Tanaman rotan yang banyak tumbuh di wilayah Kalimantan berhasil menjadi produk kerajinan yang memiliki nilai jual tinggi. Dengan tangan terampil, para perajin anyaman rotan berhasil diberdayakan oleh owner Indang Apang.
ANISA B WAHDAH, Palangka Raya
BERBAGAI macam produk kerajinan rotan tersusun rapi di rak-rak Galeri Indang Apang, Jalan Tjilik Riwut Kilometer 7,5, Gang Bethel 1 Nomor 18, Kota Palangka Raya. Mulai dari alas kaki hingga penutup kepala dari rotan menghiasi rumah produksi milik Amelia Agustina itu.
Berdiri di depan rumah pribadi miliknya, Amelia, sapaanya, menyulap teras rumah menjadi galeri yang bisa menghasilkan keuntungan. Di galeri ini, ia mendisplay produk-produk kerajinan khas Kalimantan Tengah (Kalteng) berbahan tanaman rotan.
Memberdayakan para perajin rotan di pelosok daerah, perempuan asli Desa Buntoi, Kecamatan Kahayan Hilir, Kabupaten Pulang Pisau, Kalteng ini, berhasil meningkatkan nilai jual rotan dengan menjadikannya berbagai macam model tas, sepatu, dompet, gelang hingga topi.
“Produk kerajinan ini menggunakan bahan baku tanaman rotan yang saya dapatkan dari para perajin anyaman rotan lokal di wilayah Kalteng, tepatnya di Kabupaten Pulang Pisau, Kapuas dan Barito Utara,” kata Amelia saat dibincangi di Galeri Indang Apang, Rabu (26/11/2025).
Bahan baku rotan yang sudah dianyam setengah jadi oleh para perajin, didapatkan dari para pengepul di setiap daerah. Anyaman rotan yang memiliki kualitas tinggi dengan standar yang ditetapkan, akan diolah menjadi suatu karya yang memiliki nilai jual tinggi.
“Kami sudah menetapkan standar kualitas rotan yang akan digunakan, kami memiliki pengepul di tiga kabupaten itu, mereka mengumpulkan dari para perajin anyaman rotan,” ucapnya.
Berdiri sejak tahun 2019, Indang Apang Galeri kini memproduksi 1.000 hingga 2.000 pieces produk dalam satu bulan. Bahkan, saat permintaan tinggi ia bisa memproduksi hingga 3.000 pieces produk.
“Dari banyaknya produk, dompet menjadi best seller permintaan, lantaran kerap digunakan sebagai suvenir acara,” ucap perempuan yang lahir pada 31 Agustus 1984 ini.
Enam tahun usaha ini berjalan, Indang Apang Galeri sudah berhasil mengirimkan berbagai produk tidak hanya di lokal Kalteng saja, melainkan regional Kalimantan bahkan hingga nasional dari Sabang sampai Merauke. Untuk harga, Indang Apang membanderol harga termurah Rp10 ribu dengan produk gantungan kunci.
“Produk termahal, saya pernah menjual tas seharga Rp5 juta, kombinasi antara anyaman rotan dengan kulit sapi,” ujarnya.
Perjalanan Indang Apang Galeri tidak serta merta berdiri kokoh dan dikenal luas. Perjalanan kesuksesannya dimulai sejak sembilan tahun silam. Indang Apang yang memiliki arti Ibu dan Bapak ini, dari awal memiliki konsep penjualan dengan mengangkat kearifan lokal Kalteng.
“Indang Apang berdiri pada tahun 2016, awalnya tidak memproduksi, saya sebagai pemilik hanya menjualkan berbagai macam produk milik teman-teman seperti suvenir khas Kalteng, termasuk makanan,” ceritanya.
Dua tahun Indang Apang berdiri, pada tahun 2018 terpaksa vakum dan kembali bangkit pada tahun 2020 dengan mengusung konsep kerajinan rotan. Ide produk kerajinan rotan ini muncul saat mendiang ayah Amelia meninggalkan banyak tikar rotan di rumahnya.
“Sebelum meninggal dunia, ayah saya kerap membeli tikar rotan yang ditawarkan oleh para ibu-ibu perajin anyaman rotan di desa, akhirnya saya kepikiran untuk membuat tas ransel dari tikar rotan itu,” kenang dia.
Dengan bantuan seorang teman yang memiliki keahlian menjahit, tas rotan perdana yang ia dapatkan dari tikar rotan ternyata memantik minat para teman-temannya. Beberapa orang tidak hanya sekadar bertanya, tetapi ingin memiliki tas serupa.
“Dari sinilah akhirnya saya terpikirkan untuk membuat usaha kerajinan rotan di bidang fashion,” jelasnya.
Baru merangkak dengan jenis usaha baru, Covid-19 yang melanda Indonesia saat itu membuatnya gagal berdiri. Namun tidak terpuruk dengan keadaan, Amelia memutar otak agar usaha yang baru ia bangun tetap dikenal dan diminati calon pembeli.
“Saya mulai memaksimalkan media sosial untuk promosi, bersyukur membuahkan hasil,” singkatnya.
Keberpihakan pemerintah kepada UMKM untuk membangkitkan pelaku usaha yang terdampak pandemi Covid-19 ia rasakan. Beberapa produk mulai laku terjual dan Indang Apang mulai dikenal luas.
Dalam proses produksi, Amelia tidak hanya berhasil memberdayakan perajin anyaman rotan saja, tetapi juga bermitra dengan para penjahit.
“Finishing tetap dilakukan di rumah produksi Indang Apang ini,” ucapnya.
Untuk memantapkan produksinya, produk-produk yang awalnya hanya memenuhi ruang tamunya, kemudian memiliki galeri pada tahun 2023.
“Saat itu, saya ingin memiliki sebuah galeri untuk memamerkan produk-produk, kemudian saya mengajukan kredit usaha rakyat (KUR) di Bank Rakyat Indonesia (BRI) Palangka Raya, bersyukur berhasil mendapat pinjaman dan memiliki galeri ini,” jelas perempuan 41 tahun ini.
Tahun 2023, Indang Apang Galeri berhasil mendapat pinjaman KUR Rp75 juta dan kini berlanjut pengajuan KUR Rp50 juta untuk pembangunan storage.
“Terimakasih BRI sudah membantu usaha Indang Apang ini sehingga bisa berkembang lebih baik, kami gunakan fasilitas pinjaman sehingga kami bisa bangun galeri ini,” katanya.
Tidak hanya menjadi nasabah KUR, Indang Apang Galeri kini juga menjadi binaan BRI yang memberikan berbagai dampak positif dalam pengembangan usahanya.
Beberapa kali ia mendapat pesanan suvenir dari BRI, hingga memenuhi permintaan tamu BRI yang memerlukan produk lokal atau suvenir khas Bumi Tambun Bungai ini.
“Beberapa kali saya juga mengikuti event yang dilaksanakan BRI, saya pernah mengikuti event Incubator dan lolos menjadi juara empat nasional,” ceritanya.
Baru-baru ini, Indang Apang juga mengikuti BRI UMKM EXPO(RT) 2025 yang dilaksanakan di BSD Tangerang.
“Tentu dengan mengikuti event-event nasional ini, kami bisa mengenalkan produk secara luas,” tegasnya.
Tidak hanya itu, dengan event nasional yang dilaksanakan BRI ini, ia mendapatkan banyak pengalaman dari para pelaku usaha sukses.
Menjadi nasabah BRI sejak tahun 2014, Indang Apang Galeri juga memaksimalkan produk-produk BRI. Misal saja, dalam transaksi usaha yang dijalankan juga menggunakan rekening Bank BRI.
“Pelanggan saya saat transaksi pembayaran lebih banyak melalui rekening BRI dan transaksi pun banyak menggunakan produk BRI, seperti Brimo dan QRIS,” tutupnya. (*)
Editor : Anisa Bahril Wahdah