PALANGKA RAYA-Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kalteng Prof. H. Khairil Anwar, bahwa sosok Alm Guru Mahmud Hasil merupakan ulama karismatik asal Kalimantan.
KH Mahmud Hasil menimba ilmu dari sejumlah ulama besar di Kalimantan Selatan. Di antaranya para guru di Pondok Pesantren Darussalam Martapura, kemudian kepada Guru Sekumpul (KH Muhammad Zaini Abdul Ghani), Guru Ramli di Bati-Bati, hingga Guru Syukur di Banjarmasin.
Dari para ulama inilah beliau mendapatkan fondasi keilmuan yang luas, mulai dari fikih, tauhid, hingga tasawuf.
“Kalau kita perhatikan, ceramah-ceramah beliau memang banyak bernuansa tasawuf. Itu juga tercermin dari karya-karya tulisnya yang berharga, seperti Serantang Seuntung dan beberapa kitab lain yang membahas mulai dari fikih, tauhid, hingga tasawuf,” tutur Prof Khairil.
Salah satu ciri khas karya KH Mahmud Hasil adalah penggabungan antara aspek syariat dan hakikat.
Dalam kitabnya, beliau tidak hanya membahas ibadah formal seperti fikih salat dan puasa, tetapi juga mengupas dimensi ruhaniah yang lebih mendalam, seperti konsep Nur Muhammad dan Martabat Tujuh.
“Pembahasan tentang Nur Muhammad dan Martabat Tujuh itu memang sangat tinggi. Tidak semua orang bisa langsung memahami. Itu perlu kedalaman ilmu dan bimbingan guru. Kalau dibaca lepas oleh orang awam tanpa dasar akidah dan tauhid yang kuat, bisa menimbulkan salah paham,” jelasnya.
Prof. Khairil menambahkan, KH Mahmud Hasil sejalan dengan tradisi ulama besar Nusantara, seperti Syekh Muhammad Nafis al-Banjari yang menulis Ad-Durrun Nafis. Dalam kitab itu, Syekh Nafis menegaskan bahwa ajaran tasawuf tingkat tinggi hanya diperuntukkan bagi rosikh, yakni orang-orang yang mendalam ilmunya. Hal yang sama berlaku bagi karya KH Mahmud Hasil.
“Itu sebabnya kitab beliau lebih cocok untuk kalangan menengah ke atas dalam ilmu agama. Kalau orang awam membaca tanpa bimbingan, bisa bingung. Karena itu penting ada guru yang membimbing. Kalau hanya ingin belajar syariat, sudah banyak kitab fikih lain. Tapi kalau sudah masuk tasawuf tingkat tinggi, seperti Nur Muhammad dan Martabat Tujuh, maka harus betul-betul berguru,” tegasnya.
Menurut Ketua MUI Kalteng ini, ajaran tasawuf KH Mahmud Hasil memiliki kedekatan dengan pemikiran Ibnu Arabi, terutama konsep Wahdatul Wujud. Namun, beliau tetap menekankan keseimbangan antara syariat dan hakikat.
“Ibarat ban kendaraan, ban luar harus kuat dulu, yakni syariat, akidah, dan tauhid, baru kemudian ban dalam, yaitu tasawuf. Kalau dibalik, justru berbahaya,” ujarnya memberi perumpamaan.
Di balik kedalaman ilmunya, KH Mahmud Hasil juga dikenal sebagai sosok sederhana dan mengayomi umat. “Akhlaknya sangat baik. Beliau dekat dengan masyarakat, rendah hati, dan tidak pernah meninggalkan prinsip dasar agama. Sosoknya patut menjadi teladan,” ungkapnya.
Meski sempat muncul kekhawatiran bahwa sebagian isi kitab beliau bisa disalahpahami, Prof. Khairil menegaskan bahwa secara umum karya-karya KH Mahmud Hasil sangat berharga. “Selama ada bimbingan dari guru, kitab itu membawa manfaat besar. Yang penting dasar akidah dan fikih harus kuat dulu, baru kemudian mendalami tasawuf yang lebih tinggi,” pungkasnya. (*rif/zia/ala)