Kabar Terbaru Hukum & Peristiwa Kabar Kalteng Ekonomi & Bisnis Nasional Olahraga Hiburan Kesehatan Internasional Kuliner Wisata Pena Politik Pendidikan

Melanjutkan Hidup di Perantauan, Berkat BTN Menjadi Tenang dengan Hunian Nyaman

Anisa Bahril Wahdah • Jumat, 20 Februari 2026 | 08:06 WIB
Ayon Harianto saat memperbaiki barang elektronik milik pelanggan di Toko Pelangi Elektronik, Jalan Sultan Hasanudin Palangka Raya, Sabtu (14/2/2026). ANISA/KALTENG POS
Ayon Harianto saat memperbaiki barang elektronik milik pelanggan di Toko Pelangi Elektronik, Jalan Sultan Hasanudin Palangka Raya, Sabtu (14/2/2026). ANISA/KALTENG POS

Menjadi seorang perantauan adalah pilihan. Mengadu nasib di Pulau Kalimantan menjadi tujuan. Berlindung dari terik mentari dan panas hujan di sebuah toko kontrakan, hingga BTN hadir berikan jalan untuk pulang. Iya, pulang ke rumah yang nyaman.

ANISA B WAHDAH, Palangka Raya

SEIRING matahari mulai bersinar, langkah kaki untuk mengais rejeki dimulai. Membuka setiap papan penutup toko kelontong dan membuka tirai di pagi hari sudah menjadi rutinitas Ayon Hariyanto dan istrinya, Suliati.

Mengeluarkan satu persatu snack dan menggantungnya di bagian depan. Menyusun kardus berisikan air mineral. Menyiapkan uang receh untuk kembalian. Merapikan meja kasir dan mulai duduk menunggu pelanggan. Menjadi keseharian Suliati dari matahari terbit hingga senja.

Sementara suaminya, menyiapkan meja kerja yang sudah ia geluti puluhan tahun silam. Iya, seorang servis elektronik. Solder, atraktor serta set obeng menjadi sahabat Ayon Harianto dalam sehari-hari mendulang rezeki.

Pagi itu, Sabtu (14/2/2026) nampaknya rezeki Ayon datang lebih cepat. Matahari belum terasa panas, seorang pria paruh baya mengantarkan satu unit kipas angin berwarna biru muda. Sudah bisa ditebak, kedatangannya untuk memperbaiki alat pendingin ruangan yang terlihat sudah usang.

“Permisi, om bisa perbaiki kipas? Mati. Baling-baling tidak berputar,” kata paria itu, sembari menyodorkan kipas angin yang ia pegang.

Toko Servis Pelangi Elektronik, menjadi saksi perjuangan dan kerja keras sepasang suami istri di tanah rantau. Di toko inilah, Ayon Hariyanto menjalani profesi sebagai seorang servis elektronik dan istrinya sebagai pedagang toko kelontong.

Beralamatkan di Jalan Sultan Hasanudin, Kota Palangka Raya, toko ini memiliki cerita panjang perjalanan anak rantau. Di tempat inilah, untuk pertama kaliya, anak dan istri yang ia bawa dari Pulau Jawa, harus berteduh dari terik matahari dan dinginnya hujan.

Bukan tempat yang nyaman untuk menjadi tempat tinggal, ia memutuskan memilih Kredit Pemilikan Rumah (KPR) untuk memberikan papan yang layak untuk keluarga. Bank Tabungan Negara (BTN) hadir menjawab permasalahan yang dialami pekerja informal untuk mendapat hunian yang nyaman.

Toko Sepetak Menjadi Tempat Bernaung

Bukan waktu yang singkat, perjuangan Ayon dimulai sejak 22 tahun silam. Tahun 2004, untuk pertama kalinya Ayon menginjakkan kaki di Kota Palangka Raya. Menjadi anak rantau di usia 25 tahun dan meninggalkan Kota Kelahiran, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, menuju Kota Cantik Palangka Raya.

Bukan tanpa tujuan. Ia datang untuk membangun masa depan. Tinggal bersama pakde (kakak dari ibu,red) di komplek KPR bersubsidi BTN di Jalan Rajawali, selama dua tahun. Berbekal ilmu servis elektronik yang ia bawa dari Lumajang, mempermudah Ayon untuk mendapat pekerjaan.

“Dua tahun di Palangka Raya, tempat tinggal ikut pakde dan bekerja servis elektronik ikut orang, memang sudah ada ilmu servis elektronik saat masih di Lumajang, tapi karena perekonomian di kampung susah, memutuskan untuk ke Palangka Raya,” kisah Ayon, mengenang awal ia datang ke Kota Cantik ini.

Tahun 2006, ia memutuskan pulang ke Jawa Timur, untuk meminang kekasih yang ia kenal di tanah rantau ini. Sualiati, juga seorang perantauan dari Kabupaten Madiun, Jawa Timur. Keduanya melangsungkan pernikahan dan memutuskan tinggal di Lumajang, tepatnya di Desa Pasrujambe.

Empat tahun membangun rumah tangga, nampaknya Ayon tidak menemukan jalan untuk meningkatkan perekonomian. Jalan terakhir, kembali ke perantauan.

Tahun 2010, ia kembali datang ke Palangka Raya, meninggalkan anak dan istrinya untuk kembali membangun kehidupan. Toko yang tidak jauh dari titik nol ibu kota provinsi Kalteng ini, menjadi pilihan Ayon dari 16 tahun silam hingga saat ini.

“Saat itu datang sendiri dan kembali tinggal bersama pakde selama dua pekan, saya mencari tempat untuk membuka usaha servis elektronik, akhirnya memutuskan menyewa satu petak toko ini,” katanya, saat dibincangi di tokonya.

Setelah mendapatkan tempat, ia membawa anak dan istrinya untuk sama-sama hidup di tanah rantau ini. Di toko inilah, perjuangan keluarga kecil mulai dibangun. Berkas administrasi perpindahan kartu tanpa penduduk (KTP) sudah mulai diproses.

“Merasa perekonomian lebih baik dan percaya bahwa di sini bisa membangun masa depan, saya sama istri memutuskan untuk tinggal menetap di kota ini, administrasi kependudukan mulai kami proses,” kenang Ayon, sembari mengingat cerita yang sudah lebih satu dekade itu.

Satu tahun tidur di toko sepetak itu, merasa tidak nyaman dengan tempat yang tidak layak huni, pria kelahiran Desa Pasrujambe ini mencoba mencari jalan keluar. Menyewa rumah bukan solusi yang tepat untuk merasakan tempat tinggal yang nyaman.

“Toko tempat kami berusaha ini statusnya menyewa, tidak mungkin kami juga harus menyewa rumah untuk tempat tinggal,” ucapnya.

Niat Miliki Hunian Nyaman, Justru Meninggalkan Kecewa dan Trauma

Masih awam soal KPR, ia mulai mencari lahan untuk rencana perlahan membangun gubuk sederhana. Tidak membuahkan hasil justru memunculkan rasa kecewa dan trauma.

“Beberapa kali saya mencoba mencari informasi soal tanah kavling, rencana ingin bangun gubuk (rumah,red) sederhana, yang penting ada tempat tinggal, tidak tidur di toko ini. Yang terjadi malah saya trauma,” kata pria kelahiran 30 Agustus 1979 ini.

Dari sekian banyak tanah kavling yang rencana dibeli, ternyata semuanya bermasalah. Awalnya masih berpikir positif, namun kejadian serupa terulang hingga beberapa kali.

“Setiap saya mau membeli tanah kavling, selalu bermasalah terkait kepemilikan lahan, pernah saat saya datang mau survei, orang-orang gegeran (ribut,red) di lokasi soal status kepemilikan,” cerita bapak tiga anak ini.

Merasa takut dengan banyaknya tanah yang masih berstatus tumpang tindih, niat untuk membeli tanah kavling ia urungkan. Hingga satu informasi perumahan ia temui. Ia mendapati brosur penjualan rumah yang akhirnya menarik perhatian untuk diseriusi.

“Keinginan membeli tanah kavling saya urungkan karena trauma, akhirnya mencari informasi penjualan rumah dan mulai menghubungi pengembang untuk proses pemesanan,” ucapnya.

Uang tanda jadi Rp2 juta sudah ia berikan kepada developer. Rasa kecewa kembali ia rasakan. Ketika di meja akad salah satu bank BUMN, ia mendapati informasi yang berbeda dari brosur yang ia terima.

Saat hendak akad, ia mendapat informasi dari pihak bank bahwa ia harus membayar sejumlah uang yang ternyata informasi itu berbeda dengan informasi yang ia terima di brosur. Akad pun gagal.

“Saya gagalkan proses pengajuan perumahan itu. Bank penyalur bukan BTN, tetapi memang informasi yang tidak benar itu di developer, bukan di Bank. Akhirnya saya memutuskan untuk tidak mengambil perumahan itu,” ujarnya pria 47 tahun ini.

Bukan hanya soal jumlah nominal yang harus dibayarkan, melainkan informasi yang berbeda dari kenyataan. Menjadikan kepercayaannya gugur dan kembali harus menelan kecewa.

“Saat itu, saat saya ingin meminta uang Rp2 juta saya kembali juga susah,” tegasnya.

Developer menjanjikan uang Rp2 juta akan dikembalikan jika rumah yang ia gagalkan itu sudah laku kepada pembeli yang lain. Setiap kali ia menanyakan status rumah itu, pihak pengembang selalu memberikan jawaban yang sama, belum terjual.

“Hingga keempat kalinya, saya datang ke kantor pemasarannya untuk menanyakan status rumah itu, informasi dari kakaknya (developer,red), rumah itu sudah lama terjual. Saat itu juga, uang saya kembali,” beber pria berambut ikal ini.

BTN Hadir Berikan Rasa Aman, Jawab Kegelisahan Pekerja Informal

Keinginan untuk memiliki hunian nyaman tidak pudar. Empat bulan berlalu. Informasi terkait KPR BTN ia terima dari kerabat dekat. Sore itu, pukul 17.00 WIB saat senja menampakkan keindahannya, seolah mengiringi rencana indah masa depan yang menyambutnya.

“Sore itu mendapat informasi adanya pembangunan KPR BTN di Jalan Kecipir, dengan semangat sore itu juga berangkat ke lokasi,” kisah dia.

Saat itu, komplek di Jalan Kecipir masih proses pembangunan dan sebagian tempat yang lain masih dalam bentuk blok dan patok.

Dua hari kemudian, tidak ada rasa kapok dan tanpa keraguan, ia langsung memproses pengajuan KPR BTN dengan booking tanah. Mengeluarkan Rp500 ribu sebagai tanda jadi, harapan baru untuk mendapat tempat tinggal mulai ia rasakan.

“Kapok sih tidak, karena memang niatnya mencari rumah yang prosesnya aman dan tempatnya pun nyaman. Namun, saat mendengar KPR BTN, rasa yang awalnya ragu dan takut terulang kejadian yang sama, rasa itu seketika lenyap,” ungkap anak keempat dari delapan bersaudara ini.

Ia yakin, kalau KPR BTN pasti aman. Setelah mencari informasi melalui daring, BTN merupakan bank penyalur terbesar untuk mewujudkan pembangunan perumahan.

“Meski saat survei ke lokasi belum ada bangunan, tetapi rasa percaya sangat kuat dalam hati saya, bahwa tanah kosong yang sudah di patok itu akan menjadi rumah saya ke depan,” ucapnya dengan nada tegas.

KPR bersubsidi BTN milik Ayon Hariyanto di Jalan Kecipir, Kota Palangka Raya.
KPR bersubsidi BTN milik Ayon Hariyanto di Jalan Kecipir, Kota Palangka Raya.

Penantian panjang sedikit menggoyahkan kepercayaannya. Satu tahun berlalu dari booking tanah, ia belum menerima panggilan untuk proses akad. Bukan ragu kepada BTN, rasa ragu muncul kepada developer.

“Ada sedikit ragu dan takut itu kepada developer, karena dari pengalaman sebelumnya di Bank aman hanya bermasalah dengan developer, tapi uang dikeluarkan hanya Rp500 ribu, tidak masalah jika harus hilang,” tutur dia.

Namun, lanjutnya, secara logika memang wajar, karena saat ia booking tanah memang belum ada pembangunan. Sedangkan, ada banyak rumah-rumah yang harus dibangun saat itu.

“Proses akad tidak bisa dilangsungkan jika bangunan tidak ada. Akad baru boleh berlangsung jika rumah sudah siap huni, lengkap dengan air dan listrik,” tambnahnya.

Dua tahun dari booking tanah, ia baru mendapat panggilan untuk proses akad. Rasa bahagia ia rasakan di tengah perjalanan pulang kampung ke Lumajang. Rindu tanah kelahiran dibarengi dengan rasa ingin kembali ke perantauan untuk proses akad rumah yang didiamkan.

“Senangnya dobel-dobel, senang mau pulang kampung, di sisi lain senang juga karena ada panggilan akad. Di bayangan saya, saat kembali dari pulang kampung, saya sudah bisa menempati tempat baru,” cerita dia dengan tawa.

Setelah tiga tahun berjuang mendapatkan rumah, Tahun 2014 menjadi sejarah baru di tanah perantauan, ia memiliki rumah. Selepas pulang kampung, ia langsung ke BTN untuk proses akad dan menyerahkan Down Payment (DP).

“Harga jual Rp95 juta, saya DP Rp10 juta yang saya bayarkan dua kali angsuran, sehingga angka hutang sebesar Rp85 juta,” jawabnya.

Informasi-informasi yang disampaikan pihak bank sama dengan informasi yang ia terima dari developer, memperkuat kepercayaannya dalam mengambil KPR BTN. Terlebih, proses pengajuan sangat mudah dan syarat-syarat dapat dipenuhi seluruhnya.

“Syarat mudah, cukup KTP, NPWP, surat izin berusaha dan nota penjualan, karena saya pekerja informal, alhamdulillah prosesnya mudah,” tuturnya.

Selain syarat-syarat itu, juga dilakukan survei oleh bank untuk memastikan kebenaran tempat mereka berusaha. “Ada survei waktu itu, karena memang betul bekerja di toko ini, semuanya lancar,” singkatnya.

Tidak menunggu waktu lama, setelah proses akad, keluarga kecil ini segera pindah dan menempati rumah baru mereka. Dengan luas tanah 10x12 meter dengan bangunan rumah 36 meter persegi (tipe 36), sudah jauh lebih nyaman daripada harus tidur di toko tempat mereka bekerja.

“Apalagi yang ditunggu, kami langsung menempati rumah itu,” jawabnya dengan tertawa.

Dengan angsuran Rp686.400 setiap bulan, proses pembayaran berjalan lancar tanpa terkendala. Kini, rumah yang mereka huni sudah berjalan 12 tahun, dan harus menyelesaikan delapan tahun ke depan.

“Bersyukur mengambil KPR BTN, 12 tahun lalu uang Rp686.400 sangat besar, namun kini angka itu sangat kecil, bahkan mungkin lebih mahal tarif kos satu petak,” ungkapnya.

Angka Rp686.400 yang mereka bayarkan flat sampai 20 tahun, dari awal cicilan hingga jatuh tempo pada 2034 mendatang. Total cicilan yang harus dibayar hanya tersisa Rp55 juta saja.

 

BTN Peluk Nasabah dengan Penangguhan

Covid-19 yang sempat melumpuhkan perekonomian masyarakat Indonesia sangat ia rasakan. Toko kelontong yang dikelola istrinya sontak sepi pembeli, pelanggan servis elektronik pun tidak ada lagi.

“Isi toko perlahan habis untuk konsumsi pribadi, karena pendapatan kami menurun. Pun servis elektronik, orang-orang saat itu juga akan menunda servis perabotan mereka karena uangnya juga untuk bertahan hidup,” ceritanya, mengenang perjuangan saat pandemi Covid-19.

BTN kembali hadir memeluk pekerja informal yang tanpa gaji bulanan. Jangankan untuk membayar cicilan rumah, untuk makan sehari-hari saja mereka harus memutar otak.

“BTN hadir dengan program penangguhan pembayaran KPR. Bisa bernapas lega ketika satu tahun kami tidak melakukan pembayaran cicilan rumah,” imbuhnya.

Di tengah pemberitaan Covid-19 yang membuat was-was, harapan muncul saat pemberitaan penangguhan pembayaran KPR ia baca. Kesempatan yang jangan sampai terlewatkan, Ayon segera ke BTN hanya membawa KTP dengan tujuan memproses penangguhan pembayaran KPR.

“Proses saat itu sangat mudah, hanya membawa KTP dan mengisi formulir, kemudian proses pengajuan penangguhan pembayaran KPR disetujui, satu tahun penuh saya tidak melakukan pembayaran cicilan KPR,” jelasnya.

Dengan penangguhan pembayaran BTN ini, ia berpikir semua akan baik-baik saja. Nyatanya tidak. Perekonomian terus merosot. Toko semakin sepi. Barang-barang sudah tak bersisa dan modal juga tak punya. Ayon mencoba mencari jalan dengan melakukan pinjaman ke salah satu Bank BUMN untuk modal.

“Ditolak. Sebelumnya saya sudah mengajukan KUR di salah satu bank, kemudian karena Covid-19 akhirnya nunggak tiga bulan, rencana mau mengajukan lagi ditolak,” ucapnya.

Memutar otak harus dilakukan. Ternyata, KPR subsidi BTN solusinya. Toko terpaksa tutup. Ayon mencoba menggali kemampuan sebagai seorang penjual bunga. Di rumah tipe 36 inilah, sisa lahan yang ada dimanfaatkan untuk pembibitan dan budidaya bunga.

“Saat Covid-19 orang-orang mulai hobi merawat bunga, saya memanfaatkan momen itu dengan memanfaatkan sisa lahan yang ada di rumah untuk budidaya bunga, alhamdulillah cukup untuk kebutuhan sehari-hari saat itu,” terang dia.

Tidak bisa diprediksi sebelumnya bahwa perekonomian akan berada di titik terendah. KPR subsidi sederhana yang awalnya menjadi tempat untuk pulang, juga menjadi penolong.

“Sempat terpikir saat itu, kalau tidak bisa bayar sewa toko, kemudian tidak punya rumah, ke mana kami harus tinggal? Bersyukur selalu ada jalan,” tambahnya.

Dalam kondisi perekonomian seperti ini, ia masih mempertahankan toko yang jarang dihuni, namun uang sewa tetap berjalan. Mereka masih berharap perekonomian pulih dan kembali mencari rezeki di toko itu.

“Alhdmulillah saat itu saya mempertahankan toko ini. Setelah aktivitas masyarakat sudah mulai longgar, perekonomian mulai membaik, toko kembali hidup. Saya mulai menerima servis dan toko mulai terisi, pembeli mulai datang,” bebernya.

Tepat satu tahun setelah penangguhan, ia mendapat informasi dari BTN melalui pesan WhatsApp bahwa penangguhan sudah jatuh tempo. Artinya, nasabah sudah harus mulai melakukan pembayaran cicilan KPR.

“Saat itu juga diinformasikan bahwa akan ada tambahan bayar sebagai pengganti penangguhan bayar satu tahun lalu. Seharusnya saya membayar cicilan Rp686.400, saat itu saya harus membayar Rp816 ribu,” katanya.

Tidak ingat pasti berapa lama waktu pembayaran pengganti penangguhan, angsuran akhirnya kembali normal ke Rp686.400. Awalnya ia berpikir bahwa Rp816 ribu itu tagihan selamanya, ternyata hanya pengganti cicilan penangguhan.

Merasa Tenang dengan Hunian Nyaman

Di tempat yang sama, Suliati, mengaku tenang selama memiliki KPR subsidi BTN ini. Menjadi seorang perantauan bukan hal yang mudah. Namun, memiliki rumah di tanah rantau juga bukan hal yang tidak mungkin.

“Merasa tenang di perantauan karena ada tempat pulang yang nyaman. Alhamdulillah dipertemukan dengan KPR BTN yang benar-benar sangat membantu kami,” kata ibu tiga anak ini.

Meski keinginan untuk pulang ke tanah kelahiran kerap ia rasakan, tetapi rumah yang ada saat ini adalah pulang yang sesungguhnya.

“Keinginan pulang itu ada, tapi hanya untuk melepas rindu, kami sudah 16 tahun di sini, pekerjaan di sini, anak-anak juga sekolah di sini bahkan sudah punya rumah di sini, ya inilah rumah kami,” kata perempuan berkulit cerah itu.

Perlahan, rumah subsidi ini ia tambah bangunan dapur, untuk lebih memberikan rasa nyaman. Namun, lebihan tanah masih tersisa dan menjadi ruang untuk menikmati waktu-waktu santai di luar rumah.

“Masih ada sisa-sisa tanaman dan bunga yang dulu kami budidaya, kini merawatnya menjadi hiburan dan memberikan kesejukan di sekitar rumah,” kata perempuan yang lahir 17 Agustus ini.

Setelah seharian bekerja di tengah kota dengan hiruk pikuk keramaian ibu kota, pulang ke rumah menjadi pelepas lelah. Berada di dalam komplek yang jauh dari keramaian kendaraan, menjadikannya rumah tempat pulang paling nyaman.

“Apalagi hidup di perumahan ini berbaur dengan masyarakat, membangun sosialisasi dan kerukunan, tidak merasa kesepian di tanah perantauan,” tegas perempuan yang biasa disapa Suli ini.

Selama 12 tahun tinggal di komplek KPR bersubsidi BTN, perubahan signifikan sangat terasa. Akses jalan yang memadai, tempat ibadah hingga pendidikan yang mudah dijangkau, bahkan perekonomian yang berjalan begitu cepat, menjadikannya tidak menyesal memilih tempat ini.

“Komplek perumahan di Jalan Kecipir memang dikenal dengan perkembangannya yang cepat, dulu lokasi rumah saya di belakang, sekarang sudah berada di tengah,” tambahnya.

Tidak hanya itu, di komplek perumahan Jalan Kecipir ini juga dekat dengan bandara dan juga pusat perbelanjaan. Lingkungan yang saling guyub rukun juga dirasakan. Kegiatan lingkungan aktif dilakukan.

“Rasanya tidak seperti di perantauan,” singkatnya terharu.

 

Permudah Kepemilikan KPR Bagi Perantauan

Sementara itu, Kepala BTN Kantor Cabang (KC) Palangka Raya Alexius Afrido Sitinjak mengatakan, BTN merupakan market leader pembangunan perumahan, tidak hanya di tingkat nasional tetapi juga di Kalimantan Tengah.

Berdasarkan data yang ada, pada Tahun 2025 lalu, realisasi KPR di Kalteng tercatat sebanyak 1.399 unit dengan realisasi pencapaian sekitar 90 persen.

“Dari realisasi 1.399 unit ini, telah menyentuh seluruh lapisan masyarakat. Tidak hanya PNS, TNI dan Polri, tetapi juga swasta terutama wirausaha,” kata Alex saat dibincangi di ruang kerjanya, di Kantor BTN KC Palangka Raya, Kamis sore (19/2/2026).

Menurut Alex, hampir 40 persen dari realisasi capaian 2025 merupakan masyarakat dengan pekerja informal. Hal ini menunjukkan bahwa BTN hadir hingga lapisan bawah masyarakat.

“Pun untuk perantauan, tidak ada masalah dan tidak ada isu bahwa mereka tidak bisa memiliki rumah,” katanya.

Yang pasti, lanjut dia, selama perantau tersebut bekerja atau berusaha di wilayah Bumi Tambun Bungai ini, BTN hadir memberikan jalan untuk mewujudkan hunian nyaman.

“KTP di luar Kalteng? Tidak masalah. Asal bekerja di sini dan ada penghasilan untuk membayar cicilan,” tegasnya.

Alex menambahkan, dari realisasi 1.399 unit rumah tersebut, kelompok usia yang mendominasi yakni usia 19 sampai 25 tahun dengan realisasi sebanyak 583 unit atau hampir 41 persen. Untuk usia 26 sampai 30 tahun sebanyak 354 unit dan usia 31 sampai 40 tahun ke atas sekitar 400 unit.

“Tahun ini kami ditarget tumbuh lebih agresif dengan target realisasi sebanyak 2.200 unit se-Kalteng,” tegasnya.

Meski demikian, berdasarkan data, realisasi perumahan BTN setiap tahun terus mengalami peningkatan. Mengingat, permintaan rumah subsidi di Kalteng ini masih sangat tinggi.

“Tentu, untuk mencapai target di 2026 ini, ada program strategis yang kami lakukan untuk meningkatkan pencapaian hingga mencapai target,” jawab dia.

Pertama, BTN akan melakukan perluasan layanan di wilayah Kalteng yang selama ini belum terjangkau oleh pelayanan kantor BTN. Kalteng dengan cakupan yang sangat luas dengan 13 kabupaten dan satu kota ini, hanya ada beberapa kabupaten saja yang memiliki kantor cabang di daerah.

“Selain di Palangka Raya, kami baru memiliki kantor BTN itu di Sampit Kabupaten Kotawaringin Timur, Pangkalan Bun Kabupaten Kotawaringin Barat dan Kabupaten Kapuas, artinya masih ada sepuluh kabupaten yang belum terjangkau oleh kami,” bebernya.

Untuk itu, sesuai arahan BTN pusat, pihaknya akan memperluas dengan membuka kantor pelayanan di beberapa kabupaten di Kalteng ini. Terlebih, berdasarkan data di Tapera, realisasi di Muara Teweh Kabupaten Barito Utara dan realisasi di Puruk Cahu Kabupaten Murung Raya itu cukup tinggi.

“Dari data, realisasi KPR di Muara Teweh dan Puruk Cahu mencapai 300 unit setahun, tetapi kami belum memiliki kantor pelayanan di sana,” tegasnya.

Ditargetkan, pada semester dua nanti BTN sudah bisa melayani nasabah dengan membuka outlet BTN di Muara Teweh. “Harapannya di triwulan ketiga sudah bisa mendapat persetujuan BTN pusat dan OJK sehingga bisa segera launching,” ujarnya.

Kedua, pihaknya akan lebih proaktif bersama BPJS Ketenagakerjaan dalam hal sosialisasi perumahan kepada karyawan di perusahaan-perusahaan. Tahun sebelumnya, strategi ini sudah dilakukan dan rutin terjun ke lapangan setiap bulan.

“Kami ingin memfasilitasi karyawan di perusahaan yang belum memiliki rumah,” tambah dia.

Ketiga, pihaknya akan proaktif bersama developer agar setiap pembangunan perumahan bisa dipercepat. “Itu tiga fokus utama kami di 2026 ini,” singkatnya. (*) 

 

Editor : Anisa Bahril Wahdah
#kpr #servis elektronik #pekerja informal #btn