Memperingati Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional, kolaborasi BKSDA, TNBBBR, dan Yayasan BOS bersama mitra internasional wujudkan cinta terhadap alam melalui pelepasliaran tujuh individu orangutan ke habitat aslinya di Kalteng, simbol keteguhan, harapan, dan kerja bersama lintas bangsa untuk menjaga kehidupan di hutan tropis Indonesia.
NOVIA NADYA CLAUDIA, Palangka Raya
DI bawah rimbun pepohonan tropis Resort Tumbang Hiran, kawasan Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya (TNBBBR), suara ranting dan desir angin menjadi saksi dari sebuah momen bersejarah.
Tujuh individu orangutan akhirnya kembali ke rumah sejatinya di alam liar Kalimantan, Jumat (7/11/2025).
Pelepasliaran ini berlangsung penuh makna bertepatan dengan Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional (HCPSN), yang setiap tahun diperingati untuk menumbuhkan cinta dan kepedulian terhadap kekayaan hayati Nusantara.
Kegiatan tersebut merupakan hasil kolaborasi antara Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Tengah, Balai TNBBBR, dan Yayasan Penyelamatan Orangutan Borneo (Yayasan BOS), bersama sejumlah mitra nasional dan internasional yang selama ini menjadi bagian penting dari gerakan konservasi di tanah Borneo.
Ketujuh individu orangutan itu, empat jantan dan tiga betina, merupakan “lulusan” terbaru dari Pusat Rehabilitasi Orangutan Nyaru Menteng.
Setelah melalui proses panjang bertahun-tahun, mereka dinyatakan siap hidup mandiri di alam liar. Di antara mereka, terdapat kisah-kisah yang menandai perjuangan dan keteguhan hidup.
Salah satunya adalah Kapuan, betina berusia 26 tahun yang direpatriasi dari Thailand dan telah menjalani rehabilitasi selama 19 tahun.
Sosok tangguh ini kini menjadi simbol harapan dan ketahanan, lambang dari kerja keras lintas negara untuk mengembalikan kehidupan yang sempat terenggut.
Bersamanya, Berunay, betina berusia 23 tahun, dikenal gesit memanjat dan mandiri dalam mencari pakan alami di kanopi hutan.
Ada pula Momot, jantan 12 tahun yang menunjukkan kemampuan eksplorasi tinggi dan telah menguasai berbagai keterampilan bertahan hidup.
Keberangkatan mereka menuju kebebasan menjadi momentum reflektif bahwa konservasi bukan sekadar penyelamatan satwa, melainkan perjalanan panjang untuk memulihkan harmoni antara manusia dan alam.
Kepala BKSDA Kalimantan Tengah Andi Muhammad Kadhafi, S.Hut., M.Si., menyampaikan bahwa peringatan Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional seharusnya dimaknai lebih dari sekadar seremonial.
“Cinta terhadap alam tidak cukup hanya diucapkan, tetapi harus diwujudkan melalui tindakan nyata. Setiap pelepasliaran orangutan adalah hasil kerja keras bersama untuk memulihkan keseimbangan ekosistem dan memastikan generasi mendatang dapat menikmati kekayaan hayati Indonesia,” ujarnya.
Andi menegaskan, kegiatan ini merupakan pelepasliaran ke-46 yang dilakukan BKSDA bersama Yayasan BOS di Kalimantan Tengah. Ia mengapresiasi kerja sama yang terus terjalin dengan berbagai pihak.
"Cinta terhadap satwa harus menjadi bagian dari budaya bangsa. Melalui kolaborasi, kita bisa menjaga kelestarian alam secara berkelanjutan,” imbuhnya.
Sementara itu, Kepala Balai TNBBBR Persada Agussetia Sitepu, S.Hut., M.Si., menyebut bahwa pelepasliaran tujuh individu orangutan ini merupakan bagian dari upaya pemulihan ekosistem yang lebih luas.
"Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya adalah rumah besar bagi banyak kehidupan, termasuk orangutan. Kami memastikan rumah ini tetap lestari agar satwa liar dapat berkembang secara alami. Kolaborasi antar lembaga dan masyarakat adalah kunci untuk menjaga rumah ini tetap aman bagi semua penghuninya," katanya.
Ketua Pengurus Yayasan BOS Dr. Ir. Jamartin Sihite, M.Sc., tidak dapat menyembunyikan rasa haru saat menyebut nama Kapuan orangutan yang telah menunggu hampir dua dekade untuk kembali ke hutan.
"Kapuan adalah orangutan repatriasi ke-14 yang berhasil memperoleh kebebasannya kembali. Tidak semua individu seberuntung dia. Perjalanan ini membutuhkan komitmen tinggi, kerja keras lintas negara, dan dukungan biaya besar,” ujarnya.
Jamartin menegaskan bahwa pelepasliaran ini bukan sekadar pencapaian lembaga, tetapi bukti bahwa konservasi adalah bentuk kepahlawanan masa kini.
"Keberhasilan konservasi orangutan hanya akan terwujud jika kita bekerja bersama. Kapuan membuktikan bahwa setiap kehidupan pantas mendapatkan kesempatan kedua, dan cinta, dedikasi, serta kerja sama dapat memulihkan harmoni antara manusia dan alam,” katanya. (*bersambung/ala)