PALANGKA RAYA- tengah badai pandemi yang memutus banyak sumber penghidupan, seorang ibu rumah tangga di Palangka Raya memilih bertahan dengan cara sederhana, yakni menjual tiga kotak pizza.
Dari modal Rp120 ribu itulah, Dwi Wulandari menata ulang hidup keluarganya, membangun usaha yang kini dikenal sebagai Pizza Nyambi Momong.
Aroma khas dari adonan pizza yang dipanggang dioven menyeruak di halaman Kantor Gubernur Kalimantan Tengah saat kegiatan Jalan Sehat dan Senam Bersama ASN dalam Rangka Peringatan Hari Desa Nasional Lingkup Pemerintahan Provinsi Kalimantan Tengah, Jumat (9/1/2016).
Di balik kesederhanaan lapak itu, tersimpan kisah tentang keberanian, keuletan, dan harapan yang tumbuh dari keterbatasan.
Dwi Wulandari (34) tak pernah menyangka, tiga kotak pizza yang ia buat dengan sisa uang Rp120 ribu akan menjadi titik balik hidup keluarganya.
Usaha yang kini dikenal dengan nama Pizza Nyambi Momong itu lahir pada 2019, di masa ketika pandemi mulai mengguncang sendi-sendi ekonomi banyak keluarga.
Saat itu, suami Dwi menjadi salah satu korban pemutusan hubungan kerja (PHK) massal. Penghasilan terhenti, sementara kebutuhan hidup terus berjalan. Nama Nyambi Momong pun tercetus di kala ia berjualan sambil mengurus buah hati yang masih kecil.
Dalam situasi terdesak, Dwi yang sebelumnya sepenuhnya berperan sebagai ibu rumah tangga memilih mengambil langkah berani. Tanpa pengalaman bisnis, tanpa modal besar, ia memutuskan berjualan pizza.
“Waktu itu benar-benar nekat. Di kantong cuma ada Rp120 ribu. Dapat tiga kotak pizza. Dijual, diputar lagi, begitu terus,” kenangnya.
Tak ada resep khusus selain kemauan untuk bertahan. Dwi belajar membuat pizza secara otodidak melalui video-video di YouTube. Hari demi hari, ia mengasah kemampuan, memperbaiki rasa, hingga akhirnya mengikuti kelas pembuatan pizza untuk meningkatkan kualitas produknya.
Perlahan, Pizza Nyambi Momong mulai dikenal. Usaha rumahan itu sempat berkembang dengan membuka dua cabang di kawasan Rajawali dan Jalan G Obos, Palangka Raya.
Namun keterbatasan tenaga kerja membuat Dwi kembali merampingkan usaha.
Kini, ia fokus berjualan secara daring, berkeliling pasar malam, serta mengikuti bazar UMKM saat ada kesempatan.
Harga yang ramah di kantong menjadi salah satu kekuatan usahanya. Pizza dengan keju cheddar dijual seharga Rp25 ribu per boks, sementara varian mozzarella dibanderol Rp30 ribu. Meski hanya memiliki dua varian keju, Dwi menawarkan beragam topping seperti buah-buahan, sosis keju, beef paties, ayam pada hitam hingga cokelat keju yang digemari pelanggan.
Dalam sehari, ia tak menghitung penjualan berdasarkan jumlah boks, melainkan dari adonan yang diolah. Rata-rata tiga kilogram adonan habis terjual setiap hari, dengan omzet sekitar Rp900 ribu.
Puncak penjualan pernah ia rasakan saat Pasar Ramadan 2023–2024. Kala itu, pesanan datang bertubi-tubi, termasuk pembelian borongan dari Gubernur Kalteng periode sebelumnya, H. Sugianto Sabran.
Namun bagi Dwi, capaian terbesarnya bukan sekadar angka penjualan. Dari hasil berjualan pizza, ia berhasil membeli sebidang tanah lengkap dengan pondasi rumah, serta sebuah mobil untuk menunjang kebutuhan keluarga.
“Alhamdulillah, semua itu dari hasil jualan pizza,” ucapnya lirih, penuh syukur.
Selain pizza, Dwi juga mengembangkan menu minuman seperti Thai tea, green tea, teh hijau, dan teh bunga telang yang menjadi favorit pelanggan. Seluruh bahan baku diperoleh dari pemasok tetap demi menjaga mutu.
Di balik kesibukan berjualan, Dwi menjalani peran ganda. Bersama sang suami, ia mengelola usaha sekaligus mengasuh tiga anak. Anak sulungnya duduk di kelas 3 sekolah dasar, sementara si bungsu masih berusia satu setengah tahun. Nama Pizza Nyambi Momong pun lahir dari keseharian itu berjualan sambil tetap menjadi ibu.
Sebagai pelaku UMKM, Dwi aktif bergabung dalam berbagai komunitas usaha kecil di Palangka Raya dan rutin mengikuti bazar yang digelar setiap awal bulan.
Dari perjalanan panjangnya, Dwi menyimpan satu pesan sederhana bagi siapa pun yang ingin memulai usaha.
“Jangan terlalu banyak berpikir. Kerjakan saja dulu, jalani dulu. Soal laku atau tidak, nanti akan mengikuti. Yang penting berani mulai,” katanya.
Kini, Pizza Nyambi Momong bukan sekadar usaha kuliner. Ia menjadi saksi bahwa dari dapur kecil dan modal terbatas, harapan bisa tumbuh. Sebuah kisah tentang kegigihan seorang ibu yang memilih bangkit, satu loyang pizza demi satu masa depan.(ovi/ram)
Editor : Ayu Oktaviana