Kabar Terbaru Hukum & Peristiwa Kabar Kalteng Ekonomi & Bisnis Nasional Olahraga Hiburan Kesehatan Internasional Kuliner Wisata Pena Politik Pendidikan

Teater “Tjilik Riwut: A Message of Struggle” Hidupkan Kembali Kisah Sang Pahlawan Kalimantan Tengah

Agus Pramono • Sabtu, 18 Oktober 2025 | 09:00 WIB
Pertunjukan Teater “Tjilik Riwut: A Message of Struggle.ARIEF PRATHAMA/KALTENG POS
Pertunjukan Teater “Tjilik Riwut: A Message of Struggle.ARIEF PRATHAMA/KALTENG POS

 

Teater objek “Tjilik Riwut: A Message of Struggle”, Borneo Art Play menyalakan kembali api Isen Mulang, semangat pantang mundur sang pahlawan Kalimantan Tengah yang hidup dalam setiap gerak, bayangan, dan napas di atas panggung.

NOVIA NADYA CLAUDIA, Palangka Raya

Udara dingin yang menembus hening malam, bendera merah putih perlahan dikibarkan di halaman Paviliun Budaya Rumah Tjilik Riwut, Palangka Raya, Jumat (16/10/2025).

Tak ada musik, hanya suara nyanyian Indonesia Raya, dibalut kesunyian yang seakan membawa penonton menembus waktu, kembali ke masa ketika semangat perjuangan lahir dari kesederhanaan.

Malam itu, usai upacara bendera sederhana, penonton diarahkan untuk memasuki ruangan. Cahaya lampu temaram menyelimuti ruang Paviliun Budaya Rumah Tjilik Riwut.

Dalam keheningan yang khidmat, puluhan penonton duduk berhadapan dengan panggung sederhana.

Diawali dengan pemutaran film dokumenter, lagu dengan musik khas tempo dulu, bahkan tak ada gemuruh tepuk tangan. Hal tersebut justru engawali perjalanan batin menuju masa perjuangan.

Pertunjukan ini digelar dengan dukungan Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia melalui Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XIII Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan, sebagai bagian dari program Fasilitasi Pemajuan Kebudayaan Tahun 2025.

Di bawah arahan sutradara sekaligus penulis naskah Abdul Khafizd, dan produser Lusi Oklivtita, teater ini menghadirkan kisah perjuangan sang pahlawan nasional asal Kalimantan Tengah, Tjilik Riwut, dalam bentuk yang tak lazim, paduan antara teater interaktif, seni visual, tari, dan dokumenter sejarah.

Pertunjukan Teater “Tjilik Riwut: A Message of Struggle.ARIEF PRATHAMA/KALTENG POS
Pertunjukan Teater “Tjilik Riwut: A Message of Struggle.ARIEF PRATHAMA/KALTENG POS

Pertunjukan dimulai dengan atmosfer yang tak biasa, suasana ruang gelap menyerupai kelas sejarah di sekolah. Seorang guru muncul di depan murid-muridnya, yakni para penonton, membuka pelajaran tentang sejarah kemerdekaan.

Di layar, tayangan film dokumenter bergulir, menampilkan potongan peristiwa perjuangan rakyat Kalimantan yang terlambat menerima kabar proklamasi akibat blokade informasi oleh Sekutu.

Di tengah narasi itu, muncul beberapa tokoh tanpa suara, seperti penjual sayur, pembeli beras, dan seseorang yang kesal karena radionya rusak.

Mereka berkomunikasi dengan bahasa isyarat, hingga tiba-tiba suara Presiden Soekarno menggema membaca naskah Proklamasi melalui radio, momen yang seketika menggetarkan ruangan.

Ditambah lagi, masuk pemeran selanjutnya yang menjadi penjual koran. Berita mengenai kemerdekaan Indonesia tersaji disana, hingga teriakan Merdeka! menggelegar, menandakan pada saat itu masyarakat sangat bahagia tak tertahan.

“Penonton tidak hanya menonton, tapi juga diajak mengalami. Kami ingin menciptakan pengalaman yang lebih dekat, seolah mereka berada dalam situasi sejarah itu,” ujar Abdul Khafizd seusai pementasan.

Menurut Khafizd, ide utama pertunjukan ini berangkat dari keinginannya untuk menampilkan sisi lain Tjilik Riwut yang jarang dikenal publik.

“Selama ini, sosok Tjilik Riwut sering digambarkan hanya dari sisi mistis dan kepahlawanannya. Padahal beliau juga manusia biasa, punya masa muda, punya kisah cinta, punya perjuangan batin. Itu yang ingin kami angkat,” tuturnya.

Melalui tarian lembut di tengah panggung, ditampilkan pula kisah Tjilik Riwut muda yang berjuang memikat hati sang pujaan, sembari menyelipkan pesan tentang keteguhan hati dan semangat Isen Mulang pantang mundur dalam keadaan apa pun.

Pertunjukan berdurasi hampir dua jam ini membawa penonton menelusuri perjalanan Tjilik Riwut. Dari masa mudanya di Kasongan, Kabupaten Katingan, tempat ia lahir pada 2 Februari 1918, hingga perjuangannya memimpin operasi penerjunan pasukan payung pertama dalam sejarah TNI pada 17 Oktober 1947 di Kotawaringin.

Dikisahkan pula bagaimana Tjilik Riwut, yang semula berkarier sebagai jurnalis dan pemimpin redaksi Suara Pakat, menggunakan pena dan kata sebagai senjata perjuangan.

Dalam sejarahnya, Tjilik Riwut kemudian dipercaya menjadi Bupati Kotawaringin Timur dan akhirnya menjabat sebagai Gubernur pertama Kalimantan Tengah pada 1959.

Bersama masyarakat Dayak, ia membangun Pahandut yang kemudian menjadi Palangka Raya, ibu kota provinsi yang kini menjadi simbol kemajuan Bumi Tambun Bungai.

Menghayati makna Isen Mulang

Tak sekadar mengenang, “Tjilik Riwut: A Message of Struggle” juga menyampaikan refleksi mendalam bagi generasi muda.

“Harapan kami, anak-anak muda bisa menghayati makna Isen Mulang bukan hanya sebagai slogan, tapi sebagai sikap hidup sehari-hari,” kata Khafizd.

Untuk memperkuat pesan itu, di akhir pertunjukan para penonton diajak berdiskusi dan menulis catatan kecil mengenai makna perjuangan bagi mereka sendiri.

“Kami ingin sejarah tidak hanya dicatat oleh segelintir orang, tapi oleh semua yang hadir di ruangan ini,” tambahnya.

Pertunjukan Teater “Tjilik Riwut: A Message of Struggle.ARIEF PRATHAMA/KALTENG POS
Pertunjukan Teater “Tjilik Riwut: A Message of Struggle.ARIEF PRATHAMA/KALTENG POS

Salah satu pemeran, Muhammad Ali Muhda, yang berperan sebagai guru sejarah, mengaku peran tersebut menjadi tantangan besar baginya.

“Ini berat karena harus menyampaikan fakta sejarah yang tak boleh menyimpang. Saya banyak membaca naskah dan berdiskusi, bahkan sempat berbincang langsung dengan keluarga penerjun asli, termasuk Pak Emanuel Nuhan,” ujarnya.

Ia menuturkan kisah mengharukan tentang semangat para penerjun payung pertama Indonesia yang berangkat dengan perlengkapan seadanya.

“Mereka tidak pernah naik pesawat sebelumnya, tapi dengan tekad kuat mereka terjun demi menyatakan bahwa Kalimantan adalah bagian dari Indonesia. Semangat pantang menyerah itu luar biasa,” katanya dengan nada haru.

Proses kreatif pertunjukan ini memakan waktu sekitar tiga bulan. Tim Borneo Art Play menelusuri berbagai literatur, catatan sejarah, dan arsip lama sebelum merangkai naskah final.

Hasilnya bukan sekadar drama realis, melainkan sebuah pengalaman teater yang menggabungkan fantasi, permainan bayangan (shadow performance), tari, dan interaksi langsung dengan penonton.

“Konsepnya bukan sekadar menonton, tapi mengalami. Kami ingin membawa publik merasakan denyut semangat Tjilik Riwut,” ujar Khafizd menambahkan.

Di akhir pementasan, ketika layar perlahan menampilkan wajah Tjilik Riwut muda, ruangan kembali senyap. Suara narator terdengar pelan namun menggugah, “Kita dalam situasi apa pun, tetap pantang mundur. Percaya diri. Isen Mulang.”

Dan di antara redup cahaya panggung itu, semangat sang pahlawan seolah hidup kembali menyapa setiap hati yang hadir malam itu.(ram)

Photo
Photo
Editor : Ayu Oktaviana
#jurnalis #tempo dulu #pahlawan nasional #masyarakat dayak #Makna Perjuangan #rumah tjilik riwut #Bumi Tambun Bungai #Proklamasi #Tjilik Riwut #Perjuangan Rakyat #Dokumenter Sejarah #Isen Mulang #Pelestarian Kebudayaan #naskah proklamasi #Borneo Art Play #kotawaringin timur