PALANGKA RAYA-Fenomena Gerhana Bulan Total (GBT) atau yang populer dikenal sebagai Blood Moon menghiasi langit Indonesia pada Minggu malam (7/9/2025).
Bulan tampak berwarna kemerahan, menciptakan pemandangan langit yang langka sekaligus memikat perhatian warga.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melalui Prakirawan Chandra menjelaskan bahwa gerhana bulan kali ini merupakan bagian dari siklus Saros 128.
“Gerhana bulan tahun 2025 ini termasuk dalam siklus Saros 128, di mana fenomena ini berulang setiap kurang lebih 18 tahun sekali dengan pola yang hampir identik,” terangnya, Senin (8/9/2025).
GBT adalah kondisi ketika bumi berada tepat di antara matahari dan bulan, sehingga cahaya matahari yang biasanya menerangi bulan terhalang sepenuhnya.
Akibatnya, bulan tampak berwarna kemerahan yang dikenal dengan istilah blood moon.
Fenomena alam ini tidak hanya menjadi tontonan indah, tetapi juga memiliki pengaruh terhadap lingkungan, khususnya pada pasang surut air laut.
BMKG menyebutkan, gerhana bulan total dapat memicu pasang naik air laut yang lebih tinggi dari biasanya.
“Dampak dari gerhana bulan total bagi kehidupan manusia adalah pasang naik air laut yang lebih tinggi dibandingkan hari-hari biasa, baik ketika purnama maupun bulan baru,” jelasnya.
Salah seorang warga Palangka Raya, Reno Saputra, mengaku sangat antusias menantikan momen tersebut.
Menurutnya, meski gerhana bulan pernah terjadi, rasa penasaran tetap muncul setiap kali fenomena ini hadir.
“Menunggu cukup antusias karena fenomena Blood Moon cukup jarang terjadi, walau beberapa tahun terakhir juga sempat ada gerhana. Tapi tetap ada rasa penasaran untuk melihat secara langsung,” ujarnya.
Reno menuturkan, dirinya tidak melakukan persiapan khusus untuk menyaksikan gerhana bulan.
Ia hanya melihat langsung dengan mata telanjang dan mengabadikan momen tersebut menggunakan kamera ponsel.
“Secara sistematis tidak ada hal yang dipersiapkan karena langsung melihat dengan mata telanjang tanpa alat bantu, dan hanya memotret dengan kamera ponsel saja,” ungkapnya.
Terkait anggapan sebagian masyarakat yang mengaitkan gerhana dengan makna khusus, Reno menilai fenomena alam ini lebih kepada bukti nyata bahwa alam semesta memiliki dinamika tersendiri.
“Secara eksplisit saya sendiri tidak meyakini apapun. Hanya menganggap bahwa gerhana bulan darah ini sekadar fenomena normal dari alam, dan sebagai bukti bahwa alam juga hidup sama halnya dengan makhluk hidup yang ada,” katanya. (zia)
Editor : Ayu Oktaviana