Kabar Terbaru Hukum & Peristiwa Kabar Kalteng Ekonomi & Bisnis Nasional Olahraga Hiburan Kesehatan Internasional Kuliner Wisata Pena Politik Pendidikan

Melihat Dunia Lewat Isyarat: Cara Hangat Huma Sarita Merayakan Hari Tuli Nasional

Kiki KaltengPos • Kamis, 29 Januari 2026 | 18:00 WIB
Anak-anak, relawan, serta pengurus Komunitas Literasi Inklusif Huma Sarita Kalteng foto bersama usai kegiatan. DISPURSIP for  KALTENG POS
Anak-anak, relawan, serta pengurus Komunitas Literasi Inklusif Huma Sarita Kalteng foto bersama usai kegiatan. DISPURSIP for KALTENG POS

Di bawah langit cerah Minggu pagi (18/1), tawa anak-anak berpadu dengan suara dongeng dan gerak tangan bahasa isyarat di kawasan CFD jalan Yos Sudarso. Di tengah keramaian warga yang berolahraga dan bersantai, Komunitas Li­terasi Inklusif Huma Sarita Kalteng bersama Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah Provinsi Kalteng menghadirkan sebuah pesan sederhana namun bermakna, yakni membaca itu menyenangkan, dan perbedaan itu indah.

NOVIA NADYA CLAUDIA, Palangka Raya

RIUH tawa anak-anak, boneka tangan yang menari di udara, serta suara dongeng yang dibacakan nyaring mewarnai kawasan Car Free Day (CFD) Palangka Raya, Minggu pagi, Komunitas Literasi Inklusif Huma Sarita Kalteng tampil menghadirkan suasana berbeda, sebuah panggung kecil edukasi yang mengajak anak-anak mencintai buku sekaligus belajar menerima perbedaan.

Kegiatan yang digelar dalam rangka peringatan Hari Tuli Nasional yang diperingati setiap tahun pada tanggal 11 Januari itu menjadi ruang perjumpaan hangat antara anak-anak, orang tua, relawan literasi, serta teman-teman tuli. Sejak pagi, anak-anak tampak antusias mengikuti sesi read aloud (membaca nyaring), dongeng dengan boneka tangan, hingga pengenalan dasar bahasa isyarat.

Ketua sekaligus Founder Huma Sarita Kalteng, Riethma Yustiningtyas, mengatakan kegiatan di CFD sengaja dirancang untuk mendekatkan literasi kepada anak-anak dengan cara yang menyenangkan dan inklusif.

“Kalau dilihat dari antusiasnya, anak-anak happy sekali. Mereka tertarik, mau mendengar cerita, mau pegang buku. Tujuan utama kami memang menumbuhkan cinta buku dan pemahaman literasi sejak dini,” ujar Riethma.

Menurutnya, literasi tidak hanya soal kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga tentang membangun empati sosial. Karena itu, dalam momen Hari Tuli Nasional, Huma Sarita juga memperkenalkan konsep Teman Dengar dan Teman Tuli kepada anak-anak.

“Kami ingin anak-anak memahami bahwa teman-teman tuli juga punya hak untuk didengar, didengarnya dengan hati. Di sini kami ajarkan bagaimana Teman Dengar menerima Teman Tuli, dan bagaimana Teman Tuli juga merasa diterima di lingkungan kita,” tuturnya.

Suasana makin hidup ketika sejumlah relawan memperagakan huruf-huruf abjad dalam bahasa isyarat. Anak-anak menirukan gerakan tangan dengan penuh rasa ingin tahu. Beberapa orang tua terlihat ikut merekam momen tersebut dengan ponsel mereka.

Riethma menjelaskan, pengenalan bahasa isyarat ini bukan kegiatan dadakan. Di internal Huma Sarita, mereka telah membentuk Hearing Club, sebuah ruang belajar bersama yang mempertemukan teman-teman tuli dari SKH Negeri 1 Palangka Raya dengan teman-teman dengar.

“Di klub ini mereka saling belajar. Teman-teman tuli belajar pelafalan huruf, teman-teman dengar belajar abjad bahasa isyarat. Mereka saling sharing dan antusias sekali,” katanya.

Ia menegaskan pentingnya masyarakat umum mengenal bahasa isyarat sebagai bagian dari upaya menciptakan lingkungan yang inklusif.

“Yang pasti kami ingin teman-teman tuli merasa diterima di masyarakat luas. Di Palangka Raya ini masih banyak teman tuli yang belum percaya diri tampil di depan umum. Dengan sering dilibatkan, kami berharap mereka lebih berani, dan masyarakat juga makin inklusif,” ujarnya.

Riethma menambahkan, perbedaan antara Teman Dengar dan Teman Tuli sejatinya hanya pada aspek pendengaran.

“Perbedaannya hanya itu saja. Selebihnya tidak ada perbedaan berarti. Kita masih bisa berkomunikasi dengan mereka, dan mereka juga berusaha memahami kita lewat gerak bibir,” katanya.

Kegiatan di CFD ini juga menjadi bagian dari kolaborasi Huma Sarita dengan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispursip) Provinsi Kalteng. Kedua pihak telah menandatangani nota kesepahaman (MoU) kerja sama.

Dalam kerja sama tersebut, sejumlah program telah disiapkan, mulai dari kolaborasi perpustakaan keliling, roadshow to school dengan kegiatan dongeng, podcast bedah buku di perpustakaan, hingga program magang inklusif bagi teman-teman tuli.

“Perpustakaan Kalteng membuka kesempatan untuk teman-teman tuli magang di sana. Satu orang kemarin sudah mau dicoba. Teman-teman Dispursip juga tertarik belajar bahasa isyarat supaya bisa melayani kalau ada pengunjung tuli,” jelas Riethma.

Ke depan, kegiatan literasi inklusif ini tidak hanya berhenti di CFD. Dispursip Kalteng akan menggilir kolaborasi dengan berbagai komunitas literasi setiap pekan. Setelah Huma Sarita, giliran komunitas lain, seperti Pensil Kertas, akan mengisi agenda berikutnya.

Huma Sarita sendiri telah menyiapkan agenda lanjutan berupa roadshow ke sekolah-sekolah dengan konsep dongeng inklusif yang memadukan cerita, ilustrasi, dan bahasa isyarat.

Pagi itu, di tengah udara segar CFD Palangka Raya, Huma Sarita tidak sekadar membacakan cerita. Mereka sedang menanamkan benih, tentang cinta buku, tentang empati, dan tentang sebuah masa depan kota yang lebih ramah bagi semua, tanpa kecuali. (*/ala)

Editor : Ayu Oktaviana
#Hari Tuli Nasional #Teman tuli #Huma Sarita #SKH Negeri 1 Palangka Raya #perpustakaan keliling #Dispursip Provinsi Kalteng #Literasi Inklusif #car free day #Literasi Inklusif Huma Sarita Kalteng #komunitas literasi #bahasa isyarat #Huma Sarita Kalteng #read aloud