Kabar Terbaru Hukum & Peristiwa Kabar Kalteng Ekonomi & Bisnis Nasional Olahraga Hiburan Kesehatan Internasional Kuliner Wisata Pena Politik Pendidikan

Ironi Pendidikan di Desa Paring Raya, Seruyan: Ada Murid Membaca Masih Terbata-bata sampai Nyaris Putus Sekolah

Agus Pramono • Selasa, 23 Desember 2025 | 13:10 WIB

 

Anak-anak SDN 1 Paring Raya ketika mengikuti pembelajaran di ruang kelas, Rabu (3/12/2025). DHEA UMILATI/KALTENG POS
Anak-anak SDN 1 Paring Raya ketika mengikuti pembelajaran di ruang kelas, Rabu (3/12/2025). DHEA UMILATI/KALTENG POS

Faktor ekonomi masyarakat di Desa Paring Raya, Kecamatan Hanau juga berdampak pada pendidikan. Padahal desa yang masuk Kabupaten Seruyan ini memiliki banyak industri perkebunan kelapa sawit. Nyatanya perhatian terhadap pendidikan masih minim, itu terlihat di sekolah dasar (SD), masih ditemukan murid yang belum lancar membaca, padahal sudah duduk di kelas 3.

DHEA UMILATI, Kuala Pembuang

POTRET pendidikan di Desa Paring Raya diceritakan oleh Herlina. Dia merupakan Kepala SDN 1 Paring. Empat tahun lalu, kata Herlina, saat pertama kali menginjakkan kaki di Desa Paring Raya, dia disambut oleh pemandangan sekolah yang memprihatinkan, rumput yang tinggi dan akses jalan yang hanya berupa setapak kecil.

Seiiring berjalannya waktu, berkah kegigihannya melobi pemerintah pusat, wajah sekolah kini perlahan mulai membaik. Bangunan tembok dan lantai menggunakan keramik.

“Dulu kita pusing bagaimana memulainya. Saya gencar meminta bantuan hingga akhirnya pemerintah pusat turun tangan melalui dana pusat untuk merehab semua ruangan," ujar Herliana kepada Kalteng Pos, Rabu (3/12/2025).

Tidak hanya bangunan, Herlina juga berhasil mengusulkan pembangunan titian (jembatan kayu) agar anak-anak tidak perlu lagi libur berminggu-minggu saat musim banjir tiba.

Namun, kemajuan fisik ini tidak dibarengi dengan peningkatan kualitas literasi peserta didik. "Anak-anak sekarang belajarnya cuma di sekolah. Kalau di rumah sudah hilang kemungkinan itu," ungkapnya.

Pola pikir masyarakat desa yang masih menganggap pendidikan hanya sebagai formalitas asal sekolah menjadi tembok penghalang bagi kualitas akademik murid. Sebagian besar orang tua di desa belum sepenuhnya melek pendidikan.

Banyak orang tua yang membiarkan anak-anak mereka berangkat ke sekolah tanpa persiapan dasar seperti buku atau pensil, sehingga pihak sekolah harus menyediakan stok peralatan sendiri, agar proses belajar tetap berjalan.

"Di sini, tanggung jawab pendidikan seolah-olah diserahkan penuh kepada sekolah. Kalau di rumah, anak-anak dibiarkan begitu saja tanpa ada pengawasan belajar," tambahnya.

Sikap asal sekolah ini terlihat jelas dari minimnya dukungan orang tua terhadap program pengayaan yang ditawarkan sekolah. Meskipun pihak sekolah telah menawarkan les baca-tulis secara gratis untuk membantu murid yang tertinggal, tidak ada satu pun anak yang datang karena tidak adanya dorongan dari rumah.

Ia mencatat banyak murid kelas 3 SD yang kemampuan membacanya masih terbata-bata, jauh tertinggal dibandingkan standar pendidikan di masa lalu.

Munculnya akses internet seperti Starlink di desa menjadi tantangan baru. Alih-alih digunakan untuk mencari informasi edukatif, fasilitas ini justru membuat anak-anak begadang untuk bermain game atau menonton video.

Dampaknya sangat nyata di dalam kelas. Banyak murid yang sudah mulai mengantuk dan kehilangan konsentrasi sejak pukul 10 pagi. “Sering sekali saya suruh mereka untuk mencuci muka supaya tidak mengantuk lagi," terangnya.

Hal ini merupakan imbas dari pola asuh yang cenderung memanjakan anak dengan gadget, agar mereka tidak mengganggu aktivitas orang tua di rumah.

“Kami tidak bisa bergerak sendiri. Seharusnya sekolah dan orang tua itu sejalan. Jika di rumah anak dibiarkan membantah dan tidak dipantau, pendidikan di sekolah tidak akan maksimal," ujarnya.

Herliana juga menceritakan pengalamannya saat salah satu anak didiknya ingin putus sekolah.

“Saya datangi ke rumahnya, orang tuanya engga ada, hanya ada dia dan adiknya yang masih kecil. Setelah saya ajak ngobrol barulah ketahuan dia malu dengan kawan-kawannya, sering datang terlambat ke sekolah, karena harus menjaga adiknya di rumah sementara orang tuanya bekerja," jelasnya.

Dengan keadaan desa yang serba terbatas ia memahami kondisi tersebut. Oleh karena itu berbagai upaya dilakukan agar anak-anak dan orang tua perlahan-lahan mulai memahami pentingnya pendidikan untuk masa depan anak. (*/ala)

Editor : Ayu Oktaviana
#putus sekolah #akses internet #SDN 1 Paring #Desa Paring Raya #pemerintah pusat #pendidikan #akses jalan #sekolah #baca tulis #standar pendidikan #jembatan kayu #kualitas akademik #masa depan anak