Kabar Terbaru Hukum & Peristiwa Kabar Kalteng Ekonomi & Bisnis Nasional Olahraga Hiburan Kesehatan Internasional Kuliner Wisata Pena Politik Pendidikan

Cerita Pengalaman Umrah Mandiri ke Tanah Suci, Cari Tiket Promo, Bulan Syawal Cenderung Lebih Murah 

Agus Pramono • Sabtu, 8 November 2025 | 13:30 WIB

PALANGKA RAYA - Tren umrah mandiri kini mulai digemari masyarakat Indonesia, termasuk warga Kalteng.

Kemudahan akses visa dan sistem digital dari Pemerintah Arab Saudi, membuka peluang bagi calon jamaah untuk mengatur perjalanan ibadah ke Tanah Suci tanpa harus bergabung dengan rombongan travel agent.

Namun, di balik kebebasan dan efisiensi biaya yang ditawarkan, umrah mandiri memerlukan kesiapan ekstra, baik dari segi dokumen, jadwal, maupun pengetahuan teknis. 

Salah satu jamaah asal Kalteng, Selvie Madjedie, membagikan pengalamannya menjalani umrah mandiri. Ia menuturkan bahwa kunci utama dalam umrah mandiri adalah perencanaan dan kedisiplinan jadwal, karena seluruh proses dilakukan secara mandiri tanpa pendampingan agen perjalanan.

“Tahapan pertama tentu menentukan tanggal berangkat dan pulang. Setelah itu membuat itinerary perjalanan, misalnya dari Jakarta ke Jeddah tanggal berapa, lalu Jeddah ke Makkah dan Madinah. Semua harus diatur sesuai rencana sendiri,” jelas Selvie, saat dihubungi Kalteng Pos, Jumat (31/10/2025). 

Ia melanjutkan, setelah rencana perjalanan tersusun, calon jamaah perlu memesan tiket pesawat dengan cermat mulai dari memilih maskapai, memastikan fasilitas bagasi, hingga memeriksa apakah memerlukan visa transit.

“Pemesanan hotel juga bisa dilakukan lewat Online Travel Agent (OTA), tapi sekarang wajib hotel yang terdaftar di platform Nusuk. Pihak hotel juga harus memberikan agreement resmi bahwa kita benar memesan kamar sesuai jumlah orang. Ini penting sebagai syarat pengajuan visa,” tambahnya. 

Selvie juga menjelaskan dokumen utama yang wajib disiapkan oleh calon jamaah umrah mandiri, yakni paspor, kartu vaksin, visa umrah, dan Siskopatuh (Sistem Komputerisasi Pengelolaan Terpadu Umrah dan Haji Khusus) jika ingin memastikan data jamaah lebih aman dan terverifikasi.

Menurutnya, pengajuan visa kini lebih mudah karena sudah bisa dilakukan melalui beberapa agen resmi atau bahkan melalui maskapai penerbangan.

“Beberapa agen bisa bantu urus visa, dan kalau ambil paket stopover di maskapai Saudia Airlines, mereka juga bisa bantu pengurusan visa langsung,” terangnya. 

Meski mengatur segalanya sendiri, Selvie mengakui banyak keuntungan yang didapat dari sistem umrah mandiri ini. Selain lebih fleksibel, jamaah bisa menyesuaikan jadwal dan keuangan sesuai kemampuan masing-masing.

“Keuntungannya, tidak perlu menunggu rombongan besar, waktu lebih fleksibel, dan kita bisa lebih eksplorasi selama di sana. Biasanya proses imigrasi juga lebih cepat karena tidak ramai,” katanya.

Selvie menambahkan, salah satu hal yang paling ia nikmati dari umrah mandiri adalah kebebasan untuk melanjutkan perjalanan ke negara lain setelah menunaikan ibadah.

“Saya biasanya mampir ke negara lain setelah umrah, seperti Turki atau Qatar. Insyaallah berikutnya ingin ke Azerbaijan,” ungkapnya.

Namun, ia juga menekankan pentingnya kesiapan fisik dan mental, mengingat jamaah harus mengurus seluruh keperluan perjalanan tanpa bantuan tim pendamping.

“Kalau kekurangannya, mungkin cuma harus bawa koper sendiri dan urus semuanya sendiri, tapi buat saya itu bukan masalah,” ucapnya.

Menurut Selvie, tidak benar jika dikatakan bahwa umrah mandiri selalu lebih murah.

“Itu tergantung pilihan kita. Kalau semuanya mau yang bagus, tentu biayanya juga besar. Saya saja kemarin sempat menginap di area Zamzam tower, satu malam tarifnya bisa sampai sekitar Rp14 juta. Tapi karena kami pergi tujuh orang, biaya itu bisa dibagi,” jelasnya.

Ia menuturkan, total biaya perjalanan mereka selama umrah mandiri variatif tergantung musim. Biasanya untuk di bulan syawal, setelah musim haji atau saat musim panas cenderung lebih murah dibandingkan saat Ramadan, akhir tahun atau masuk musim dingin. 

"Kisaran umrah mandiri mencapai sekitar Rp 30-35 juta perorang. Itu sudah termasuk tiket pesawat pulang pergi, hotel di Makkah, Madinah, sampai Turki, makan, dan transportasi, tapi balik lagi semua itu tergantung apa pilihan kita,” kata Selvie.

Perempuan yang juga hobi traveling ini menjabarkan, biaya keberangkatan mereka mencakup tiket pesawat PP Jakarta–Jeddah- Jakarta, visa, dan transportasi lokal dengan total sekitar Rp18,3 juta. Untuk di Mekah, mereka menginap di hotel senilai 4-5 juta perkamar/malam tipe quad atau untuk 4 orang, adapun pilihan hotel bisa Full board (3x makan) atau only room, dimana akan mempengaruhi harga hotel. 

"Kami biasanya memilih only room, karena kita punya pilihan membawa makanan dari Indonesia atau ikut catering dari luar hotel. Sehingga bisa lebih menghemat," jelasnya. 

Dari Madinah, Selvie dan rombongan sempat berkunjung ke Turki selama 5 hari sebelum pulang ke Indonesia. Biaya selama di Turki justru paling besar, mencapai sekitar Rp41 juta untuk seluruh rombongan. 

“Kami ambil paket mobil tour tiga kota, yaitu Istanbul, Edirne, dan Bursa, dengan biaya Rp13,5 juta. Apartemen lima harinya sekitar Rp5 juta, dan untuk makan sekitar Rp21 juta,” katanya.

Menurutnya, biaya sebesar itu masih terbilang wajar karena tidak hanya umrah tapi bisa mengunjungi negara lain. 

“Kami memang bukan yang termurah, tapi yang penting nyaman dan sesuai kebutuhan. Yang mahal itu biasanya karena faktor hotel dan maskapai,” jelasnya.

Ia menambahkan, konsep murah dalam umrah mandiri biasanya berlaku untuk jamaah yang melakukan perjalanan dengan gaya backpacker.

"Biasanya, mereka memilih apartemen sederhana (namun sekarang dengan kebijakan pemerintah Arab Saudi semua penginapan harus terdaftar di Nusuk) dan memanfaatkan tiket pesawat multi-city dengan beberapa kali transit," terangnya. 

"Kalau naik Saudia Airlines langsung dari Jakarta ke Jeddah PP, memang lebih mahal. Tapi kalau pilih maskapai dengan rute transit akan lebih murah, misalnya transit di Turki dan sekaligus wisata. Ada juga yang pilih maskapai China, transit di negara China, tapi yang harus diperhatikan adalah visa transit. Perlu memahami dulu apakah negara tujuan transit membutuhkan visa transit atau tidak” sambungnya.

 

Selvie mengatakan pentingnya memahami aturan transit internasional.

 “Kalau transit di bawah 13 jam, bagasi biasanya tidak dikeluarkan. Tapi kalau lebih dari itu, harus ambil bagasi dulu dan check-in lagi. Nah, itu yang bikin ribet. Selain itu perlu juga kita mempertimbangkan masa transit apakah akan kita gunakan untuk keluar bandara (city tour) atau tetap di Bandara sesuai masa transit kita," ujarnya. 

"Pertimbangan lain dalam memilih maskapai adalah perbedaan maskapai selama perjalanan. Apakah kita memilih satu maskapai untuk semua perjalanan, atau kita memilih maskapai yang berbeda- beda. Kalau saya pribadi memilih maskapai yang sama dalam satu perjalanan hal ini untuk menghindari resiko keterlambatan penerbangan, misalnya berangkat dan pulang pakai Emirates, supaya kalau ada kendala mereka masih tanggung jawab,” jelasnya.

Menariknya, Selvie menolak anggapan bahwa umrah mandiri hanya cocok bagi jamaah dengan kemampuan terbatas. Justru sebaliknya, menurut dia, perjalanan seperti ini menuntut kesiapan dan pengetahuan tinggi.

“Banyak orang bilang umrah mandiri itu buat yang SDM-nya rendah, padahal salah besar. Justru yang bisa umrah mandiri itu orang yang mau belajar dan paham aturan. Kita harus ngerti proses di bandara internasional, bisa komunikasi minimal pakai bahasa Inggris atau menggunakan Google Translate, dan tahu budaya lokal,” katanya.

Ia mencontohkan, di negara-negara seperti Arab Saudi, Turki, dan Qatar, penumpang tidak boleh menanyakan harga tujuan langsung kepada sopir.

“Saya pernah ditegur karena iseng nanya tarif ke driver. Di sana semua harga diatur perusahaan, driver hanya bertugas mengantarkan jadi enggak bisa sembarangan. Kalau di Indonesia kan masih bisa tawar-menawar,” ujarnya.

Sebelum berangkat, Selvie mengaku selalu mempersiapkan diri dengan belajar tentang kondisi negara tersebut seperti sejarah, dan budaya negara tujuan.

 “Saya pelajari dulu kebiasaan masyarakatnya, bahasa sapaan, sampai hal-hal kecil yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Jadi, selain ibadah, saya juga belajar banyak hal tentang dunia,” ujarnya.

Selain Selvie, ada pula jamaah lain asal Kalteng yang juga telah melaksanakan umrah mandiri, Fitri Lubis. Sebagai orang yang pernah melaksanakan umrah mandiri ia mengatakan, langkah pertama yang harus dilakukan adalah menentukan jadwal keberangkatan dan kepulangan, sekaligus segera memesan tiket pesawat.

“Kalau bisa, cari tiket promo. Setelah itu pesan hotel melalui aplikasi sesuai budget masing-masing. Pastikan juga jarak hotel ke Masjidil Haram tidak terlalu jauh supaya ibadah lebih mudah,” jelasnya. 

Setelah tiket dan hotel beres, calon jamaah perlu menyusun itinerary (jadwal perjalanan) selama di Tanah Suci, termasuk rencana ziarah ke Makkah, Madinah, hingga Thaif. Transportasi antar kota juga bisa disiapkan dari Indonesia atau langsung dipesan di lokasi.

“Yang penting, semua jadwal sudah jelas dan terencana. Jangan lupa belajar tata cara umrah, bisa juga menggunakan jasa mutawwif agar ibadahnya lebih khusyuk dan benar,” ujarnya.

 

Selain persiapan perjalanan, Fitri menekankan pentingnya menyiapkan kebutuhan pribadi, seperti obat-obatan dan kemampuan komunikasi dasar. “Kuasai bahasa Inggris minimal, atau manfaatkan aplikasi translate. Kalau sakit, pastikan tahu lokasi rumah sakit atau klinik terdekat,” tambahnya.

Ia juga menjelaskan dokumen utama yang wajib disiapkan untuk umrah mandiri, antara lain paspor, visa umrah, dan Siskopatuh (Sistem Komputerisasi Pengelolaan Terpadu Umrah dan Haji Khusus).

Sementara itu, untuk pengajuan visa, jamaah dapat melakukannya melalui travel agent resmi dengan melengkapi sejumlah dokumen pendukung seperti tiket pulang-pergi Indonesia–Arab Saudi, bukti pemesanan hotel di Mekkah dan Madinah, dan kartu vaksin meningitis. 

“Kalau dokumennya lengkap, proses pengajuan visa umrah tidak terlalu sulit. Biasanya travel akan membantu verifikasi dan pengajuan ke sistem resmi pemerintah Saudi,” katanya.

Mengenai kelebihan umrah mandiri, Fitri menilai sistem ini memberi keleluasaan penuh kepada jamaah untuk menentukan waktu, anggaran, dan prioritas ibadah. 

“Jadwalnya lebih fleksibel, kita bisa menyesuaikan dengan waktu dan kemampuan masing-masing. Biayanya juga lebih hemat, bahkan jika mengambil fasilitas yang cukup bagus tetap cenderung lebih murah dibandingkan melalui travel,” terangnya.

Namun demikian, ia juga mengakui bahwa umrah mandiri memiliki tantangan tersendiri, terutama bagi jamaah yang belum berpengalaman. 

“Kekurangannya, memang lebih repot karena semuanya dipersiapkan sendiri. Kadang ada hal-hal yang tidak sesuai rencana, jadi kita harus siap cepat mencari solusi,” ungkap Fitri.

Oleh karena itu, ia menyarankan agar umrah mandiri dilakukan setelah seseorang memiliki pengalaman umrah sebelumnya bersama travel agent. Dengan begitu, jamaah sudah lebih memahami alur ibadah, kondisi di Tanah Suci, serta mampu beradaptasi dengan situasi yang berbeda. 

“Sebaiknya lakukan umrah mandiri setelah pernah berangkat dengan travel, supaya tidak kaget dan lebih tenang. Kalau sudah punya pengalaman, umrah mandiri jadi lebih mudah dan menyenangkan,” ujarnya.

 

Fasilitas Bintang Lima dengan Budget Rp30 Jutaan

Selain karena fleksibilitas waktu, umrah mandiri juga memberi kesempatan bagi jamaah untuk menyesuaikan kenyamanan dan biaya sesuai kemampuan. Salah satu yang sudah berpengalaman melaksanakannya adalah Fitri Lubis, warga Kalteng yang menunaikan umrah mandiri dengan fasilitas VIP namun tetap efisien secara biaya.

Menurut Fitri, perjalanan umrahnya dilakukan dengan rute Palangka Raya–Jakarta–Jeddah, menggunakan dua kali penerbangan.

“Tiket pulang-pergi Palangka Raya–Jakarta saya pesan di Traveloka, sekitar Rp2,5 juta. Kemudian dari Jakarta ke Jeddah pakai Saudia Airlines, biayanya Rp10 juta pulang-pergi, pesan langsung di website resmi Saudia,” ujarnya saat dihubungi, Senin (3/11/2024).

Untuk akomodasi, Fitri memilih hotel berbintang agar perjalanan lebih nyaman, sekaligus agar tidak kesulitan mencari makanan halal dan tempat istirahat dekat Masjidil Haram dan Nabawi.

“Selama di Mekah, saya menginap di Swissotel Al Maqam, hotel bintang lima yang lokasinya tepat di area Zamzam Tower. Tarifnya sekitar Rp3,5 juta per malam, saya pesan melalui aplikasi ALL (Accor Live Limitless),” ungkapnya.

Sementara itu, selama di Madinah, Fitri memilih Hotel Golden Tulip Al Zahabi, hotel bintang empat yang terletak strategis di depan gerbang 338. “Harganya sama, sekitar Rp3,5 juta per malam. Hotel ini sangat nyaman dan jaraknya sangat dekat dari Masjid Nabawi,” tambahnya.

Untuk kebutuhan makan sehari-hari, Fitri memiliki cara tersendiri agar praktis namun tetap hemat. “Sarapan pagi sudah termasuk fasilitas hotel. Untuk makan siang dan malam, rata-rata cukup 25 riyal Arab Saudi per porsi, dan itu bisa untuk berdua. Jadi masih sangat terjangkau,” katanya.

Dengan pengaturan seperti itu, total biaya perjalanan umrah selama 13 hari hanya berkisar di angka Rp30 jutaan per orang, sudah termasuk tiket pesawat, hotel bintang lima, transportasi, serta konsumsi. “Untuk fasilitas VIP seperti ini, cukup dengan budget tiga puluh jutaan saja. Semua tergantung bagaimana kita mengatur dan memilih,” jelasnya.

Meski terlihat mudah, Fitri mengingatkan bahwa umrah mandiri tetap membutuhkan perencanaan yang matang, terutama dalam urusan akomodasi dan transportasi. Ia menekankan pentingnya memesan hotel dari sumber resmi dan terpercaya.

“Sebaiknya pesan langsung di website hotel atau di OTA (online travel agent) terpercaya seperti Booking.com atau Agoda. Tapi kalau bisa, langsung di web hotelnya karena biasanya lebih murah dan aman,” sarannya.

Ia menambahkan, dengan memesan langsung, jamaah bisa menghindari risiko kesalahan data atau pembatalan sepihak. “Kita juga bisa langsung memastikan fasilitas yang sesuai, seperti sarapan, akses ke Masjidil Haram, atau kamar dengan pemandangan tertentu,” jelasnya. (zia/ala)

Ilustrasi ibadah haji
Ilustrasi ibadah haji

Editor : Agus Pramono
#umrah mandiri #Cara Umrah Mandiri #tanah suci #Pengalaman umrah mandiri