Kabar Terbaru Hukum & Peristiwa Kabar Kalteng Ekonomi & Bisnis Nasional Olahraga Hiburan Kesehatan Internasional Kuliner Wisata Pena Politik Pendidikan

Generasi Z Mendominasi Kepemilikan KPR, Siapkan Hunian Nyaman Sebelum ke Pelaminan

Anisa Bahril Wahdah • Jumat, 20 Februari 2026 | 13:11 WIB
Aktivitas Tholib di  kebun keluarga miliknya di Komplek Kampung Rahayu Woro, Jumat (13/2/2026). ANISA/KALTENG POS
Aktivitas Tholib di kebun keluarga miliknya di Komplek Kampung Rahayu Woro, Jumat (13/2/2026). ANISA/KALTENG POS

Menilik data dari BTN pusat, generasi muda dari kalangan milennial mendominasi KPR di Indonesia dengan angka 88,43 persen. Di Kalteng, hampir separuh realisasi KPR didominasi oleh generasi Z. Fenomena ini menunjukkan animo tingginya generasi muda dalam menyiapkan hunian nyaman untuk masa depan.

ANISA B WAHDAH, Palangka Raya 

DERETAN rumah berjajar rapi dengan model yang sama, namun memiliki cerita yang berbeda. Dari sekian rumah-rumah dengan fasad yang masih utuh dan sesuai aslinya, ada satu rumah yang berhasil menarik pandangan mata.

Memiliki warna dasar sage yang segar, rumah ini tampak hidup dengan kebun sederhana di sebelah rumahnya. Kebun keluarga berhasil diwujudkan di komplek perumahan BTN bersubsidi type 36 di Komplek Kampung Rahayu Woro, Gang Dunis Tuwan, Jalan Tjilik Riwut, Kilometer 10 Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah.

Di bawah matahari pagi, seorang pria muda tampak sibuk dengan peralatan kebunnya. Memotong rumput hingga menyiram tanaman. Terlihat tanaman kangkung, bayam, cabai hingga beberapa macam buah tumbuh subur di lahan 15x20 meter itu.

Tholib Nur Hakim namanya, seorang kepala rumah tangga yang baru lima tahun membangun keluarga kecilnya. Memikirkan masa depan dan kewajiban memberikan sandang, pangan dan papan untuk keluarga, tanpa ragu ia wujudkan rumah impian sebelum naik pelaminan.

Ia tahu, dalam membangun rumah tangga, harus ada rumah yang bisa menjadi tempat untuk keduanya pulang dan menyatukan hubungan. Rumah ini juga menjadi hadiah pernikahan yang ia berikan tiga bulan sebelum ijab qabul pernikahan kepada kekasihnya.

Kamis, 26 November 2020, di Kantor Cabang BTN Palangka Raya, sang kekasih menandatangani surat pernyataan debitur dan akad, sekaligus menerima kunci rumah yang calon suami berikan. Rumah dengan atas nama sang kekasih, menjadi bukti keseriusan dirinya untuk meminang calon istri.

“Saya berpikir, dalam membangun rumah tangga, tentu kita harus punya rumah. Di dalam rumah itu kita membangun rumah tangga. Menjadi motivasi saya untuk memiliki rumah sebelum menikah,” kata Tholib, saat dibincangi di rumahnya.

Tholib menyisihkan sebagian gajinya sebagai seorang tenaga honor di Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Murung Raya, Kalimantan Tengah, untuk ditabung demi masa depan. Benar saja, saat tabungan sudah mencukupi, ia gunakan sebagian dana yang sudah ia sediakan untuk resepsi pernikahan, untuk uang muka atau down payment (DP) perumahan.

“Nabung untuk masa depan, karena sudah ada planning, sebelum menikah harus sudah punya rumah,” tegasnya.

Menurutnya, kemewahan resepsi pernikahan hanya dinikmati dalam sekejap, namun membangun rumah tangga dengan hunian yang nyaman itu selamanya. Kalau uang yang ada dihabiskan demi mewujudkan pesta pernikahan tentu rugi. Justru, kehidupan sesungguhnya adalah setelah pernikahan.

“Akan menjadi lucu ketika menggelar pesta pernikahan mewah, kemudian tidak memiliki rumah setelah menikah,” jelas pria kelahiran Puruk Cahu, Kabupaten Murung Raya, Kalimantan Tengah ini.

 

Perintis Bukan Pewaris, Wujudkan Keluarga Kecil dari Keringat Sendiri

Perintis Bukan Pewaris. Frasa yang tepat disematkan kepada Tholib. Menjadi seorang anak rantau yang jauh dari orang tua, dan tidak memiliki bekal warisan, menjadi salah satu motivasi Tholib memiliki rumah untuk keluarga kecilnya.

Lahir di wilayah yang jauh dari ibu kota dan meninggalkan keluarga demi membangun masa depan, perumahan subsidi menjadi solusi. Sadar akan keterbatasan keuangan, namun memiliki semangat dan niat yang kuat, menjadi perintis bukan pewaris tidak lah jadi halangan, justru ini awal dari perjalanan.

“Saya meninggalkan rumah dan berpisah dari orang tua, untuk membangun masa depan. Tinggal di ibu kota tentu bukan hal yang mudah, semangat dan kerja keras menjadi bekal sesungguhnya,” ucap anak kedua dari tiga bersaudara ini.

Menjadi keputusan bersama sang kekasih yang tinggal di Ibu Kota Provinsi Kalteng, Tholib memilih ikut bersama istri. Namun, dengan kondisi yang sama, sang calon istri juga seorang perantau yang jauh dari keluarga.

“Saya dan istri sama-sama jauh dari orang tua dan keluarga. Istri saya dari Jawa yang merantau ke Kota Palangka Raya. Kami memutuskan untuk hidup dan membangun rumah tangga di Kota Cantik ini,” ucap pria yang baru saja berulang tahun pada 8 Februari lalu itu.

Menurutnya, kalau harus ngontrak atau ngekos tentu rugi, mengeluarkan uang tiap bulan tetapi tidak menjadi hak milik pribadi. “Dengan mengambil perumahan bersubsidi, akan mempermudah kami sebagai perintis bukan pewaris ini untuk mendapat hunian nyaman,” jelasnya.

 

Proses Mudah dan Pelayanan Ramah

Di tengah kesibukan Tholib dan kekasihnya mempersiapkan administrasi pernikahan saat itu, ia dan calon istrinya sekaligus menyiapkan berkas-berkas administrasi pengajuan Kredit Kepemilikan Rumah (KPR) bersubsidi. Setelah survei di beberapa titik pembangunan perumahan di wilayah Kota Cantik Palangka Raya ini, ia menemukan perumahan yang memikat hati.

“Beberapa kali survei di beberapa titik, ada beberapa rumah yang awalnya memikat hati, kemudian tertarik dengan rumah yang lainnya. Terakhir, terpikat dengan perumahan di Komplek Kampung Woro, Gang Dunis Tuwan,” ucapnya.

Setelah memantapkan model perumahan, mencoba menghubungi developer dan negosiasi terkait bank yang akan dipilih sebagai penyalur dana yang digunakan. Developer Kampung Woro memberikan penjelasan terkait KPR bersubsidi Bank Tabungan Negara (BTN) yang akhirnya memantapkan hati untuk memilih BTN.

“Sebelumnya sudah mencari informasi secara daring terkait perumahan subsidi BTN, karena memang selama ini yang saya tahu itu, di mana ada perumahan subsidi maka di situ disebutnya perumahan BTN,” jelas bapak satu anak ini.

Tidak ada keraguan lagi bagi dirinya untuk memilih KPR bersubsidi BTN sebagai hunian nyaman untuk keluarga kecilnya. Terbukti, proses pengajuan perumahan hingga akad berlangsung mudah dan cepat.

“Tidak menyangka ternyata mengajukan perumahan di BTN itu mudah dan cepat. Kebetulan tengah mengurus berkas administrasi untuk pernikahan, data-data yang diperlukan untuk pengajuan perumahan tidak jauh dari berkas yang diperlukan untuk administrasi pernikahan,” cerita Tholib.

Dibantu oleh developer yang ramah, semakin mempermudah proses pengajuan hingga goal. Padahal, saat itu, seluruh rumah yang sudah dibangun di komplek ini sudah terjual keseluruhan.

Ia dijanjikan oleh developer untuk pembangunan di komplek bagian belakang. Namun, rezeki itu datang kala ada satu rumah yang gagal dengan calon pembeli pertama, hingga rumah itu berhasil ia berikan sebagai hadiah pernikahan untuk kekasih tercintanya.

Saat itu, Tholib akan menikah Februari 2021, rencananya Maret baru bisa menempati rumah baru karena masih dalam proses pembangunan. Namun, ada rumah yang gagal dengan calon pembeli, sehingga ia ditawarkan untuk mengajukan administrasi lebih cepat agar bisa menggantikan rumah itu.

“Bersyukur, November 2020 saya sudah bisa menerima kunci rumah baru. Saya bersama kekasih mengurus berkas administrasi hanya satu hari. Bersyukur mendapat developer yang baik dan mengarahkan dengan ramah,” kisah Tholib, mengenang cerita lima tahun lalu.

Dengan plafon kredit Rp144.500.000 kini, perumahan yang sudah ia tinggal bersama keluarga kecilnya itu sudah berjalan selama lima tahun. Tanpa terasa, setengah dekade berlalu, angsuran Rp966.300.000 per bulan tak ada kendala.

“DP perumahan saat itu di bawah Rp15.000.000, saya ambil dari tabungan untuk rencana pernikahan. Awalnya, memang berat harus membayar cicilan hampir Rp1 juta setiap bulan karena belum terbiasa, namun setelah dijalani semua terasa mudah,” ucapnya kepada Kaltengpo.jawapos.com

 

Pantau Saldo Pinjaman Melalui Bale BTN

Sebagai generasi muda yang melek teknologi, Tholib memanfaatkan Aplikasi Bale BTN untuk memantau perkembangan pembayaran perumahan subsidi BTN. Melalui aplikasi ini, ia bisa mengetahui berapa lama ia melakukan angsuran pembayaran, sisa saldo pinjaman hingga kapan perumahan miliknya lunas.

“Di Bale BTN saya bisa mengecek berapa lama lagi saya selesai mengangsur perumahan ini, jadi bisa tenang dengan mengetahui apa yang harus dipersiapkan,” ujarnya.

Melalui Bale BTN ini, informasi terkait proses pembayaran perumahan yang dihuni sangat lengkap. Cara aksesnya pun sangat mudah. Pertama, ia harus log in kemudian di beranda pilih menu pinjaman. Selanjutnya akan muncul pinjaman yang saat ini sedang berlangsung.

“Di Bale BTN milik saya, tertulis pinjaman saya yakni KPR jalan Tjilik Riwut Kilometer 10,” tambahnya.

Di dalam menu itu, nantinya nasabah akan mendapat informasi terkait jumlah pinjaman dalam hal ini harga rumah BTN yang harus dibayarkan. Kemudian tagihan pokok setiap bulan, tagihan bunga, total tagihan pokok dan bunga, hingga informasi tanggal realisasi pengajuan KPR hingga jatuh tempo.

“Jangan sampai kita punya pinjaman (pembayaran KPR,red) tapi nasabah tidak paham berapa pokok dan bunganya, melalui aplikasi ini kita tenang karena semua informasi terbuka dan mudah diakses,” bebernya.

Di aplikasi ini juga menampilkan tagihan denda nasabah, apabila terjadi menunggak pembayaran. Hal ini sangat bermanfaat untuk menjaga nama baik nasabah sebagai warning untuk hati-hati.

“Namanya manusia, terkadang lupa atau saat itu tidak memiliki uang hingga akhirnya nunggak, dengan adanya informasi tagihan denda ini, dapat terpantau oleh nasabah agar tidak lengah,” jawabnya.

Untuk saat ini, lanjut dia, ia sudah melakukan pembayaran KPR selama 68 kali atau lima tahun lebih tiga bulan. Dalam informasi yang ia pantau di Bale BTN, jatuh tempo pembayaran angsuran pada 7 November 2040.

“Waktu itu saya mendapat persetujuan dari BTN dengan lama pinjaman selama 20 tahun, saat ini memang masih berjalan lima tahun lebih dan masih kurang 15 tahun lagi,” imbuhnya.

Dalam informasi yang ia lihat di aplikasi, tagihan pokok yang harus ia bayarkan setiap bulan yakni sebesar Rp467.312.00 dengan tagihan bunga Rp498.363,00. Sehingga total yang harus dibayarkan Rp965.675,00.

“Untuk total saldo pinjaman yang belum dibayarkan sebesar Rp118.827.044, untuk suku bunga sebesar 5,00 persen,”

Melalui Bale BTN ini, ia juga bisa melihat dokumen terkait hal-hal yang berkaitan dengan KPR perumahannya. Mulai dari sertifikat, IMB atau PBG hingga AJB.

“Iya, dokumen-dokumen juga bisa dilihat melalui Bale BTN, untuk sertifikat memang masih belum tersedia, artinya blum ada yang bisa ditampilkan, karena masih proses angsuran,” tambahnya lagi.

Sebetulnya, lanjut dia, Bale BTN ini tidak hanya untuk memantau pinjaman saja, tetapi calon pembeli KPR juga bisa melalui aplikasi ini. Namun, saat pengajuan lima tahun lalu, ia masih mengajukan manual, dan baru menginstal tahun 2025 lalu.

“Saat itu saya mengajukan manual melalui developer, baru instal aplikasi BTN mobile setelah akad rumah, kemudian aplikasi berubah menjadi Bale BTN,” tegasnya.

 

Perlahan Isi Keperluan Rumah

Sebagai sepasang suami istri yang sama-sama perantau, tentu keduanya tidak memiliki sangu perabotan baik dari orang tua maupun orang tua. Usai pernikahan, Tholib bersama istrinya menempati rumah itu tanpa membawa apapun. Kondisi rumah kosong tanpa terisi.

“Namun sangat bahagia luar biasa. Meski tak memiliki perabotan, tetapi bisa memiliki hunian usai menikah itu sangat bahagia,” ujarnya.

Secara perlahan, Tholib bisa membangun dapur sederhana dari sisa tabungan untuk pernikahan. Sesuai aturan BTN, dilarang membangun atau merenovasi fasad rumah yang ada.

“Sehingga kami membangun dapur darurat, selain karena larangan itu, tetapi memang tidak ada biayanya, hanya membangun dapur sederhana dari sisa tabungan yang ada,” tuturnya.

 

Dalam proses ini, ia juga perlahan membeli perlengkapan rumah, mulai dari kasur, lemari, mesin cuci, kulkas hingga perabotan rumah tangga lainnya. Tholib yang akhirnya resmi pindah dari Murung Raya ke Ibu Kota, terpaksa tidak memiliki pekerjaan dalam sementara waktu.

“Usai memutuskan pindah, saya menganggur. Hanya istri yang bekerja, bersyukur kami hidup tenang karena sudah memiliki hunian nyaman,” tegasnya.

Menurutnya, usai menikah dan tinggal di perumahan subsidi ini, mereka hanya mengandalkan sisa tabungan dan proses mencari pekerjaan. Bersyukur, tidak lama menganggur, Tholib mendapat pekerjaan sebagai IT di salah satu media daring di Kota Palangka Raya.

 

Tholib saat merawat tanaman gambas di kebun keluarga miliknya.
Tholib saat merawat tanaman gambas di kebun keluarga miliknya.

Siapa Bilang Rumah Subsidi Sempit? Malah Bisa Bikin Kebun Keluarga

Salah satu satu keunggulan perumahan subsidi di wilayah Kalimantan Tengah, yakni masih tersisa lahan yang cukup luas. Tahun 2020 yang lalu, ketentuan luas lahan perumahan subsidi dengan type 36 yakni 200 meter persegi atau 20x10 meter. Dengan demikian, masih banyak tersisa lahan baik di sebelah maupun bagian belakang yang masih bisa dimanfaatkan.

Tholib termasuk nasabah yang ketiban rezeki. Ia mendapatkan posisi rumah di bagian perempatan, sehingga masih ada lahan sisa lima meter di luar pembelian akad dari BTN. Luas tanah 5x20 meter itu ia beli kepada developer yang terpisah dari pembayaran melalui BTN.

Menjadi semangat Tholib mewujudkan kebun keluarga di sisa tanah perumahan mereka yang cukup luas. Awalnya, rumah 36 yang mungil itu dipenuhi dengan rumput liar. Kini, tanah kosong itu sudah bisa memberikan manfaatkan kebutuhan pangan kepada pemiliknya.

“Dulu awalnya penuh rumput ilalang, kadang ada binatang melata masuk ke dalam rumah. Perlahan kami olah sisa tanah itu menjadi kebun keluarga. Alhamdulillah bisa memberikan manfaat untuk kebutuhan pangan keluarga,” terangnya.

Bahkan, dari kebun ini ia bisa berbagi ke tetangga dan juga menghasilkan cuan dengan menjual dari hasil yang mereka tanam. Dari rumah subsidi inilah, Tholib bersama istri belajar arti hidup. Bagaimana mereka merintis dari awal hingga kini menjadi tempat pulang yang nyaman.

“Bahagia tidak hanya dimiliki oleh mereka yang memiliki rumah besar dan mewah, tetapi bisa kami rasakan yang tinggal di rumah subsidi ini,” timpalnya.

Dari rumah inilah, mereka melahirkan banyak kenangan, termasuk lahirnya putri pertama mereka. Kini, rumah mungil ini dihuni tiga orang, Tholib bersama istri dan anak semata wayang mereka.

 

Tempat Ternyaman Untuk Pulang

Mengenang masa lalu saat Tholib masih tinggal bersama orang tuanya, tempat ternyaman untuk pulang adalah pelukan orang tua. Rumah yang dibangun oleh kedua orang tuanya menyimpan banyak kenangan saat ia kecil bersama kedua saudaranya. Namun, kini, tempat ternyaman untuk pulang adalah rumah yang ia bangun dengan keringat dan kerja kerasnya sendiri.

“Jika dulu tempat ternyaman untuk pulang adalah rumah bersama orang tua, sekarang adalah rumah bersama anak dan istri,” singkatnya.

Bukan berarti kembali ke pelukan orang tua bukan lagi tempat ternyaman, kini rumah dan pelukan orang tua adalah momen melepas rindu. Sedangkan sebagai seorang kepala rumah tangga, melepas lelah dan tempat istirahat paling nyaman adalah rumah sendiri.

“Di rumah KPR yang sederhana ini, saya merasa nyaman. Kenapa? Karena saya pulang ke rumah saya sendiri, bukan rumah ngontrak. Di rumah disambut anak dan istri, tentu itu nyaman yang dan bahagia yang sesungguhnya,” katanya dengan semangat.

Tidak hanya tempat untuk pulang, rumah sederhana namun nyaman ini juga kerap menjadi tempat singgah. Orang tua dan kerabat yang datang untuk silaturahmi, memberikan ketenangan dan kenyamanan bagi mereka yang datang.

“Alhamdulillah, meski ukuran rumah kecil, masih ada ruang untuk bernapas lega, tamu yang datang masih kita jamu dengan tempat yang nyaman,” jelasnya.

Kebun keluarga yang ia wujudkan di sebelah rumah juga menjadi sumber inspirasi banyak orang. Beberapa kali, kerabat mereka datang untuk melihat secara langsung kebun keluarga minimalis yang bisa mereka contoh.

Kalimantan Tengah, lanjut Tholib, memiliki kelebihan luas lahan yang melimpah yang juga dirasakan oleh pemilik rumah subsidi, harusnya bisa dimanfaatkan dengan baik. Ia banyak melihat perumahan subsidi yang sisa lahannya tidak dimanfaatkan dengan baik, padahal masih sangat memungkinkan untuk hal-hal yang bermanfaat, berkebun misalnya.

“Rumah subsidi saya ini banyak menginspirasi dan menjadi tempat belajar sebagian orang, bagaimana mengolah lahan di sisa tanah perumahan,” sebutnya.

Memang ada niat ke depan untuk merenovasi rumah ini menjadi lebih luas dengan desain minimalis modern. Namun, tentu harus disesuaikan dengan kondisi keuangan dan kemampuan yang ada.

“Keinginan renovasi tentu ada, apalagi sudah lima tahun berjalan dan sudah bisa melakukan renovasi. Tetapi kalau belum mampu tidak perlu dipaksakan, rumah ini juga masih sangat nyaman tanpa  direnovasi,” ujar pria 33 tahun ini.

 

Apresiasi Langkah Anak Muda Memikirkan Masa Depan

Sementara itu, salah satu pengembang di wilayah Kota Palangka Raya Endrik Kirnawati mengaku, antusias anak muda untuk memiliki rumah sangat tinggi. Terbukti, banyak nasabah yang mengajukan KPR berasal dari anak-anak muda yang belum menikah.

“Banyak nasabah saya yang masih muda, baik itu yang baru menikah atau mereka yang belum menikah,” kata Endrik saat dibincangi, Jumat (13/2/2026).

Ia menilai, anak muda saat ini memiliki pandangan jauh ke depan terkait masa depan, termasuk hasrat untuk memiliki tempat tinggal. Terlebih, untuk proses pengajuan rumah sangat mudah dengan syarat-syarat yang tidak memberatkan.

“Tentu ada syarat yang harus dipenuhi oleh para nasabah dalam hal ini calon pembeli, tetapi syarat itu tidak memberatkan asal memang nasabah mampu,” kata pemilik Kampung Rahayu Woro ini.

Menurutnya, hal utama yang harus dimiliki oleh calon pembeli yakni pekerjaan yang jelas dan pendapatan yang pas. Banyak anak-anak muda saat ini yang sudah memiliki pekerjaan dan pendapatan yang dianggap mampu untuk melakukan pembayaran cicilan.

“Sangat banyak anak-anak muda yang mengambil KPR melalui saya, yang terpenting dia sudah memiliki pekerjaan, memiliki pendapatan, usia sudah dewasa minimal 21 tahun atau dibawah 21 tahun tetapi sudah menikah, silakan ajukan,” terang Endrik.

Berkecimpung dalam pembangunan KPR bersubsidi yang bekerja sama dengan BTN, Endrik mengaku selama ini berjalan dengan baik dan lancar. “Selama bekerja sama dengan BTN, terjalin komunikasi yang baik,” tambah perempuan hitam manis ini.

 

Generasi Z Dominasi Kepemilikan KPR di Kalteng

Terpisah, Kepala BTN Kantor Cabang (KC) Palangka Raya adalah Alexius Afrido Sitinjak mengatakan, animo anak muda dalam memiliki KPR sangat tinggi. Berdasarkan data yang ada, pada Tahun 2025 lalu, realisasi KPR di Kalteng tercatat sebanyak 1.399 unit dengan realisasi pencapaian sekitar 90 persen dari target.

“Dari realisasi 1.399 unit ini, telah menyentuh seluruh lapisan masyarakat. Tidak hanya PNS, TNI dan Polri, tetapi juga swasta terutama wirausaha,” kata Alex saat dibincangi di ruang kerjanya, di Kantor BTN KC Palangka Raya, Kamis sore (19/2/2026).

Menurut Alex, realisasi 1.399 unit rumah tersebut, kelompok usia yang mendominasi yakni usia 19 sampai 25 tahun dengan realisasi sebanyak 583 unit atau hampir 41 persen. Untuk usia 26 sampai 30 tahun sebanyak 354 unit dan usia 31 sampai 40 tahun ke atas sekitar 400 unit.

“Dari data yang ada, hampir separuh dari realisasi KPR ini didominasi oleh anak muda, 41 persen KPR ini direalisasikan kepada anak muda usia 21 sampai 25 tahun,” katanya.

Jika melihat dari rentang usia itu, terlihat bahwa generasi Z dukup mendominasi kepemilikan rumah. Hal ini selaras dengan rilis BTN pusat yang menyebut bahwa anak muda dari generasi milennial mendominasi persentase kepemilikan KPR subsidi BTN. Berdasarkan data yang dirilis, pada Tahun 2025 sebanyak 88,43 persen penerima KPR subsidi BTN dari kalangan generasi milenial dari usia 29 hingga 44 tahun.

“Animo anak muda memiliki rumah memang sangat tinggi, dari kalangan generasi Z dan milenial. Sebanyak 937 realisasi KPR di tahun 2025 itu dari mereka berusia produktif,” ujarnya.

Ia menyebut, syarat  pengajuan KPR juga sangat mudah, asal dia berusia 21 tahun atau di bawah 21 tahun namun sudah menikah, bisa mengajukan KPR. “Asalkan, dia sudah punya penghasilan,” timpalnya.

Berbicara anak muda, tentu sangat erat bersinggungan dengan digitalisasi. Alex menyebut, saat ini BTN memiliki produk digitalisasi, termasuk Bale BTN atau Bale Properti by BTN yang bisa diakses oleh nasabah untuk segala keperluan, termasuk pengajuan KPR.

KPR bersubsidi BTN milik Tholib di Gang Dunis Tuwan, Jalan Tjilik Riwut, Kilometer 10, Kota Palangka Raya.
KPR bersubsidi BTN milik Tholib di Gang Dunis Tuwan, Jalan Tjilik Riwut, Kilometer 10, Kota Palangka Raya.

“Rata-rata, mereka (generasi muda,red) sudah memanfaatkan produk digitalisasi ini. Mereka gunakan Bale properti,” tegasnya.

Sebelumnya, lanjutnya, dalam pengajuan KPR, nasabah harus secara manual ke developer dan BTN. Namun, kini semua dipermudah dengan adanya digitalisasi melalui Bale Properti.

“Melalui aplikasi ini mereka bisa mengajukan kreditnya hingga mengetahui proses pengajuan. Sampai mana pengajuannya? Bisa dipantau secara online hingga waktunya akad,” jelasnya.

BTN sebagai market leader pembangunan perumahan, tidak hanya di tingkat nasional tetapi juga di Kalteng, tentu akan terus meningkatkan realisasi pencapaian KPR sesuai target.

 “Tahun ini kami ditarget tumbuh lebih agresif dengan target realisasi sebanyak 2.200 unit se-Kalteng,” tegasnya.

Meski demikian, berdasarkan data, realisasi perumahan BTN setiap tahun terus mengalami peningkatan. Mengingat, permintaan rumah subsidi di Kalteng ini masih sangat tinggi.

“Tentu, untuk mencapai target di 2026 ini, ada program strategis yang kami lakukan untuk meningkatkan pencapaian hingga mencapai target,” jawab dia.

Pertama, BTN akan melakukan perluasan layanan di wilayah Kalteng yang selama ini belum terjangkau oleh pelayanan kantor BTN. Kalteng dengan cakupan yang sangat luas dengan 13 kabupaten dan satu kota ini, hanya ada beberapa kabupaten saja yang memiliki kantor cabang di daerah.

“Selain di Palangka Raya, kami baru memiliki kantor BTN itu di Sampit Kabupaten Kotawaringin Timur, Pangkalan Bun Kabupaten Kotawaringin Barat dan Kabupaten Kapuas, artinya masih ada sepuluh kabupaten yang belum terjangkau oleh kami,” bebernya.

Untuk itu, sesuai arahan BTN pusat, pihaknya akan memperluas dengan membuka kantor pelayanan di beberapa kabupaten di Kalteng ini. Terlebih, berdasarkan data di Tapera, realisasi di Muara Teweh Kabupaten Barito Utara dan realisasi di Puruk Cahu Kabupaten Murung Raya itu cukup tinggi.

“Dari data, realisasi KPR di Muara Teweh dan Puruk Cahu mencapai 300 unit setahun, tetapi kami belum memiliki kantor pelayanan di sana,” tegasnya.

Ditargetkan, pada semester dua nanti BTN sudah bisa melayani nasabah dengan membuka outlet BTN di Muara Teweh. “Harapannya di triwulan ketiga sudah bisa mendapat persetujuan BTN pusat dan OJK sehingga bisa segera launching,” ujarnya.

Kedua, pihaknya akan lebih proaktif bersama BPJS Ketenagakerjaan dalam hal sosialisasi perumahan kepada karyawan di perusahaan-perusahaan. Tahun sebelumnya, strategi ini sudah dilakukan dan rutin terjun ke lapangan setiap bulan.

“Kami ingin memfasilitasi karyawan di perusahaan yang belum memiliki rumah,” tambah dia.

Ketiga, pihaknya akan proaktif bersama developer agar setiap pembangunan perumahan bisa dipercepat. “Itu tiga fokus utama kami di 2026 ini,” singkatnya. (*)

Editor : Anisa Bahril Wahdah
#kebun #kpr #rumah subsidi