Di tengah gempuran era digital, sebuah mahakarya intelektual dari masa lampau menjadi pengingat pada ketekunan dan spiritualitas yang tak ternilai. Sebuah Al-Qur’an lengkap beraksara Arab, ditulis tangan oleh H Muhammad Tasin pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.
RENO SAPUTRA, Muara Teweh
Al-Qur’an tulisan tangan H Muhammad Tasin ini resmi menjadi khazanah publik Kabupaten Barito Utara (Batara). Naskah yang diserahkan ke Dinas Kearsipan dan Perpustakaan (Dissiptaka) Batara.
Naskah yang diperkirakan ditulis antara tahun 1870-an hingga 1912 ini, secara otomatis masuk dalam kategori naskah kuno mengingat usianya telah melampaui setengah abad.
Meski kondisi fisiknya cukup rapuh, naskah ini masih dapat digunakan dan mengandung keutuhan teks yang mengagumkan, kecuali untuk tiga juz yang hilang (juz 2, 5, dan 26).
Ahli waris Al-Qur’an tulis tangan, H Afuw Anwar (55) masih mengingat betul amanah yang diterimanya pada tahun 1992 saat usianya 15 tahun.
Mengenang momen ketika Al-Qur’an tulisan tangan karya datuknya, H.M. Tasin, menjadi tanggung jawabnya. Kini, setelah lebih dari tiga dekade menjaganya di dalam lemari khusus, ia memutuskan untuk membawa warisan keluarga itu ke hadapan publik.
“Ini sebuah amanah. Jerih payah beliau agar menghasilkan pahala yang mengalir,” tuturnya menjelaskan alasan mendasar keluarganya merawat naskah itu saat diwawancara oleh Kalteng Pos pada Selasa (3/2/2026).
H Afuw menerangkan bagaimana Al-Qur’an tersebut diwariskan secara turun temurun dari Datuknya HM Tasin (pembuat) yang diberikan kepada kakeknya, H Muhtar yang secara langsung berkata H. Afuw lah yang akan meneruskan untuk menjaga Al-Qur’an tersebut.
Bahkan saat H. Afuw baru lahir, sayangnya sang kakek meninggal dunia pada 1975, setahun setelah H. Afuw lahir sehingga Al-Qur’an tersebut sempat disimpan selama 15 tahun oleh anak tertua dari silsilah saudara ibu H. Afuw.
“Beliau (ibu) bernama Hj. Nur Sehan yang menyimpan Al-Qur’an itu sekitar dari tahun 1975-1992 di dalam sebuah kotak besi tanpa pernah dibuka. Barulah ketika Saya berusia 15 tahun Al-Qur’an itu kembali di pergunakan dan dirawat sesuai dengan amanah kakek,” Jelasnya.
Lebih lanjut, H.M. Tasin tergambar sebagai seorang perantau, pedagang, dan pencari ilmu yang gigih.
"Beliau adalah datuk kami, seorang perantau dan pedagang yang haus ilmu agama," ujar H. Afuw. Bahkan juga sempat dikatakan HM Tasin juga sempat menulis beberapa kitab-kitab namun sayangnya dicuri saat ia berdagang dan berdakwah sehingga menyisakan Al-Qur’an itu saja.
Baca Juga: Alfi Aulia Al Madani, Hafal 30 Juz Al-Qur'an, Hadiahkan Mahkota Cahaya
Tasin muda disebutkan berangkat ke Mekah saat itu masih dikenal sebagai tanah Hijaz untuk berdagang sekaligus menuntut ilmu agama. Dalam literatur perjalanan masa itu, orang dari Nusantara sering disebut sebagai orang "Jawi" dan orang “Borneo”.
Sayangnya, saat ditanyai terkait adanya foto dari HM. Tasin, H. Afuw mengatakan foto-foto terkait H.M. Tasin sudah hilang karena sebuah insiden kebakaran yang menimpa rumah mereka dulu, bahkan H. Afuw sendiri belum pernah melihat wajah dari HM Tasin.
Ketahanan Kertas Dianggap Ajaib
Mengarah ke proses penulisan, H. Afuw menjelaskan proses penulisan Al-Qur’an ini dilakukan dengan motivasi spiritual yang mendalam.
“Beliau berdagang sekaligus menuntut ilmu di Mekkah. Hafal per juz, lalu ditulis. Murni untuk menghafal dan diabadikan,” jelasnya tentang proses penulisan yang memakan waktu puluhan tahun hingga selesai sekitar 1912.
H. Afuw bahkan pernah mencocokkannya dengan Al-Qur’an cetakan Kementrian Agama Republik Indonesia.
“Satu titik pun tidak ada kesalahan atau perbedaan,” ungkap H. Afuw dengan nada kagum.
Ketahanan fisik naskah juga dianggapnya ajaib. Ditulis di atas kertas daluang, naskah berukuran 17 x 24 cm dengan ketebalan 16 cm itu ternyata tahan lama.
“Kertasnya tidak dimakan rayap. Tintanya bahkan tidak pudar terkena air,” tambahnya.
Lebih lanjut, selama lebih dari tiga dekade Al-Qur’an tersebut dijaga oleh H. Afuw, ia menerangkan bahwa ia menjaga Al-Qur’an tersebut dengan membacanya.
Ia meyakini Al-Qur’an tersebut merupakan sebuah warisan yang harus terus diperhatikan untuk menghargai jerih payah HM Tasin yang pada saat itu mampu menulis Al-Qur’an dengan segala keterbatasan pada zaman itu.
“Dengan membacanya itu berarti kita sudah menjaga dan merawatnya. Terlepas dari nilai spiritual, Al-Qur’an itu sebelumnya disimpan di lemari kaca khusus dan diberikan obat anti serangga sehingga mengurangi resiko kerusakan sebelum akhirnya diserahkan kepada Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Barito Utara,” jelasnya. (*/bersambung/ala)
Editor : Ayu Oktaviana