Di tengah geliat musik digital yang kian padat, sekelompok musisi dari Palangka Raya memilih satu hal sederhana: tetap berkarya dari tanah sendiri. Mereka menamakan diri Sangsaka, band rock yang lahir dari semangat untuk membuktikan bahwa suara dari daerah juga bisa menggema ke seluruh Nusantara.
M. RIFQI PADILA, Palangka Raya
SANGSAKA terbentuk pada Februari 2020 dari pertemuan lima musisi yang telah lama berkiprah di berbagai panggung lokal. Dari pertemanan dan komunitas musik itulah muncul satu tekad untuk melahirkan karya yang membawa nama Palangka Raya ke kancah nasional.
“Waktu itu kami sadar, Palangka Raya punya banyak talenta. Tapi belum banyak yang benar-benar fokus pada karya orisinal,” ujar Ari Prasetiyo, gitaris Sangsaka, Selasa (11/11/2025).
Nama Sangsaka mereka pilih bukan tanpa alasan. Kata itu bermakna pusaka mulia sebuah penghormatan terhadap nilai-nilai bangsa yang luhur. Dari nama itulah mereka menanamkan semangat nasionalisme dalam setiap nada dan lirik yang mereka tulis.
“Lewat musik, kami ingin menumbuhkan kembali semangat perjuangan dan kebanggaan sebagai anak bangsa,” katanya penuh keyakinan.
Dalam formasi terbarunya, Sangsaka terdiri dari Cahyo di bass, Harry di drum, Haris dan Ari di gitar, serta dua vokalis tambahan, Leo dan Evan. Masing-masing datang dari latar musik berbeda, namun perbedaan itu justru memperkaya warna Sangsaka.
“Genre kami memang rock, tapi unsur blues, alternatif, bahkan pop rock tetap kami masukkan. Karena musik harus tetap hidup dan berkembang,” tutur Ari.
Perjalanan mereka tidak mudah. Di awal berdiri, Sangsaka lebih sering tampil di kafe dan acara kampus. Tapi perlahan, mereka mulai naik ke panggung festival dari Palangka Raya, Kasongan, hingga Buntok.
“Kami ingin orang tahu, karya band lokal juga layak tampil di panggung besar. Sekarang semua proses produksi bisa kami lakukan di Palangka Raya, tantangannya tinggal kesempatan tampil,” ucap Ari dengan nada optimistis.
Dari ruang studio sederhana, mereka meramu lagu-lagu yang lahir dari keresahan dan cerita kehidupan sehari-hari. Setiap nada dimulai dari obrolan ringan, lalu berkembang menjadi lirik dan aransemen yang digarap bersama.
“Banyak lagu kami terinspirasi dari kisah humanis dan keresahan sosial. Saat pandemi, misalnya, banyak ide yang muncul dari situasi waktu itu,” ungkapnya.
Salah satu karya yang paling berkesan adalah lagu “Garudaku”, yang membawa mereka berkolaborasi dengan Roy Jeconiah, eks vokalis Boomerang. Kolaborasi itu menjadi tonggak penting bagi Sangsaka, membuktikan bahwa musisi daerah pun bisa sejajar dengan nama besar di industri musik nasional.
“Awalnya lagu ini dibuat untuk mendukung Timnas Indonesia. Tapi ketika Roy bersedia datang langsung ke Palangka Raya dan ikut ngisi vokal, itu jadi kebanggaan besar bagi kami,” katanya sambil tersenyum.
Kini, Sangsaka telah menelurkan dua single, satu album penuh pada 2023, dan lagu
“Garudaku” yang dirilis pada 2025. Respons publik pun positif, baik dari pendengar lokal maupun luar daerah.
“Banyak yang bilang, karya kami punya karakter dan pesan yang kuat. Itu yang bikin kami terus semangat,” tutur Ari.
Namun, di balik semangat dan prestasi, mereka menyadari satu hal: dukungan terhadap musik lokal masih perlu diperkuat. Bagi Sangsaka, ruang tampil adalah kunci untuk memperluas pendengar dan menumbuhkan apresiasi masyarakat.
“Kami berharap pemerintah dan pihak swasta bisa lebih banyak bikin event musik lokal. Karena dari situlah karya bisa hidup,” ujarnya.
Sore itu, di sela latihan rutin, suara gitar Ari berpadu dengan dentuman drum dan vokal Leo. Energi mereka terasa nyata bukan hanya ingin didengar, tapi juga diakui. Dari Palangka Raya, Sangsaka terus menyiapkan langkah-langkah kecil yang penuh semangat menuju panggung yang lebih besar.
“Kami ingin membuktikan bahwa musisi daerah juga bisa bersinar. Karena musik yang jujur pasti akan menemukan pendengarnya,” tutup Ari. (*/ram)
Editor : Ayu Oktaviana