Kabar Terbaru Hukum & Peristiwa Kabar Kalteng Ekonomi & Bisnis Nasional Olahraga Hiburan Kesehatan Internasional Kuliner Wisata Pena Politik Pendidikan

Agryd Wyanndri, Sang Mantri BRI yang Jadi Jembatan UMKM Palangka Raya Menuju Era Digital

Agus Pramono • Sabtu, 22 November 2025 | 08:30 WIB
Agryd Wyanndari bertemu Faidah, pedagang Pasar Besar Palangka Raya yang telah aktif menggunakan Qris. GILANG/KALTENG POS
Agryd Wyanndari bertemu Faidah, pedagang Pasar Besar Palangka Raya yang telah aktif menggunakan Qris. GILANG/KALTENG POS

Di balik proses perubahan digitalisasi UMKM di Palangka Raya, ada peran para mantri BRI yang menjadi jembatan antara dunia konvensional dan digital. Agryd Wyanndari, mantri BRI Unit Palangka Raya, yang memiliki kisah tersendiri dalam perjuangannya mengenalkan digitalisasi kepada para pelaku UMKM.


GILANG RAHMAWATI, Palangka Raya

TIGA tahun bukan waktu yang singkat bagi Agryd Wyanndri bekerja di BRI Unit Palangka Raya yang kini terus konsisten memperkenalkan sistem pembayaran digital kepada para pedagang kecil.

Tugasnya terdengar sederhana, membantu pedagang menerima pembayaran digital, namun di lapangan, realitasnya jauh lebih kompleks.

Selama pengenalan dan membantu itu pula, ia melihat langsung perubahan perilaku transaksi di pasar.

Dari yang awalnya serba tunai, kini mulai beralih ke sistem non‐tunai.

Menurutnya, manfaat QRIS sangat nyata. Salah satunya, kalau pembeli lupa bawa uang tunai, cukup pakai HP saja untuk bisa bayar.

“Pedagang juga lebih aman karena terhindar dari uang palsu,”ujar wanita berusia 30 tahun ini kepada Kalteng Pos, awal November lalu.

Di balik kemudahan itu, proses memperkenalkan QRIS di lapangan bukan tanpa tantangan. Salah satu kisah yang paling berkesan baginya adalah saat membantu Ibu Faidah, seorang pedagang di Pasar Besar Palangka Raya yang awalnya menolak menggunakan QRIS.

“Beliau takut uangnya tidak masuk, takut gangguan jaringan, dan tidak paham cara pakainya,” kenangnya.

Tak menyerah, ibu dari satu anak ini memilih pendekatan perlahan. Edukasi diberikan dengan sabar, bahkan ia mempraktikkan langsung transaksi di depan mata sang pedagang.

“Akhirnya beliau percaya dan paham. Sekarang malah semangat sekali pakai QRIS,” kata ibu dari Greisy Briana Salendra ini. Menurut Agryd, sebagian besar pedagang yang sulit diajak digitalisasi adalah mereka yang sudah berusia lanjut. Edukasi harus dilakukan secara rinci dan berulang kali.

Ia bukan hanya mengajarkan teknis pemindaian, tetapi juga menanamkan rasa percaya dan keyakinan bahwa digitalisasi akan membantu kehidupan bisnis mereka.

Sebagai mantri BRI, ia juga mengajak pedagang menggunakan aplikasi lain seperti BRImo (aplikasi BRI mobile banking), BRI Merchant, hingga BRISPOT.

Setiap aplikasi memiliki tujuan yang spesifik: mempermudah transaksi, mencatat penjualan harian, hingga membantu pelaku usaha kecil mengakses pembiayaan secara digital.

Dampak dari perjuangan Agryd terlihat jelas. Dari pasar yang dulu serba tunai, kini transaksi nontunai mulai menjadi kebiasaan. Pedagang merasa lebih aman karena terhindar dari risiko uang palsu, sementara pembeli juga lebih mudah bertransaksi tanpa harus membawa uang tunai.


Pedagang Sempat Takut dan Ragu

“Saya merasa bangga melihat pedagang yang awalnya takut dan ragu kini semakin percaya diri dan melek digital,” ujar Agryd dengan mata berbinar.

Penghargaan dari BRI Palangka Raya menjadi bukti nyata keberhasilan perjuangan Agryd. Istri dari Predika Salendra tercatat sebagai mantri yang terbanyak mengajak pedagang menggunakan QRIS pada periode Juni dan Juli 2025.

Dengan memastikan transaksi minimum Rp100 ribu agar pedagang tetap aktif menggunakan sistem pembayaran digital.

Prestasi ini bukan hanya angka, tetapi juga representasi dari perubahan perilaku dan mental para pelaku UMKM di kota ini. Namun, bagi Agryd, keberhasilan terbesar bukanlah penghargaan atau pencapaian angka, melainkan kemampuan membangun kepercayaan manusia.

Ia melihat digitalisasi bukan sekadar soal teknologi, melainkan proses membimbing UMKM agar mampu beradaptasi dengan perubahan zaman.

“Digitalisasi itu mau tidak mau harus dihadapi. QRIS bukan sekadar alat bayar, tapi jembatan menuju kemajuan ekonomi yang lebih mudah dan aman,” tuturnya. (*/ala)

 

Editor : Ayu Oktaviana
#manfaat qris #qris #umkm #Pasar Besar Palangka Raya #pembayaran digital #bri #digitalisasi #transaksi nontunai #kemajuan ekonomi #pelaku umkm #brimo #BRI Palangka Raya