Kabar Terbaru Hukum & Peristiwa Kabar Kalteng Ekonomi & Bisnis Nasional Olahraga Hiburan Kesehatan Internasional Kuliner Wisata Pena Politik Pendidikan

Komunitas Pencinta Al-Qur’an di Palangka Raya Menghidupkan Tradisi Qurani

Agus Pramono • Jumat, 28 November 2025 | 10:30 WIB
Para jemaah dari berbagai usia berkumpul di dalam Masjid Syuhada Palangka Raya. DHEA UMILATI/KALTENG POS
Para jemaah dari berbagai usia berkumpul di dalam Masjid Syuhada Palangka Raya. DHEA UMILATI/KALTENG POS

Komunitas Pecinta Al-Qur’an lahir bukan sekadar sebagai kelompok belajar, tetapi sebagai ruang bersama, ruang yang mengajak siapa pun untuk kembali mendekat pada Al-Qur’an, memahami maknanya, dan merasakan kehadirannya dalam kehidupan sehari-hari.

DHEA UMILATI, Palangka Raya

MATAHARI perlahan turun di kawasan Masjid Syuhada, suara tilawah Al-Qur’an terdengar lembut dari ruang utama masjid.

Bukan dari kegiatan rutin mengaji, melainkan dari semangat baru yang tumbuh di tengah masyarakat, hadirnya Komunitas Pencinta Al-Qur’an, sebuah gerakan yang dirintis warga untuk menghidupkan kembali kecintaan terhadap kitab suci dalam suasana yang lebih terarah dan penuh kekeluargaan.

Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kalteng, Prof Bulkani, menyebut bahwa tujuannya sederhana namun sangat mendasar, menghidupkan masjid lewat kegiatan yang berakar pada Al-Qur’an.

“Kita ingin mengembangkan Al-Qur’an ini, baik dari sisi membacanya, menafsirkan, hingga mengajarkannya kepada warga sekitar,” ungkap Prof Bulkani, Kamis (13/11/2025).

Komunitas Pencinta Al-Qur’an membuka ruang bagi berbagai pendekatan yang selama ini sering terpisah tilawah, tadabbur, kajian tafsir, hingga diskusi tentang bagaimana ayat-ayat suci itu diamalkan dalam keseharian. Bukan hanya membaca, tetapi memahami dan meresapi.

Menurut Bulkani, pengurus komunitas nantinya akan menyusun program yang lebih detail untuk memastikan setiap anggota baik anak-anak, remaja, hingga orang dewasa mendapat ruang belajar sesuai kemampuan dan kebutuhan mereka.

Yang menarik, komunitas ini tidak hanya fokus pada sisi ritual, tetapi juga sosial. Ada upaya menjadikan Al-Qur’an sebagai panduan membangun hubungan antarwarga, memperbaiki interaksi sosial, dan memunculkan nilai-nilai kebaikan yang tercermin dari perilaku jamaah.

“Masjid ini harus lebih hidup. Salah satunya melalui kegiatan yang berbasis pada pembacaan, penafsiran, dan pengkajian Al-Qur’an,” ujarnya.

Di balik gagasan ini, terdapat filosofi penting, masjid tidak hanya menjadi tempat ibadah yang sepi pada hari-hari biasa.

Masjid harus memakmurkan jamaahnya memberikan ilmu, ketenangan, dan pembinaan namun pada saat yang sama, jamaah juga harus memakmurkan masjid melalui kehadiran, kebersamaan, dan aktivitas positif.

Dengan adanya rutinitas kajian, pertemuan kecil, hingga diskusi tafsir, katanya, Masjid Syuhada perlahan akan menjadi pusat peradaban kecil bagi masyarakat sekitar. Kehadiran komunitas ini juga memiliki momentum tersendiri seiring dengan Ramadan yang semakin dekat.

Bagi umat Islam, bulan suci adalah saat di mana interaksi dengan Al-Qur’an meningkat tajam mulai dari tadarus, kajian ayat, hingga berbagai kegiatan yang menguatkan spiritualitas. “Ini merupakan awal yang baik. Harapannya nanti bisa dikembangkan ke masjid-masjid lainnya,” katanya.

Ketua Komunitas Pencinta Al-Qur’an Kalteng, Muhammad Asbli, mengungkapkan bahwa gerakan ini disiapkan tidak hanya untuk lingkungan masjid tertentu, tetapi untuk seluruh daerah di Kalimantan Tengah.

Menurutnya, selama ini kegiatan tadarus dan kajian Al-Qur’an masih dilakukan dalam kelompok kecil, jumlahnya pun terbatas. Dalam satu sesi, hanya sekitar tujuh hingga sepuluh orang yang aktif mengikuti. Padahal, menurutnya, kebutuhan umat untuk mendalami Al-Qur’an jauh lebih luas dan mendesak.

“Al-Qur’an ini sudah dua kali kita tuntaskan, ke depan masih akan kita lanjutkan. Karena itu, kami berharap melalui adanya komunitas ini jumlah jamaah yang ikut tadarus semakin bertambah,” ujarnya.

Asbli menjelaskan, salah satu tujuan besar komunitas adalah menghidupkan kembali budaya tadarus sepanjang tahun, bukan hanya ketika Ramadan tiba. Ia ingin melihat suasana masjid dan lingkungan masyarakat kembali hidup dengan suara lantunan ayat suci.

“Tadarus itu kita harapkan berlangsung terus menerus, bukan hanya sesaat. Nanti berlanjut juga di bulan Ramadan. Itu yang kami inginkan,” tambahnya.

Kegiatan ini juga menjadi momentum untuk memperluas pembelajaran Al-Qur’an kepada masyarakat lintas usia. Tidak hanya orang dewasa, tetapi juga remaja, anak muda, hingga orang tua yang ingin kembali memperbaiki bacaannya.

Ia menyebut akan ada kerja sama resmi dengan Lazisnu Provinsi Kalimantan Tengah dalam pengembangan program komunitas. Bahkan, pihak provinsi berencana mengirimkan surat kepada seluruh pemerintah kabupaten/kota agar masing-masing daerah membentuk Komunitas Pencinta Al-Qur’an tingkat daerah.

“Dari provinsi, kita akan mengirim surat ke kabupaten/kota agar mereka membentuk komunitas serupa. Ini rencana besar kita,” jelasnya. (*/ala)

Editor : Ayu Oktaviana
#Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) #tadabbur #komunitas #kitab suci #ayat suci #bulan suci #kalimantan tengah #tadarus #lazisnu #ramadan #Tilawah Al-Qur’an #interaksi sosial #Al Qur an #masjid