomi & Bisnis Nasional Olahraga Hiburan Kesehatan Internasional Kuliner Wisata Pena Politik Pendidikan

Warga Kalteng Harus Tahu, Inilah Jejak Ilmu dan Kitab Alm Abah Guru Mahmud Hasil

Agus Pramono • Sabtu, 6 September 2025 | 13:43 WIB

 

Alm KH Mahmud Hasil dan empat kitab karya Alm KH Mahmud Hasil.
Alm KH Mahmud Hasil dan empat kitab karya Alm KH Mahmud Hasil.
PALANGKA RAYA – Sosok Abah Guru KH Mahmud Hasil akan selalu melekat di hati umat di Bumi Tambun Bungai.

Ulama kharismatik yang wafat pada 19 Februari 2025 di usia 78 tahun itu dikenang bukan hanya karena kedalaman ilmunya, tetapi juga keteguhan hatinya dalam menebarkan ajaran tasawuf.

Hingga akhir hayat, Abah Guru tak berhenti mengajar. Ia mengajarkan ilmu tasawuf sampai akhirnya mendirikan Majelis Ta’lim Ubudiyah di Jalan Jati Indah, Palangka Raya.

Terhitung ada empat kitab yang dikarang oleh ulama yang dikenal dengan panggilan Guru Hasil ini, yakni Simpanan Berharga, Sarantang Saruntung, Waja Sampai Kaputing dan Kayuh Baimbai.

Arsyadi, menantu dari anak ke-8 Abah Guru KH Mahmud Hasil menceritakan, semasa hidupnya Guru Hasil dikenal sabar, rendah hati, dan tak pernah berhenti mengajarkan ilmu agama.

“Walaupun sudah tuha, Abah kada pernah berhenti mengajar. Setiap hari pasti ada saja orang datang meminta tuntunan,” ujar Arsyadi.  

Bagi keluarga, Abah Guru bukan hanya ulama bagi masyarakat, tapi juga teladan dalam mendidik anak-anaknya. Ia menanamkan disiplin, cinta ilmu, sekaligus kelembutan dalam kehidupan sehari-hari.

Cara beliau mendidik pun jauh dari paksaan. Dalam urusan pendidikan, Abah Guru selalu memberi kebebasan kepada anak-anaknya untuk memilih jalannya sendiri, apakah ingin menempuh pendidikan umum ataupun pondok pesantren, asalkan tetap menjaga nilai-nilai agama sebagai dasar hidup.

“Abah kada pernah maksa anak-anak. Mau sekolah umum atau pondok, silakan aja, asal agama tetap jadi pegangan,” ucap Arsyadi.

Abah Guru juga dikenal sangat adil kepada keempat belas anaknya empat laki-laki dan sepuluh perempuan. Tidak pernah sekalipun beliau membeda-bedakan kasih sayang atau perhatian.

Semua mendapat tempat yang sama di hatinya, sehingga anak-anak tumbuh dengan rasa hormat sekaligus cinta yang mendalam kepada sosok ayah yang penuh keteladanan itu.

“Abah itu adil, kada pernah pilih kasih. Baik laki-laki maupun perempuan, sama jua disayanginya,” tambah Arsyadi.

“Anak-anak dibimbing dengan kasih sayang, tapi juga dengan aturan yang tegas. Abah selalu ingin anaknya tumbuh dengan ilmu dan akhlak,” lanjutnya.

Kehidupan rumah tangganya pun menjadi contoh yang indah. Abah Guru dikenal sangat menghormati dan menyayangi istrinya.

Hubungan mereka penuh kelembutan, saling mendukung dalam suka maupun duka. Arsyadi bahkan mengaku sering merasa iri melihat keromantisan Abah Guru dan istrinya.

“Abah tu romantisnya luar biasa dengan bini sidin, ulun ja melihat sidin begayaan dua laki bini rasa iri. Ibaratnya ulun tu di perlihatkan gambaran romantisnya Habibi dan Ainun,” cerita Arsyadi dalam Bahasa Banjar.

Bagi para santri, Abah Guru bukan hanya guru, tapi juga orang tua rohani. Nasehat yang kerap beliau ulangi adalah pentingnya menuntut ilmu dengan hati yang bersih.

“Abah menyampaikan,Al ilmu nuurun wal fahmu min Allah artinya ilmu itu cahaya dan pemahaman datangnya dari Allah. Itu pesan yang selalu kami pegang,” ungkap Mahmud Akhil, salah seorang santri.

Kitab-kitab karya Abah Guru Mahmud Hasil, seperti Simpanan Berharga, Sarantang Saruntung, Waja Sampai Kaputing, dan Kayuh Baimbai, lahir dari proses panjang perenungan dan pengajaran.

Menurut keluarga, setiap kitab biasanya ditulis dalam kurun waktu antara enam bulan hingga satu tahun.

“Abah itu menulis dengan hati-hati, pelan-pelan, penuh ketelitian. Jadi memang waktunya panjang,” jelas Arsyadi.

Meski hingga kini anak-anak kandung beliau belum ada yang secara langsung melanjutkan pengajaran, majelis Abah tetap hidup dan terisi berkat kehadiran anak angkat beliau, Ustaz H. Achmad Khairudin, yang dipercaya meneruskan perjuangan sang guru.

Dari majelis kecil di Jalan Jati Palangka Raya, ilmu dan teladannya menyebar hingga ke berbagai daerah Kalimantan.

Bagi keluarga dan murid-muridnya, beliau bukan hanya ulama, tetapi juga panutan yang menanamkan cinta, kesabaran, dan keyakinan bahwa ilmu harus terus diamalkan hingga akhir hayat.(*rif/zia/ala)

Editor : Agus Pramono
#KH Mahmud Hasil #kalteng #pendidikan #pondok pesantren #ulama #guru #kitab