PALANGKA RAYA–Sejarah kekristenan di Kalteng tidak dapat dilepaskan dari perjalanan panjang GKE. Hadir sejak awal abad ke-19, jauh sebelum Republik Indonesia berdiri dan sebelum Kalteng terbentuk, GKE tumbuh dan berkembang seiring denyut kehidupan masyarakat di Bumi Tambun Bungai.
Ketua Umum Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) Wilayah Kalteng, Pdt.Ayang Setiawan Tundan, menegaskan bahwa GKE memiliki posisi yang sangat strategis dalam sejarah kekristenan di Kalimantan, khususnya di Kalteng.
Dari perspektif sejarah, GKE merupakan gereja yang telah hadir sejak sekitar tahun 1830-an dan menjadi salah satu gereja tertua di wilayah Kalimantan.
“GKE adalah gereja yang sudah sangat lama hadir di Kalteng, bahkan sebelum Indonesia merdeka dan sebelum provinsi ini berdiri,” ujarnya kepada Kalteng Pos, Jumat (19/12/2025).
Dengan usia yang hampir dua abad, GKE tidak hanya berfungsi sebagai wadah persekutuan umat Kristiani, tetapi juga berperan besar dalam membangun fondasi sosial, pendidikan, dan kesehatan masyarakat.
Melalui pelayanan pekabaran Injil yang terintegrasi dengan karya di bidang pendidikan dan kesehatan, kehadiran gereja dirasakan hingga ke pelosok-pelosok pedalaman Kalteng.
Eksistensi GKE yang panjang tersebut membuat gereja ini tersebar di seluruh 13 kabupaten dan kota di Kalteng. Warga GKE juga mengambil peran penting dalam berbagai sektor kehidupan, mulai dari pendidikan, kesehatan, hingga pemerintahan.
Banyak jemaat GKE yang tampil sebagai tokoh masyarakat, guru, dosen, tenaga kesehatan, anggota legislatif, hingga kepala daerah, yang menunjukkan bahwa gereja tidak terpisah dari kehidupan sosial masyarakat.
Meski mayoritas jemaatnya adalah masyarakat Dayak, GKE tidak berkembang sebagai gereja suku yang tertutup. Gereja ini tumbuh sebagai gereja lokal yang terbuka, inklusif, dan berjiwa kebangsaan. Pendekatan kontekstual menjadi ciri khas GKE, dengan penggunaan bahasa daerah dalam ibadah, penerjemahan Alkitab ke berbagai bahasa Dayak, serta pengembangan nyanyian rohani lokal.
Relasi dengan adat dan budaya lokal dibangun melalui kehidupan sehari-hari yang menekankan nilai persaudaraan dan kekeluargaan. Pendekatan ini membuat kekristenan berakar kuat di tengah masyarakat tanpa mencabut identitas budaya jemaatnya.
Kesadaran akan panggilan gereja yang diutus ke tengah dunia, semangat oikumenis, serta paham kebangsaan mendorong perubahan nama Gereja Dayak Evangelis menjadi Gereja Kalimantan Evangelis pada Sinode Umum V tahun 1950 di Banjarmasin.
Membuka diri kehadiran gereja lain
Sebagai gereja tertua dan terbesar di Kalteng, GKE memiliki peran sentral dalam perjalanan ekumenisme gereja-gereja di daerah ini. GKE dikenal membuka diri terhadap kehadiran gereja-gereja lain dan aktif membangun kerja sama lintas denominasi dalam pelayanan gerejawi maupun sosial kemasyarakatan.
“GKE dapat dikatakan menjadi motor dari gerakan oikumenis gereja-gereja di Kalimantan Tengah,” ujar Pdt. Ayang.
Dalam berbagai kepanitiaan dan lembaga oikumenis, GKE memberi ruang dan kepercayaan kepada gereja-gereja lain untuk bersama-sama melayani masyarakat dan menaburkan nilai kasih di Kalteng.
Perjalanan awal GKE menyimpan banyak nilai sejarah yang tetap relevan hingga saat ini, seperti semangat juang, kerelaan berkorban, dan keberanian para perintis Injil.
Pendekatan pelayanan yang inklusif dan tidak konfrontatif terbukti mampu menjaga harmoni di tengah masyarakat yang majemuk.
Sejak awal kehadirannya, gereja juga tidak hanya memberitakan Injil melalui kata-kata, tetapi menghadirkan bukti nyata kasih Tuhan melalui pelayanan pendidikan dan kesehatan. Tantangan tersebut masih relevan hingga kini, di tengah perubahan zaman, isu global, serta tantangan era digital yang dihadapi generasi muda.
“Gereja dipanggil untuk tetap menjadi terang di tengah kegelapan dan garam di tengah dunia yang terus berubah,” katanya.(ovi/ala)
Editor : Ayu Oktaviana