Tidak semua orang bisa berada satu server dengan MrBeast; YouTuber dengan lebih dari 200 juta pengikut yang dikenal dengan tantangan berhadiah fantastis. Namun pemuda asal Kalteng Yonas Chrisezkeisen Yoseph bias ikut masuk di dalamnya. Bagaimana ceritanya?
M RIFQI PADILA, Palangka Raya
NAMA Yonas, pemuda Palangka Raya menjadi salah satu dari sedikit builder dunia yang diundang untuk mengikuti International Minecraft Build Battle bertema 1$ vs 25.000$ Build Challenge. Yang lebih unik lagi: ini adalah pengalaman pertamanya terjun ke kompetisi level internasional.
Segalanya bermula sangat sederhana. Yonas mengikuti sebuah komunitas builder global. Suatu hari, komunitas itu membuka pendaftaran untuk “YouTube-related building project.” Tidak ada embel-embel nama besar. Tidak ada info soal hadiah. Hanya ajakan biasa bagi siapa pun yang ingin mencoba.
“Awalnya dikira kompetisi biasa. Nggak dikasih tau itu buat MrBeast,” kata Yonas ketika ditemui di rumahnya, Minggu (16/11/2025).
Ia tetap mendaftar, mengirimkan portofolio, dan masuk proses seleksi. Materi ujiannya: membuat bangunan underwater base lengkap dengan secret room.
“Gue bikin twist sendiri. Underwater, tapi di dalamnya kayak snow globe Jepang. Miniatur Japanese snow globe,” jelasnya.
Dari 400 builder internasional yang mencalonkan diri, Yonas terpilih menjadi satu dari sekitar 10–12 builder yang lolos.
Saat menerima undangan resmi dan melihat nama MrBeast di dalam server, reaksinya hanya satu: “Speechless. Kaget. Nggak expect,” ucap Yonas sambil tertawa.
Karena MrBeast dan tim berada di Amerika, perbedaan waktu menjadi ujian berat. Setiap sesi rekaman dilakukan mengikuti waktu mereka. Jika di AS jam 3 sore, di Palangka Raya justru jam 3 pagi.
“Gue mulai recording jam 5 pagi. Nunggu dari jam 12 malam. Capek banget, tapi adrenaline-nya naik. Ngomong sama Chandler, sama MrBeast, itu deg-degan banget,” ujarnya sambil tertawa.
Meski lelah, kesempatan itu terlalu berharga untuk dilewatkan. Membangun Dalam 3 Hari: Konsep Paling Menyiksa. Tantangan utama bukan teknis membangun, melainkan konsep. “Yang paling susah itu konsep. Ide itu mahal,” tegasnya.
Yonas membangun semuanya sendirian full solo. Ia hanya berdiskusi ide dengan teman, tetapi seluruh eksekusi dibuat sendiri. Waktu yang diberikan hanya tiga hari, membuat detail harus dikorbankan.
“Kalau dikasih seminggu mungkin bisa lebih megah. Tapi tiga hari ya sudah, limited,” katanya.
Bangunan utamanya adalah kuil Jepang di dalam snow globe bawah laut, lengkap dengan lanskap bertingkat dan pohon sakura.
Ia bahkan memasukkan unsur interior untuk memberi “nyawa” pada bangunan tersebut.
Namun dibanding pesaing lain yang membangun kastil megah dengan banyak ornamen, Yonas sadar ia kalah ukuran. Tetap saja, ia bangga. “Yang penting masuk videonya. Masuk cuy! Itu aja udah senang banget.”
Meski gagal memenangkan hadiah penuh 5.000 dolar, Yonas tetap mendapatkan reward dari tim MrBeast. Nominalnya tidak bisa ia sebut karena aturan, tetapi ia memberi gambaran singkat. “Ya… tiga digit dolar lah. Pokoknya di atas lima juta rupiah,” katanya tertawa.
Selain itu, ia juga dikirimi Visible White Chocolate snack yang biasa muncul di video MrBeast. “Lumayan lah, tapi jujur gue lebih suka SilverQueen,” ujarnya sambil bercanda.
Tidak Sendiri ada Tiga Builder Indonesia Masuk Video. “Lucunya, tiga-tiganya kalah. Tapi bangga aja bisa mewakili Indonesia,” kata Yonas.
Ia juga menjelaskan bahwa komunitas builder Indonesia sangat kompak, tidak egois, dan saling mendukung. Salah satu builder terkenal, Azraelon, menjadi host kompetisi itu karena memiliki audiens besar dan pengalaman membawakan acara.
Yonas memastikan ia akan kembali bertanding jika MrBeast mengadakan season selanjutnya.
“Aman, pasti gue balas. Udah belajar banyak dari yang kemarin. Next time harus lebih siap,” katanya penuh optimisme.
Bagi Yonas, pengalaman ini bukan sekadar kompetisi, tetapi batu loncatan. Dari kamar kecil di Palangka Raya, ia menembus seleksi global, berbicara langsung dengan MrBeast, dan menunjukkan bahwa talenta dari daerah pun bisa tampil di panggung internasional. “Bangga banget bisa bawa nama Indonesia dan Kalteng ke level dunia,” tutupnya. (*/ala)
Editor : Agus Pramono