Makam Syekh Muhammad Ghazali Arsyad Al Banjari dan istrinya selalu ramai didatangi peziarah. Makam tersebut terletak di Gang Rambai 6 Jalan Ir H Juanda, Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). Ia dikenal sebagai ulama yang telah mengajarkan ajaran Islam di sekitar Kota Sampit pada zaman dahulu.
MIFTAHUL ILMI, Sampit
SYEKH Muhammad Ghazali Arsyad Al Banjari lahir di Banjarmasin tahun 1880, ulama yang akrab dengan panggilan Datuk Ghazali merupakan salah satu keturunan dari Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari, seorang ulama karismatik dari Kalimantan Selatan yang kerap dikenal sebagai Datuk Kalampayan.
Ayahnya adalah Syekh Mahmud. Dahulu, Kesultanan Banjar mengirimkan Datuk Ghazali ke tanah suci Makkah untuk menimba ilmu agama.
Saat itu, Indonesia masih berada di bawah jajahan Belanda. Selama lebih dari 10 tahun di Makkah, Datuk Ghazali banyak menimba ilmu hingga sempat diminta menetap dan menjadi imam di sana.
“Beliau (Datuk Ghazali, red) belajar lebih dari 10 tahun di Makkah. Disekolahkan oleh Kesultanan Banjar. Memang zaman dahulu, Kesultanan Banjar sering mengirimkan murid ke Makkah untuk belajar,” ujar cicit Datuk Ghazali, Muhammad Mulianur Arsyad, saat dibincangi Kalteng Pos di kediamannya, Jumat (5/9/2025).
Usai lama menimba ilmu di Makkah, Datuk Ghazali kemudian diminta Kesultanan Banjar untuk kembali ke tanah kelahirannya. Di sana, Datuk Ghazali menikah dengan dua perempuan, yaitu Norsam dan Antung Mascape.
Setelah sempat menetap, ia kembali ditugaskan oleh Kesultanan Banjar untuk berdakwah di Kota Sampit.
“Beliau ditugaskan ke Sampit dan membawa istri keduanya. Di sini (Sampit, red) sebelumnya juga sudah ada kakak sepupunya, Syekh Abdurrahman bin Soleh, yang lebih dahulu mengajar di Sampit,” jelasnya.
Selama di Sampit, Datuk Ghazali hidup dalam kesederhanaan. Ia menolak berbagai fasilitas yang diberikan kepadanya. Datuk Ghazali hanya ingin menyebarkan ajaran Islam secara mendetail kepada masyarakat.
Di Sampit, Datuk Ghazali mengajarkan beberapa ilmu Islam seperti Fikih, Ilmu Makrifat, hingga Ilmu Tafsir. Dahulu, ajaran agama Islam memang tidak dalam. Sehingga kehadiran Datuk Ghazali dinilai sangat perpengaruh terhadap ajaran Islam sekarang.
“Memang dahulu Islam sudah masuk. Tetapi orang-orang hanya tahu kulitnya saja. Beliau inilah yang mengajarkan Islam hingga detail-detail kecilnya. Misalnya bagaimana cara membasuh tangan saat wudhu, lalu ilmu tafsir dan makrifat,” katanya.
Datuk Ghazali dan kakak sepupunya kemudian membagi wilayah dakwah mereka. Datuk Ghazali berfokus di wilayah Kecamatan Mentawa Baru (MB) Ketapang hingga Kecamatan Baamang. Sementara sepupunya berdakwah di wilayah MB Ketapang hingga Desa Pelangsian.
Hasilnya, dakwah mereka tidak hanya sukses menyebarkan ajaran agama, tetapi juga mampu menjangkau pelosok. Banyak warga dari hulu yang awalnya tidak mengenal Islam akhirnya masuk Islam.
“Dahulu orang di pedalaman belum tahu Islam. Jadi beliau juga banyak memasukkan orang ke agama Islam. Tambah lagi, murid-murid beliau juga banyak menyebar ke pelosok Sampit,” bebernya. (*/bersambung/ala)
Editor : Ayu Oktaviana