Muhammad Faqih berhasil menjuarai lomba bercerita islami Bahasa Dayak. Kefasihannya menggunakan Bahasa daerah, dan penuh percaya diri saat tampil membuat penonton terpukau. Event ini digagas oleh Lembaga Seni Budaya Muslimin Nahdlatul Ulama (Lesbumi NU) Kalteng.
DHEA UMILATI, Palangka Raya
SUASANA ruangan tempat lomba bercerita Islami berbahasa Dayak siang itu terasa hangat sekaligus menegangkan. Satu per satu peserta tampil dengan penuh percaya diri.
Namun sorak kecil terdengar lebih riuh ketika giliran Muhammad Faqih, murid kelas VI SDN 5 Menteng, naik ke panggung.
Dengan pakaian khas adat dan intonasi penuh penghayatan, Faqih memukau penonton melalui kisah Islami yang disampaikan menggunakan bahasa Dayak Ngaju.
Cerita yang dibawakannya bukan sekadar kisah islami biasa. Di dalamnya terselip pesan moral tentang kebaikan, kejujuran, dan kasih sayang disampaikan dengan logat Dayak yang lembut dan ritmis, membuat seluruh ruangan seakan ikut hanyut dalam suasana.
Sesekali, penonton terlihat mengangguk, kagum dengan kefasihan bocah 12 tahun itu melafalkan bahasa ibu yang kini mulai jarang digunakan generasi muda.
Di akhir lomba, nama Faqih disebut sebagai Juara Pertama. Wajahnya berseri, sementara guru pembimbingnya, Laila Hayati, tersenyum bangga di barisan penonton. “Rasanya senang, tapi juga gugup (deg-degan),” ujar Faqih polos, sembari tertawa kecil saat ditemui usai lomba, Sabtu (18/10/2025).
Laila mengungkapkan bahwa proses menuju panggung kemenangan itu tidak singkat. “Kami cari anak yang punya potensi bercerita. Dari beberapa murid, Faqih menonjol karena ekspresi dan keberaniannya,” katanya dengan bangga.
Kerja sama orang tua dan pihak sekolah
Ia mengaku, naskah cerita dibuatnya sendiri, namun untuk versi bahasa Dayak Ngaju, ia bekerja sama dengan orang tua Faqih.
“Saya menyusun narasinya, tapi untuk menerjemahkan dan menyesuaikan bahasa Dayaknya, saya minta tolong orang tuanya. Mereka lebih paham. Jadi ini hasil kerja bersama antara sekolah dan keluarga,” jelasnya.
Setiap sore anak berusia 12 tahun itu berlatih. Dari pelafalan, ekspresi, hingga tempo suara, semua dilatih agar saat tampil, Faqih bukan sekadar membaca, tapi benar-benar bercerita.
“Latihan sekitar dua minggu. Kadang diulang-ulang sampai dia bisa menyampaikan dengan penghayatan,” kata Laila.
Meski berasal dari keluarga Dayak, Faqih mengaku sehari-hari jarang menggunakan bahasa Dayak di rumah. “Biasanya pakai bahasa Indonesia,” kata anak berkacamata itu.
Namun sejak kecil ia sudah mengenal bahasa Dayak, hanya saja tidak dibiasakan dalam percakapan sehari-hari. Itu sebabnya, latihan kali ini menjadi tantangan tersendiri.
“Yang susah itu pengucapan katanya. Kadang beda antara tulisan dan bacaannya. Mirip kayak bahasa Inggris, tulisannya gimana, bacanya gimana,” sambungnya.
Sebagai seorang guru, Laila mengatakan lomba ini membuka mata banyak guru dan orang tua bahwa pelestarian bahasa daerah bisa dilakukan dengan cara menyenangkan.
“Kegiatan seperti ini luar biasa. Anak-anak belajar mencintai bahasa daerah lewat kegiatan kreatif, bukan sekadar pelajaran di kelas. Ini cara kita menjaga identitas budaya,” katanya.
Ia berharap lomba semacam ini terus digelar, bahkan bisa menjadi agenda rutin tingkat provinsi. “Kita di Kalimantan Tengah punya banyak bahasa daerah. Akan bagus sekali kalau anak-anak terbiasa dan bangga berbicara dengan bahasa sendiri. Jangan sampai punah karena tidak digunakan,” ucapnya.
Di sekolah, Faqih dikenal aktif dan ceria. Ia sering mengikuti kegiatan bercerita, baik di sekolah maupun di luar, dan sudah beberapa kali meraih prestasi. Namun kali ini menjadi pengalaman yang paling berkesan, karena untuk pertama kalinya ia tampil menggunakan bahasa Dayak.
“Dia memang suka bercerita dari dulu. Kalau di sekolah ada acara, sering tampil di depan teman-temannya. Sekarang tambah semangat karena bisa juara lagi,” pungkas Laila. (*/ala)
Editor : Ayu Oktaviana