Kabar Terbaru Hukum & Peristiwa Kabar Kalteng Ekonomi & Bisnis Nasional Olahraga Hiburan Kesehatan Internasional Kuliner Wisata Pena Politik Pendidikan

Bikin Merinding, Kisah Perjalanan Desi Berhasil Melawan Kanker Ganas yang Tumbuh di Tenggorokan

Agus Pramono • Selasa, 10 Februari 2026 | 09:00 WIB
Desi rayakan Hari Kanker Sedunia bersama survivor kanker di RSUD Doris Sylvanus. Inset: Kondisi Desi saat mengidap kanker. SHAFA KAMILA/KALTENG POS
Desi rayakan Hari Kanker Sedunia bersama survivor kanker di RSUD Doris Sylvanus. Inset: Kondisi Desi saat mengidap kanker. SHAFA KAMILA/KALTENG POS

Tiga hari setelah mengenakan toga dan merayakan kelulusan pascasarjana Magister Pendidikan Bahasa Inggris pada Agustus 2013, Desi justru dihadapkan pada kabar paling menakutkan dalam hidupnya. Dokter mendiagnosisnya mengidap kanker limfoma ganas yang tumbuh di dalam tenggorokan. Kisah Desi berhasil melawan kanker ganas ini menjadi insiprasi masyarakat luas.

FITRI SHAFA KAMILA, Palangka Raya

SAAT itu, Desi baru saja menuntaskan satu fase penting dalam hidupnya. Masa depan terasa terbentang luas. Namun, semua mimpi seakan runtuh seketika ketika dokter menyampaikan kondisi yang sebenarnya. Kanker di tenggorokannya telah mekar menyerupai kembang kol dan mengancam pernapasan serta pencernaan.

“Dokter bilang saya harus segera dioperasi. Kalau tidak, hidup saya hanya bertahan satu tahun,” ujar Desi mengenang detik-detik paling getir itu, Kamis (5/2/2026).

Vonis tersebut membuatnya terpukul. Rasa kaget, sedih, dan tak percaya bercampur menjadi satu. Desi bertanya-tanya, mengapa dirinya yang terserang kanker, padahal tidak ada riwayat penyakit serupa dalam keluarganya.

“Saya sempat bertanya dalam hati, kok bisa saya yang kena,” katanya.

Namun, di balik guncangan itu, Desi berusaha menanamkan keyakinan bahwa penyakit ini bukan akhir dari segalanya.

Perjuangan Desi melawan kanker tidak langsung berjalan di jalur medis. Keterbatasan pengetahuan orang tua tentang dunia kedokteran pada masa itu membuat keluarga ragu menjalani operasi.

Berbagai mitos tentang kanker bahwa penyakit itu bisa menyebar jika “kena pisau” masih sangat dipercaya.

Selama satu setengah tahun, Desi menjalani pengobatan tradisional. Orang tuanya membawanya berkeliling Kalimantan Tengah, mencari siapa saja yang diyakini mampu menyembuhkan, bahkan lintas agama.

Alih-alih membaik, kondisi Desi justru semakin parah. Kanker yang awalnya hanya berada di tenggorokan menyebar hingga ke leher dan pipi.

Kanker limfoma.
Kanker limfoma.

Darah mulai keluar dari mulut. Untuk tidur saja, Desi tak bisa berbaring normal. Ia harus tidur dalam posisi duduk selama berbulan-bulan karena jika terlentang, napasnya tercekik.

“Saya lapar tapi makanan tidak bisa masuk. Kalau makan, pasti tersedak dan keluar lewat hidung,” tuturnya.

Makan bukan lagi aktivitas sederhana, melainkan perjuangan. Semua makanan harus diblender hingga sangat halus, menyerupai air minum. Itu pun hanya mampu masuk satu sendok makan.

Tubuhnya semakin lemah, berat badannya turun drastis hingga hanya 20 kilogram. Untuk berbicara pun sulit, suaranya terdengar tidak jelas. Berjalan sudah tak mungkin lagi.

Ke mana-mana Desi digendong atau didorong dengan kursi roda oleh kedua orang tuanya. Meski fisiknya terbaring tak berdaya, semangat hidupnya tak pernah benar-benar padam.

“Kalau mau mandi, saya hanya diseka. Tapi di dalam hati, saya tidak pernah berpikir akan meninggalkan dunia ini,” kata Desi.

Maret 2015 menjadi titik balik. Kondisinya yang kian memburuk membuat orang tua akhirnya menyerah pada pengobatan tradisional dan membawa Desi kembali ke rumah sakit.

Dari RSUD Doris Sylvanus Palangka Raya, ia dirujuk ke RS Ulin Banjarmasin, sebelum akhirnya menjalani pengobatan intensif di RS Suaka Insan Banjarmasin. Di sanalah Desi mulai menjalani proses medis dengan sepenuh hati.

Dalam masa-masa paling sulit itu, peran orang tua menjadi kekuatan utama. Ayah dan ibunya setia mendampingi Desi pagi, siang, dan malam.

Mereka mengurus semua kebutuhan, mendoakan tanpa henti, membacakan Firman Tuhan, dan memutarkan lagu-lagu rohani, baik di rumah maupun di rumah sakit.

“Mereka rela mengorbankan pekerjaan dan hidupnya hanya untuk saya,” ujarnya.

Pengorbanan kedua orang tuanya membekas sangat dalam. Desi mengaku belum mampu membalas sepenuhnya cinta dan ketulusan mereka. Kenangan itu kian terasa haru karena sang ayah telah berpulang satu tahun lalu.

“Saat saya sakit, saya belum menikah, belum bertemu suami saya. Yang ada hanya papa dan mama,” katanya lirih.

Desi percaya, kesembuhan bukan hanya soal obat dan tindakan medis. Ia memandang proses itu sebagai perpaduan dari banyak faktor.

“Bagi saya, 25 persen keluarga, 25 persen diri sendiri, 25 persen medis, dan 25 persen lingkungan sekitar,” ujarnya.

Namun yang paling utama tetaplah kekuatan dari dalam diri. Menurutnya, pikiran positif dan semangat hidup adalah imun terkuat melawan kanker. Ia menolak tenggelam dalam rasa iba pada diri sendiri. Desi memilih untuk tetap tersenyum meski tubuhnya kesakitan.

“Jangan pernah berpikir menyerah. Jangan berpikir hidup akan berakhir,” katanya.

Sejak awal sakit, ia meyakini bahwa harapan selalu ada, selama ia mau mengikuti proses pengobatan dan berserah kepada Tuhan. Keyakinan itulah yang membawanya hingga ke titik kesembuhan. Saat dokter menyatakan dirinya bebas dari kanker, Desi tak kuasa menahan haru.

“Saya sangat bahagia dan bersyukur. Semua tangis, air mata, tenaga, waktu, dan doa itu tidak sia-sia,” ucapnya.

Kini, Desi menjalani hidup dengan cara pandang yang berbeda. Ia lebih menghargai dirinya sebagai ciptaan Tuhan, lebih mencintai hidup dan aktif dalam kegiatan sosial serta pelayanan. Ia juga kerap membagikan semangat kepada para pejuang kanker lainnya.

“Tetaplah terlihat sehat dan cantik walaupun sedang sakit. Pikiranlah bahwa kita sudah sembuh,” pesannya.

Bagi Desi, setiap tarikan napas adalah anugerah. Kesempatan kedua yang tidak semua orang miliki. Ia pun menekankan pentingnya deteksi dini dan pola hidup sehat. Dari ambang napas terakhir, Desi belajar satu hal hidup bukan soal berapa lama tetapi bagaimana seseorang menjalaninya dengan penuh makna, syukur dan harapan.

Setelah kesembuhannya dari penyakit yang pernah di deritanya, ia juga tidak melupakan teman-teman seperjuangan yang mengalami hal serupa.

Desi bukan saja bekerja namun ia juga mengabdikan dirinya untuk membantu memberikan dan semangat kepada teman-teman survivor kanker seperti di RSUD Doris Sylvanus agar yakin bahwa penyakit tersebut dapat sembuh selama mau berobat,

Di dalam hati tertanam keyakinan bahwa pertolongan Tuhan akan datang kepada setiap mereka yang berjuang dan tekad untuk sembuh tertancap di dalam dada.

“Deteksi dini sangat penting, supaya kanker bisa ditangani lebih cepat dan peluang kesembuhan semakin besar,” katanya. (*/ala)

Editor : Ayu Oktaviana
#pola hidup sehat #deteksi dini #kegiatan sosial #pelayanan #melawan kanker #pengobatan tradisional #kalimantan tengah #banjarmasin #kanker #survivor kanker #RSUD Doris Sylvanus #kanker limfoma #pengobatan #magister