Lia Susanti, dokter muda asal Palangka Raya, berhasil mengharumkan nama Indonesia dengan meraih APSR / J. Patrick Barron Medical Education Young Investigator Award 2025, penghargaan prestisius bagi peneliti muda di kawasan Asia-Pasifik.
ILHAM ROMADHONA – Palangka Raya
DI TENGAH hiruk pikuk dunia medis yang penuh tantangan, kabar membanggakan datang dari tenaga medis Palangka Raya. Seorang dokter muda asal Kota Cantik, dr. Lia Susanti, berhasil menorehkan prestasi gemilang di kancah internasional. Wanita kelahiran 8 Maret 1990 meraih APSR / J. Patrick Barron Medical Education Young Investigator Award 2025, salah satu penghargaan paling bergengsi di kawasan Asia-Pasifik.
Penghargaan itu diserahkan oleh Asian Pacific Society of Respirology (APSR) dalam ajang Kongres APSR 2025 di Manila, Filipina. Dalam penghargaan itu juga mempertemukan para ahli dan peneliti medis dari berbagai negara. Dari ribuan kandidat muda berbakat, nama dr. Lia muncul sebagai salah satu yang terbaik.
“Rasanya seperti mimpi, saya tidak pernah menyangka akan berdiri di panggung internasional membawa nama Indonesia. Semua berawal dari rasa ingin tahu dan tekad untuk terus belajar,” ucapnya, Kamis (13/11/2025).
dr. Lia meraih penghargaan itu berkat penelitiannya yang berjudul “The Role of Epigallocatechin Gallate–Chlorogenic Acid (Green Tea and Green Coffee) on IL-6 Levels and Pulmonary Fibrosis Progression in Metabolic Syndrome Rats.”
Melalui riset tersebut, ia meneliti potensi senyawa aktif dari teh hijau dan kopi hijau dalam menekan perburukan fibrosis paru atau kondisi yang menyebabkan jaringan paru menjadi kaku dan rusak, khususnya pada penderita sindrom metabolik. Fokus penelitiannya terletak pada kadar IL-6, penanda penting dalam proses peradangan paru.
“Banyak orang tidak menyangka bahwa bahan alami seperti teh hijau dan kopi hijau punya potensi besar untuk kesehatan paru, saya ingin membuktikan bahwa riset sederhana dari bahan yang akrab dengan kehidupan sehari-hari juga bisa memberikan dampak besar bagi dunia medis,” jelas perempuan yang menempuh pendidikan di Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacara itu.
Karya ilmiah tersebut dinilai memberikan kontribusi penting bagi pengembangan ilmu respirasi dan pendidikan medis eksperimental di kawasan Asia-Pasifik.
“Harapannya, semoga dengan penghargaan ini masyarakat Indonesia bisa terpacu untuk lebih bersemangat dalam melakukan penelitian dan mengharumkan nama bangsa,” tutur dr. Lia dengan senyum penuh semangat.
Bagi masyarakat Kalimantan Tengah, capaian dr. Lia bukan hanya sekadar prestasi pribadi, melainkan simbol kebanggaan daerah.
Dalam dunia akademik dan kedokteran, penghargaan setingkat APSR Award memiliki nilai prestise yang sejajar dengan medali emas di ajang olahraga internasional layaknya Asian Games. Bahkan lebih tinggi karena melibatkan persaingan ilmuwan dari berbagai negara maju di Asia-Pasifik.
Dengan prestasi tersebut, terbukti bahwa sumber daya manusia asal Bumi Tambun Bungai mampu bersaing di panggung global. Bahwa anak daerah pun bisa menembus batas, membawa nama Indonesia sejajar dengan negara-negara maju di Asia-Pasifik.
APSR / J. Patrick Barron Award sendiri merupakan bentuk penghargaan bagi peneliti muda di bawah usia 40 tahun yang berkontribusi pada inovasi pendidikan dan penelitian medis. Hanya segelintir peserta dari ribuan kandidat yang berhasil meraihnya setiap tahun. Ini juga menjadikannya simbol pencapaian tertinggi dalam dunia riset kedokteran.
Prestasi dr. Lia Susanti menjadi pengingat bahwa impian besar bisa tumbuh dari mana saja, bahkan dari kota kecil di jantung Kalimantan.
Dari Palangka Raya, langkah kecil seorang dokter muda kini bergema hingga ke panggung ilmiah dunia.
“Saya hanya ingin menunjukkan bahwa anak daerah juga bisa, selama kita punya tekad dan terus belajar, tak ada yang mustahil untuk dicapai,” kata anak dari pasangan Budi Hartono dan Yunita dengan mata berbinar.
Kini, ia tengah menempuh pendidikan Spesialis Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi di Universitas Brawijaya, Malang.
Dari Palangka Raya untuk Asia, dan dari Indonesia untuk dunia, nama dr. Lia Susanti kini tercatat sebagai bukti bahwa ilmu pengetahuan dan semangat juang anak bangsa tak mengenal batas.(ram)
Editor : Ayu Oktaviana