Kabar Terbaru Hukum & Peristiwa Kabar Kalteng Ekonomi & Bisnis Nasional Olahraga Hiburan Kesehatan Internasional Kuliner Wisata Pena Politik Pendidikan

Ini Dia Sosok Analisa SPd, Juara I Guru Berprestasi Jenjang PAUD Se-Kalteng 2025

Agus Pramono • Senin, 29 September 2025 | 09:11 WIB

Analisa SPd (dua dari kanan) saat menerima penghargaan juara I guru PAUD berprestasi di Swiss-Belhotel Danum Palangka Raya, Selasa malam (16/9/2025). DISDIK KALTENG
Analisa SPd (dua dari kanan) saat menerima penghargaan juara I guru PAUD berprestasi di Swiss-Belhotel Danum Palangka Raya, Selasa malam (16/9/2025). DISDIK KALTENG

 

Analisa SPd menorehkan prestasi membanggakan di tingkat provinsi Kalteng. Berkat inovasi Huma Coding Itah, berhasil menghantarkannya meraih juara pertama pada ajang seleksi guru berprestasi jenjang PAUD.

BUDHI SEPRATAMA PUTRA, Palangka Raya

ANALISA adalah guru di TK Al Iman Palangka Raya, di balik kesibukannya sebagai guru, Analisa juga aktif sebagai pelaku UMKM dengan brand Putri Souvenir yang memproduksi amplang dan kerupuk ikan gabus khas Kalimantan. Usaha tersebut tidak hanya menopang ekonomi keluarga, tetapi juga memberdayakan ibu-ibu rumah tangga di lingkungannya.

Nama Analisa makin dikenal setelah keluar sebagai juara pertama pada ajang guru berprestasi tingkat Kalteng. Kegiatan yang digelar pada 14-17 September 2025 tersebut diikuti guru se-Kalteng, ajang bergengsi ini digelar di Swiss-belhotel Danum Palangka Raya.

Kemenangan ini bagi Analisa bukan semata pencapaian pribadi, melainkan kebanggaan untuk sekolah, anak-anak didik, rekan guru dan seluruh masyarakat Palangka Raya.

“Perasaan saya sungguh luar biasa haru, bangga, dan bersyukur. Ini bukan hanya tentang kemenangan pribadi, tetapi juga kemenangan bagi kota Palangka Raya dan anak-anak didik saya,” ucap Analisa.

Perjalanan menuju prestasi itu tidak instan. Founder dari Putri Souvenir yang bergelut dibidang kuliner ini bercerita, awal mula lahirnya inovasi berangkat dari keresahan melihat anak-anak PAUD yang sejak dini sudah akrab dengan gadget.

Sementara kemampuan berpikir logis mereka belum berkembang optimal. Dari situlah tercetus ide membuat media pembelajaran non-digital bernama Huma Coding Itah.

Proses penciptaan media itu melalui jalan panjang. Ia melakukan analisis kebutuhan, menyusun rancangan berdasarkan teori Piaget, lalu mengembangkan dari bahan-bahan sederhana yang ramah anak. Media tersebut terus diuji dan diperbaiki, hingga akhirnya bisa dipakai secara efektif di kelas.

Inovasi ini bukan sekadar alat bermain, melainkan solusi nyata mengurangi screen time berlebih pada anak usia dini.

Bahkan, ia berhasil memadukan konsep berpikir komputasional dengan nilai kearifan lokal Huma Betang dan filosofi Belom Bahadat. Hal inilah yang menjadi nilai tambah hingga mampu meyakinkan dewan juri.

“Tantangan terbesarnya adalah meyakinkan dewan juri bahwa coding bisa diajarkan tanpa gadget. Butuh persiapan matang untuk membuktikan dampak nyata media ini bagi anak-anak,” ucapnya menegaskan.

Menurut wanita lulus S1 PG PAUD Universitas Palangka Raya (UPR), keunggulan Huma Coding Itah terletak pada konsep yang sederhana tapi berdampak besar.

Media ini mudah direplikasi, tidak bergantung pada teknologi mahal, dan bisa digunakan oleh siapa pun. Inilah yang membuatnya berbeda dengan inovasi lain.

Dukungan dari berbagai pihak juga menjadi kunci keberhasilannya. Ia menuturkan Dinas Pendidikan Kota Palangka Raya selalu memberi ruang bagi guru untuk berinovasi.
Rekan sejawat pun bahu membahu memberi masukan dalam pengembangan media ini. Tidak ketinggalan keluarga yang selalu memberi motivasi.

“Suami dan anak-anak adalah penyemangat terbesar saya. Tanpa mereka, mungkin saya tidak bisa fokus mengembangkan ide ini,” katanya tersenyum.

Meski sudah menorehkan prestasi bergengsi, ia tidak ingin berhenti berkarya. Target berikutnya adalah memperluas pemanfaatan Huma Coding Itah hingga ke sekolah-sekolah PAUD di daerah 3T Kalteng. Ia juga berencana membuat panduan implementasi agar bisa diakses lebih mudah oleh para guru.

“Jangan pernah takut berinovasi. Lihat keterbatasan sebagai peluang, dan kearifan lokal sebagai kekuatan. Setiap inovasi kecil yang kita lakukan di kelas akan membawa dampak besar bagi masa depan anak-anak kita,” pesannya. (*/ala)

 Kejurnas Sprint Rally. Foto Rahman Nor Wahyudi
Kejurnas Sprint Rally. Foto Rahman Nor Wahyudi
Photo
Photo
Photo
Photo
Editor : Ayu Oktaviana
#Huma Coding Itah #gadget #teknologi #palangka raya #ikan gabus #media pembelajaran #ekonomi keluarga #Screen Time #Sekolah PAUD #guru #Universitas Palangka Raya (UPR) #guru berprestasi #pelaku umkm