Kabar Terbaru Hukum & Peristiwa Kabar Kalteng Ekonomi & Bisnis Nasional Olahraga Hiburan Kesehatan Internasional Kuliner Wisata Pena Politik Pendidikan

Pernah Tinggal di Gubuk Rongsokan dan Mimpikan Hunian Nyaman, BTN Hadir Wujudkan Rumah Idaman

Anisa Bahril Wahdah • Jumat, 20 Februari 2026 | 06:24 WIB
Aktivitas Agus bersama Novita dan pekerja bangunan saat renovasi rumahnya di Jalan Nagasari D/1, Kota Palangka Raya, Minggu (15/2/2026). ANISA/KALTENG POS
Aktivitas Agus bersama Novita dan pekerja bangunan saat renovasi rumahnya di Jalan Nagasari D/1, Kota Palangka Raya, Minggu (15/2/2026). ANISA/KALTENG POS

Memiliki rumah idaman menjadi impian setiap perempuan. Menyajikan setiap menu untuk keluarga terkasih dari dapur yang rapi dan bersih. Lagi-lagi, BTN hadir Mewujudkan Impian. Itulah yang dirasakan Agus dan Novita. Mulai dari realisasi KPR hingga renovasi rumah.

 

ANISA B WAHDAH, Palangka Raya

 

DI bawah terik mentari, dua pria paruh baya berkulit gelap seakan melawan panasnya Kota Palangka Raya dengan suhu 34 derajat. Berlindung dengan topi sebagai penutup kepala, sedikit meringankan rasa panas yang terpancar langsung dari sang surya.

Tukang bangunan dan kenek tampak kompak menyelesaikan misi mereka hari itu. Kenek mengaduk mortar dan tukang menyusun bata. Mereka melanjutkan proyek yang belum selesai di hari sebelumnya.

Itulah keseharian dua pekerja bangunan yang telah di kontrak Agus. Beberapa waktu terakhir ini, mereka tengah menjalankan proyek pembangunan dapur dan renovasi Kredit Kepemilikan Rumah (KPR) bersubsidi Bank Tabungann Negara (BTN) di Jalan Nagasari D/1, Kota Palangka Raya.

Tidak tinggal diam, di sela-sela memantau para pekerja, Agus kerap turun langsung membantu dua pria berotot kawat itu. Sekadar mendorong arco, bukan hal yang sulit baginya.

Pemandangan lain terlihat dari sisi kanan dan depan rumah tipe 36 itu. Bunga mawar tumbuh memenuhi sisa lahan rumag, menjadikan keindahan dari sebuah KPR bersubsidi. Terlihat seorang perempuan hitam manis memancarkan senyum merekah. Seperti mekarnya bunga mawar yang dirawatnya.

Itulah kesibukan Agus dan istrinya Novita, serta dua pekerja bangunan di rumahnya, Minggu siang (15/2/2026). Genap satu dekade menempati rumah yang ia ambil melalui kredit di BTN, Agus ingin menjadikan huniannya tidak hanya nyaman, tetapi menjadi rumah idaman.

“Sudah sepuluh tahun menempati rumah ini, ingin renovasi menjadi rumah idaman yang didambakan istri,” kata Agus, saat dibincangi di sela-sela aktivitasnya siang itu.

Agus menceritakan perjuangannya bisa tinggal di rumah dengan bangunan beton yang ia huni bersama keluarga kecilnya itu. Sembari mengingat masa-masa sulit 21 tahun silam, di mana ia pernah tinggal di sebuah gubuk pengepul rongsokan, di Jalan Hiu Putih Palangka Raya.

Kerasnya Hidup di Perantauan, Bak Kerasnya Alas Tidur di Gubuk Rongsokan

Cerita panjang perjuangannya dimulai sejak ia menginjakkan kaki di Kota Palangka Raya, tahun 2005 silam. Meninggalkan tanah kelahiran di Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, ia harus berhadapan dengan kerasnya hidup sebagai anak perantauan.

“Awal datang ke Palangka Raya saat itu masih berusia 18 tahun, bekerja sebagai kuli angkut rongsokan. Kalau ada pengepul rongsokan datang, saya sebagai kuli angkutnya,” kenang Agus saat dibincangi di rumahnya.

Tidak hanya untuk bekerja, tempat pengepul rongsokan ini juga menjadi tempat ia berlindung dari panas dan berteduh dari hujan. Meski terik dan hujan kerap menjadi teman sehari-hari yang menempa diri.

“Datang ke sini modal nekat. Diajak kakak, namun saya diajarkan untuk mandiri dan bekerja keras. Memang tujuan untuk merantau, tapi tidak ada pekerjaan pasti yang dituju, ketika ada peluang sebagai kuli rongsokan, ya dijalani,” kenang dia.

Merasa tak memiliki keahlian, dua tahun menjadi kuli rongsokan, Agus pulang ke Kampung Halaman. Tujuannya untuk mencari ilmu sebagai bekal kembali mengembara. Satu tahun mengumpulkan bekal, ia kembali ke Bumi Tambun Bungai menjadi seorang perajin pot bunga.

“Tahun 2007 kembali ke Kota Palangka Raya, saya mendapat modal dari kakak untuk membuka usaha pot bunga, karena sudah ada bekal ilmu yang saya pelajari selama satu tahun di Jawa,” kata pria yang lahir pada 20 Agustus 1987 ini.

Menyewa sepetak toko di pinggir jalan, di sinilah ia mulai memproduksi pot bunga beton. Pasir dan semen menjadi sahabat sehari-hari dalam mengais rezeki. Toko sepetak ini pun juga satunya-satunya tempat, untuk bekerja dan juga tempat tinggal.

“Membuat pot bunga di toko itu, termasuk juga untuk tempat tinggal. Sendirian,” katanya.

Tanah rantau tak lagi terasa menyakitkan. Namun, keinginan untuk tinggal di hunian nyaman terus dipikirkan. Meski demikian, ia masih harus bertahan di kontrakan sepetak yang ia sewa di jalur hijau itu.

Usaha berjalan dengan lancar dan sudah memiliki karyawan. Pria yang biasa disapa Pece itu, ingin menjajal pekerjaan sampingan yang bisa dikerjakan di sela-sela kesibukannya menjadi perajin pot bunga.

“Saya menjadi loper koran di Kalteng Pos. Pekerjaanya pagi, mengantar koran ke pelanggan. Lumayan untuk penghasilan tambahan,” ucap pria 39 tahun ini.

Ujian datang ketika para karyawan mengundurkan diri dan membuka usaha sendiri. Saingan meningkat hingga usaha pun perlahan dilepas. Sejalan dengan itu, toko yang ia sewa juga digusur oleh pemerintah karena masuk dalam ruang terbuka hijau (RTH).

“Usaha sudah tidak jalan, tempat juga sudah digusur. Padahal toko itu menjadi satu-satunya tempat tinggal,” kisahnya, mengenang luka saat itu.

Tidak lama dari itu, ia meminang kekasihnya, Novita. Melanjutkan perjuangan dengan tinggal di kos, menjadi awal cerita perjalanan rumah tangga Agus dan Novita yang menikah pada 11 November 2011 itu.

“Awal menikah langsung tinggal di kos sepetak, sebulan membayar Rp300 ribu,” katanya.

Di bawah terik mentari, dua pekerja melakukan proses pengecoran.
Di bawah terik mentari, dua pekerja melakukan proses pengecoran.

Merasa tidak nyaman dengan tempat tinggal yang sempit, keduanya memutuskan memilih rumah kontrakan. Tinggal di komplek perumahan KPR bersubsidi BTN dengan tipe 36, keduanya merasa nyaman.

“Mulai merasa nyaman karena tinggal di rumah, tidak lagi di kos. Lingkungan perumahan juga tenang,” ujar pria berkulit sawo matang itu.

Namun, rasa ingin memiliki rumah masih membayangi istrinya, Novita. Keduanya ingin menjadi lebih tenang dengan memiliki rumah sendiri. Terlebih, uang Rp500 ribu yang harus dibayarkan kepada pemilik rumah, akan menjadi rugi bagi keduanya.

“Lama-lama berpikir. Tinggal di perumahan KPR 36 dan membayar Rp500 ribu setiap bulan. Logikanya, kenapa tidak ambil rumah sendiri, yang pada akhirnya menjadi hak pribadi, cicilannya tidak jauh dari harga sewa rumah,” jelasnya.

Dalam kondisi mengandung anak pertama, tepatnya tahun 2015, Agus dan Novita keliling di wilayah Kota Palangka Raya mencari KPR bersubsidi. “Ingat, waktu itu istri sedang mengandung. Naik motor keliling mencari KPR bersubsidi,” jawabnya.

 

BTN Menjadi Solusi, Cicilan KPR Dimulai

Akhir 2015, keduanya tertarik dengan salah satu komplek perumahan di Jalan Nagasari. Pertimbangannya, perumahan ini tidak jauh dari akses jalan raya dan ada satu bangunan rumah yang berada di ujung jalan utama dengan kelebihan tanah.

“Kebetulan rumah di posisi yang saya incar dengan kelebihan tanah itu belum ada yang booking, saya bersama istri akhirnya mantap memilih rumah itu,” ujar pria hobi berkebun ini.

Mencoba menghubungi developer melalui papan plang di pinggir Jalan. Dengan uang muka Rp8 juta dan membayar sisa lebih tanah Rp18 juta, awal tahun 2016 Agus bersama istrinya bisa menempati rumah dengan luas bangunan 36 meter persegi dengan luas lahan 287 meter persegi itu.

“Tanah asli KPR ini luas 10x19 meter atau 190 meter persegi, kemudian ada lebihan tanah lima meter, sehingga totalnya 15x19 meter atau 287 meter persegi,” cerita dia, sembari menghitung luas tanah perumahannya.

Setiap bulan, Agus harus membayar cicilan rumah sebesar Rp875 ribu dengan jatuh tempo 15 tahun. Genap satu dekade, Agus dan istri beserta putri semata wayangnya tinggal di rumah ini.

“Cicilan Rp875 flat, dari awal cicilan hingga jatuh tempo tetap Rp875 ribu, tidak ada kenaikan,” ucapnya.

Ia mengaku bersyukur dengan program KPR bersubsidi BTN ini, lantaran semua proses dari awal pengajuan hingga akad berjalan lancar. Menurutnya, BTN merupakan bank penyalur kredit perumahan dengan harga yang lebih murah daripada bank lainnya.

“Bersyukur selama proses pengajuan dipermudah dan lancar, dalam pembayaran pun kami tidak terkendala, saya tidak pernah nunggak cicilan,” tegasnya.

Agus mengaku selalu tertib dalam proses pembayaran hingga tidak pernah mencatatkan diri sebagai penunggak cicilan. Menurunnya, KPR ini sebuah amanah yang harus ditunaikan kewajibannya, yakni membayar angsuran bulanan.

“Bayar rumah selalu saya utamakan, istri selalu mengingatkan agar saya tidak terlena dan lupa, bersyukur tidak pernah terlambat,” tambahnya.

Bahkan, saat pandemi Covid-19 melanda Indonesia yang juga berdampak terhadap perekonomian di Kalteng, Agus selalu mengutamakan pembayaran cicilan rumah. Meski saat itu BTN memberikan keringanan kepada debitur dengan program penangguhan.

“Saat itu memang BTN menawarkan kepada saya agar saya mengajukan penangguhan pembayaran cicilan, dampak dari menurunnya perekonomian saat itu,” tuturnya.

Namun, ia menolak tawaran itu dan tetap membayarkan cicilan sebelum jatuh tempo bulanan. Meski ia menolak tawaran penangguhan, BTN memberikan kelonggaran apabila nasabah terlambat dalam pembayaran.

“Namun, saat itu tetap saya membayar sesuai dengan tagihan, karena memang uangnya ada. Meski perekonomian terdampak, tetapi uangnya ada untuk membayar, ya harus dibayar,” tandasnya.

 

Ingin Punya Rumah Idaman, BTN Kembali Hadirkan Pertolongan

Memiliki hobi menanam bunga, istri Agus, Novita, mengisi kekosongan waktu dengan membudidayakan bunga mawar di sisa lahan sebelah rumahnya.

Siapa sangka, dari sebuah mawar, Novita bisa menghasilkan keuntungan. Dari satu bunga mawar yang ia rawat, akhirnya menjadi ratusan pot bunga mawar yang kerap panen saat waktunya tiba.

Satu bunga mawar ia banderol Rp500, ia bisa menghasilkan Rp100 ribu sampai Rp200 ribu sekali panen.

“Awalnya sekadar hobi, kemudian ada yang membeli. Menjadi semangat untuk membudidayakan. Akhirnya semakin banyak bunga mawar yang saya tanam, kerap panen dan menghasilkan uang,” cerita Novita, di sela-sela kesibukannya membersihkan setiap pot bunga mawar.

Tidak hanya bunga mawar, di sisa lahan yang ada, ia juga menanam beberapa macam sayuran yang juga menghasilkan cuan. Seperti daun bawang, seledri, beberapa sayuran lainnya termasuk serai.

“Daripada kosong lebih baik dimanfaatkan, apalagi bisa hasilkan keuntungan,” kata perempuan kelahiran Martapura, Kalimantan Selatan ini.

Sebagai seorang ibu rumah tangga yang sehari-hari mengurus rumah, tentu menginginkan rumah idaman yang nyaman. 15 tahun membangun rumah tangga bukan waktu yang mudah bagi Novita. Rumah ini menjadi saksi perjuangan keluarga kecil mereka.

Menyediakan sarapan untuk suami sebelum berangkat kerja dan menyiapkan bekal untuk Aqila, putrinya, sudah menjadi rutinitas Novita sehari-hari. Dari dapur sederhana berbahan seng itulah, menu makanan yang diolah dengan kasih sayang ia sajikan.

“Alhamdulillah, kami selalu mengutamakan real food, boleh makan di luar tetapi itu sesekali, meski dari dapur sederhana tetapi bisa memberikan menu makan bergizi untuk suami dan anak tercinta,” kata perempuan yang biasa disapa Ita ini.

Novita ingin memiliki dapur berbahan beton yang nyaman sesuai idaman. Setelah berdiskusi panjang dengan suami, akhirnya keduanya memutuskan untuk memanfaatkan program manfaat layanan tambahan (MLT) dari Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan. Ia bersama suami mengajukan pinjaman dana renovasi rumah ke BTN dengan memanfaatkan program MLT itu.

“Saya bersama suami awalnya ke BTN, menyampaikan niat kami untuk renovasi rumah dengan memanfaatkan program MLT dari BPJS Ketenagakerjaan ini,” kisah Novita.

Setelah mendapat penjelasan dari pihak bank, ia kembali berdiskusi dengan suami dan akhirnya melakukan pengajuan ke BTN. Proses awal dilakukan pengecekan melalui Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK) Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

“Dari data yang ada, nama suami saya sebagai calon debitur aman. Tidak ada kecacatan dalam hal keuangan. Mungkin karena kami tidak pernah menunggak membayar cicilan, kami juga tidak memiliki hutang baik di BTN maupun di bank lain selain rumah ini,” cerita perempuan 37 tahu ini.

Selain itu, petugas BTN juga melakukan pengecekan di BPJS Ketenagakerjaan. Hasilnya, iuran kepesertaan juga aman, dalam artian lancar dibayarkan oleh perusahaan.

“Juga dilakukan pengecekan, berapa lama menjadi peserta BPJS Ketenagakerjaan, hasilnya kami mendapat verifikasi dan lolos dari pihak BPJS Ketenagakerjaan,” ucapnya.

Pihak BTN dengan kooperatif memberikan informasi dan pendampingan terkait berkas-berkas yang diperlukan untuk pengajuan renovasi ini. Setelah berkas-berkas terpenuhi, BTN melakukan survei ke rumah keduanya, yang berjarak 11 kilometer dari pusat ibu kota Kalteng ini.

“Petugas BTN dua kali melakukan survei di sini, mereka memastikan bahwa dana yang saya ajukan bener-bener untuk pembangunan,” ujarnya.

Terlebih, saat petugas melakukan survei, sudah ada bangunan dasar yang terbangun. Hanya saja memang saat itu terkendala kekurangan dana untuk proses renovasi dan pembangunan dapur.

“Iya, saya sudah mulai membangun dapur tetapi hanya dasarnya saja, karena terkendala dana sehingga saya mengajukan pinjaman ke BTN dengan skema program MLT,” jawabnya.

Setelah dua pekan pengajuan, tepatnya 7 Februari 2026, dana yang diajukan mendapat approved sebesar Rp135.750.000 dari pengajuan sebesar Rp150.000.000.

“Memang dihitung dari harga rumah dan juga penghasilan, tapi sangat bersyukur karena realisasi dana tidak jauh dari angka yang kami ajukan,” tambahnya.

Dengan demikian, melalui pinjaman ini status kredit rumah sudah lunas dan lanjut kredit dana renovasi. Sertifikat rumah pun sudah dikeluarkan, namun lanjut menjadi agunan sebagai jaminan pinjaman dana yang baru saja ia pinjam.

“Sertifikat langsung jadi jaminan, tetap ditahan di BTN karena kreditnya lanjut,” tegasnya.

Dari dana yang ia terima itu, setiap bulan Novita dan suaminya harus membayar cicilan sebesar Rp1.677.000 dengan jatuh tempo sampai sepuluh tahun, yakni tahun 2036.

“Terimakasih BTN, lagi-lagi BTN menjadi solusi kami dalam mendapatkan hunian nyaman. Dulu ingin memiliki rumah diwujudkan oleh BTN, sekarang ingin merenovasi, juga kembali diwujudkan BTN,” ucapnya dengan terharu.

 

Tukang bangunan saat proses renovasi KPR bersubsidi BTN di rumah Agus.
Tukang bangunan saat proses renovasi KPR bersubsidi BTN di rumah Agus.

Tertib Administrasi, Peserta BPJS Ketenagakerjaan Dapat Reward MLT

Sementara itu, Kepala BPJS Ketenagakerjaan Cabang Palangka Raya Subhan Adi Nugroho melalui Kepala Bidang Pelayanan Diska Ardi Septamikella mengatakan, program MLT merupakan reward yang diberikan oleh BPJS Ketenagakerjaan kepada peserta.

Syaratnya, pekerja yang didaftarkan oleh perusahaan sudah terdaftar menjadi kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan minimal satu tahun, perusahaan mendaftarkan gaji pekerja sesuai UMK, kemudian tenaga kerja di perusahaan sudah didaftarkan secara keseluruhan, iuran kepesertaan dibayarkan rutin hingga tertib administrasi.

“Jadi ini ada kaitannya dengan perusahaan di mana peserta itu bekerja, apabila perusahaan tertib dan pekerja memenuhi syarat, maka program MLT bisa dirasakan oleh peserta,” katanya saat dibincangi, Rabu (18/2/2026).

Menurunya, MLT ini merupakan program kerja sama bersama pihak perbankan. Di Kalteng, hingga saat ini BPJS Ketenagakerjaan hanya menjalin kerja sama dengan BTN.

“Hingga saat ini memang kami masih menjalin kerja sama dengan BTN, karena hanya BTN yang siap, dan koordinasi terkait pembangunan perumahan memang lebih mudah dengan BTN,” kata perempuan berkerudung ini.

Dias, panggilannya, menjelaskan bahwa MLT ini merupakan program dalam bentuk hadiah kepada pekerja yang memenuhi syarat untuk mendapatkan subsidi pengajuan KPR, DP perumahan, renovasi rumah dan subsidi jasa konstruksi.

“Untuk DP perumahan, KPR dan renovasi rumah ini reward kepada pekerja, bagi yang punya usaha perumahan juga bisa mengajukan pinjaman ke BTN yang bekerja sama dengan kami,” ucapnya.

Dengan memanfaatkan program MLT ini, debitur mendapat manfaat dengan suku bunga lebih kecil daripada konvensional, lantaran mendapat subsidi bunga dari BPJS Ketenagakerjaan. Tentu, dalam proses pengajuannya, terlebih dahulu harus lolos SLIK OJK.

“Baru bisa melakukan pengajuan MLT apabila lolos SLIK OJK,” singkatnya.

Setelah lolos SLIK OJK, peserta BPJS Ketenagakerjaan bisa melakukan pengajuan ke BTN. Proses selanjutnya, BTN melakukan koordinasi dengan BPJS ketenagakerjaan.

“Nanti BTN nanya kami, approve nggak? Kami akan cek syarat-syaratnya, apabila sudah ceklis semua, kami berikan persetujuan untuk peserta tersebut mendapatkan MLT ini,” ujarnya.

Menurutnya, semua proses pengajuan di BTN. Pekerja yang ingin mendapatkan informasi terkait program ini bisa ke BPJS Ketenagakerjaan atau langsung ke BTN.

“Datang ke kami pun ujung-ujungnya kami arahkan ke BTN,” tegas dia.

Dalam menjalin kerja sama dengan BTN dalam program ini, ia mengaku koordinasi dan komunikasi terjalin dengan baik. BPJS ketenagakerjaan juga bisa memantau proses pengajuan hingga realisasi program ini kepada peserta.

“Yang terpenting komunikasi, mereka selalu berkoordinasi dan diskusi dengan kami tentang calon debitur yang mengajukan pinjaman,” tutur Dias.

Target realisasi tahun 2025 dapat tercapai dengan kerja sama yang baik bersama BTN dalam segala bidang. Tahun 2025, lanjutnya, realisasi program MLT di Kalteng sebanyak sembilan dari target tujuh peserta lolos program MLT ini.

“Angka ini juga mengalami kenaikan signifikan dari tahun 2024, dari target tujuh orang, hanya terealisasi dua orang saja,” kisahnya.

Tentu, hal-hal yang perlu dibenahi di 2024 menjadi pelajaran, sehingga terjadi peningkatan realisasi. Untuk itu, di awal 2025 pihaknya berkoordinasi dengan BTN dengan mengencangkan sosialisasi.

“Tahun 2026 ini, memang belum ditetapkan target realisasi, namun tentu tidak jauh dari tahun-tahun sebelumnya,” katanya.

Dalam menyukseskan program ini, pihaknya menggelar sosialisasi besar-besaran ke perusahaan dan turun langsung kepada pekerja sebagai peserta BPJS Ketenagakerjaan. Menurunya, dengan turun langsung ke pekerja, sosialisasi lebih cepat dan tepat.

“Tahun 2026 ini, kami sudah berkoordinasi dengan BTN, rencananya di akhir Februari ini kami akan mengumpulkan para developer, bagaimanapun mereka yang menyediakan rumahnya,” jawab Dias.

Dalam pertemuan itu, pihaknya akan meminta pengembang untuk memberikan booklet terkait perumahan dari masing-masing developer. Nantinya, booklet itu juga akan ditawarkan oleh BPJS Ketenagakerjaan kepada para peserta saat sosialisasi program MLT ini.

“Dengan booklet ini nanti kami sosialisasi, ini lho yang bisa dipilih para pekerja,” tegasnya.

Jika pekerja sudah memiliki rumah kemudian ingin melakukan renovasi, bisa menggunakan program MLT ini dengan sistem top up. Cicilan yang sedang berjalan ditambah dengan cicilan dana untuk renovasi menggunakan MLT ini.

“Itu bisa. Ada peserta yang demikian. Ada yang renovasi dapur, garasi, fasad depan rumah, halaman dan lainnya,” tambahnya.

Ia menegaskan, bahwa program ini hanya bisa didapatkan oleh peserta yang didaftarkan oleh perusahaan. Dalam artian, peserta yang daftar mandiri atau pekerja informal, belum bisa mengajukan program MLT ini.

“Kalau didaftarkan perusahaan ada pihak lain yang ikut bertanggung jawab terhadap tenaga kerja, kalau informal tidak ada perusahaan pelindung, itu risiko jauh lebih tinggi,” paparnya.

Dias mengaku bahwa antusias masyarakat terhadap program ini cukup tinggi, banyak pekerja yang tertarik dengan MLT ini. Namun, beberapa harus gagal dengan berbagai alasan, misal gagal di SLIK OJK, ada juga yang mengajukan bukan untuk rumah pertama.

“MLT ini hanya untuk pekerja dengan pengajuan kepemilikan rumah pertama,” timpal Dias.

Dua pekerja melakukan proses pembangunan dapur KPR.
Dua pekerja melakukan proses pembangunan dapur KPR.

Selain itu, perusahaan yang tidak tertib iuran juga menjadi kendala peserta yang ingin mendapatkan program ini. Ada pula perusahaan yang melaporkan gaji pekerja tidak sesuai UMK.

“Kalau dari sisi wilayah, tersebar di wilayah Kalteng hingga ke kabupaten, ada pula yang di Kalteng,” katanya.

Misal saja, ada pekerja yang berasal dari Kalimantan Selatan (Kalsel), kemudian ingin memiliki rumah di Kalsel, namun karena ia bekerja di Kalteng, bisa mengajukan ke BTN Kalsel. “Bisa, karena dia bekerja di Kalteng dan perusahaanya mendaftarkan di BPJS Ketenagakerjaan di wilayah Kalteng, yakni BPJS Ketenagakerjaan Palangka Raya,” jelasnya.

 

Realisasi Pembangunan KPR di Kalteng Mencapai 90 Persen

Terpisah, Kepala BTN Kantor Cabang (KC) Palangka Raya Alexius Afrido Sitinjak mengatakan, pihaknya selama ini telah menjalin kerja sama dengan BPJS Ketenagakerjaan dalam hal realisasi program MLT ini.

“Kalau produk MLT ini, suku bunga pasaran saat ini 12-13 persen, dengan kerja sama BPJS melalui program MLT ini, suku bunga yang diperoleh lebih murah. Kurang lebih tambah 3 persen suku bunga BI. Suku bunga BI itu 4,75 persen maka suku bunga yang harus dibayar 7,75 persen, Misal BI rate naik 5 maka suku bunga 8,” rinci Alex, saat dibincangi di Kantor BTN KC Palangka Raya, Kamis sore (19/2/2026).

Menurut Alex, kenaikan ini dilakukan setiap ulang tahun kredit. Misal akad kredit pada 19 Februari 2026, maka 19 Februari 2027 akan dilakukan pengecekan suku bunga yang tengah berlangsung. Jika suku bunga turun maka juga akan mengikuti, namun kenaikannya maksimal tidak lebih dua digit, maksimal 9,9 persen.

“Jadi dibandingkan suku bunga pasar, ada keringanan suku bunga yang diperoleh karyawan dengan fasilitas MLT ini. Misal, saya belum punya rumah atau punya rumah tapi mau renovasi, bisa manfaatkan MLT,” ungkap Alex.

Menurut Alex, pemantauan pengawasan dana yang sudah dicairkan untuk MLT ini terus dilakukan hingga dana digunakan 100 persen. Pasalnya, saat pengajuan kredit, debitur akan dimintai rencana anggaran biaya (RAB) yang diperlukan.

“Kami akan melakukan analisa, berapa standar umum kekurangan dananya,” jawabnya.

Selanjutnya, setelah dana dicairkan, dalam rentang waktu 14 hari, BTN akan melakukan monitoring, apakah kredit yang diberikan sudah digunakan atau belum.

Alex menjelaskan, pada Tahun 2025 lalu, selain BTN pusat sebagai market leader pembangunan perumahan, di Kalteng pun demikian. Realisasi KPR di Kalteng tercatat sebanyak 1.399 unit dengan realisasi pencapaian sekitar 90 persen.

“Dari realisasi 1.399 unit ini, telah menyentuh seluruh lapisan masyarakat. Tidak hanya PNS, TNI dan Polri, tetapi juga swasta terutama wirausaha dengan capaian hampir 40 persen,” rinci Alex.

Menurutnya, memang angka ini belum mencapai target yang diberikan oleh Kantor BTN Pusat, dengan kendala oleh beberapa faktor baik secara internal maupun eksternal. Namun, di tahun 2026 ini, BTN Kalteng ditarget mengalami kenaikan hingga dua kali lipat.

Berdasarkan data, dari realisasi 1.399 unit rumah tersebut, kelompok usia yang mendominasi yakni usia 19 sampai 25 tahun dengan realisasi sebanyak 583 unit atau hampir 41 persen. Untuk usia 26 sampai 30 tahun sebanyak 354 unit dan usia 31 sampai 40 tahun ke atas sekitar 400 unit.

“Tahun ini kami ditarget tumbuh lebih agresif dengan target realisasi sebanyak 2.200 unit se-Kalteng,” tegasnya.

Meski demikian, berdasarkan data, realisasi perumahan BTN setiap tahun terus mengalami peningkatan. Mengingat, permintaan rumah subsidi di Kalteng ini masih sangat tinggi.

“Tentu, untuk mencapai target di 2026 ini, ada program strategis yang kami lakukan untuk meningkatkan pencapaian hingga mencapai target,” jawab dia.

Pertama, BTN akan melakukan perluasan layanan di wilayah Kalteng yang selama ini belum terjangkau oleh pelayanan kantor BTN. Kalteng dengan cakupan yang sangat luas dengan 13 kabupaten dan satu kota ini, hanya ada beberapa kabupaten saja yang memiliki kantor cabang di daerah.

“Selain di Palangka Raya, kami baru memiliki kantor BTN itu di Sampit Kabupaten Kotawaringin Timur, Pangkalan Bun Kabupaten Kotawaringin Barat dan Kabupaten Kapuas, artinya masih ada sepuluh kabupaten yang belum terjangkau oleh kami,” bebernya.

Untuk itu, sesuai arahan BTN pusat, pihaknya akan memperluas dengan membuka kantor pelayanan di beberapa kabupaten di Kalteng ini. Terlebih, berdasarkan data di Tapera, realisasi di Muara Teweh Kabupaten Barito Utara dan realisasi di Puruk Cahu Kabupaten Murung Raya itu cukup tinggi.

“Dari data, realisasi KPR di Muara Teweh dan Puruk Cahu mencapai 300 unit setahun, tetapi kami belum memiliki kantor pelayanan di sana,” tegasnya.

Ditargetkan, pada semester dua nanti BTN sudah bisa melayani nasabah dengan membuka outlet BTN di Muara Teweh. “Harapannya di triwulan ketiga sudah bisa mendapat persetujuan BTN pusat dan OJK sehingga bisa segera launching,” ujarnya.

Kedua, pihaknya akan lebih proaktif bersama BPJS Ketenagakerjaan dalam hal sosialisasi perumahan kepada karyawan di perusahaan-perusahaan. Tahun sebelumnya, strategi ini sudah dilakukan dan rutin terjun ke lapangan setiap bulan.

“Kami ingin memfasilitasi karyawan di perusahaan yang belum memiliki rumah,” tambah dia.

Ketiga, pihaknya akan proaktif bersama developer agar setiap pembangunan perumahan bisa dipercepat. “Itu tiga fokus utama kami di 2026 ini,” singkatnya. (*)

Editor : Anisa Bahril Wahdah
#bank btn #bpjs ketegakerjaan #kpr subsidi #feature #MLT