Kabar Terbaru Hukum & Peristiwa Kabar Kalteng Ekonomi & Bisnis Nasional Olahraga Hiburan Kesehatan Internasional Kuliner Wisata Pena Politik Pendidikan

Jejak Al-Qur’an Tulisan Tangan HM Tasin di Barito Utara, Menanti Pengakuan dari Perpustakaan Nasional

Agus Pramono • Rabu, 25 Februari 2026 | 10:10 WIB

H Afuw (baju putih) menyerahkan Al-Qur’an tulisan tangan kepada Dinas Kearsipan dan Perpusatakan Barito Utara. RENO SAPUTRA/KALTENG POS
H Afuw (baju putih) menyerahkan Al-Qur’an tulisan tangan kepada Dinas Kearsipan dan Perpusatakan Barito Utara. RENO SAPUTRA/KALTENG POS

Selain rutin membaca Al-Qur’an tulisan tangan sang Datuk. H Afuw juga merawat kondisi fisik kitab suci tersebut, salah satunya dengan memberikan obat anti serangga saat disimpan di dalam lemari kaca, itu dilakukan untuk menngurangi risiko kerusakan. Kemudian setelah sekian puluh tahun lama menjaga dan merawatnya, akhirnya H Afuw menyerahkan Al-Qur’an tulisan tangan Datuk H Muhammad Tasin kepada Dinas Kearsipan dan Perpusatakan (Dissiptaka) Kabupaten Barito Utara (Batara).

RENO SAPUTRA, Muara Teweh

KEPALA Dinas Kearsipan dan Perpustakaan (Dissiptaka), Fakhri Fauzi saat diwawancara oleh Kalteng Pos pada Senin (2/2/2026) menegaskan pihaknya menerima hibah Al-Qur’an tulis tangan dari H Afuw pada Senin, 6 oktober 2025 di Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Teweh Tengah tempat H Afuw bekerja.

Menerima naskah yang memiliki nilai sejarah sangat tinggi tersebut, Dissiptaka Barito Utara langsung menyadari tanggung jawab besar yang diemban. Fakhri, mengonfirmasi bahwa dengan usia yang telah melebihi 50 tahun, mushaf ini secara otomatis masuk kategori naskah kuno.

“Ini menjadi naskah kuno ketiga di Barito Utara dan sekarang kita menjadi Kabupaten dengan total kepemilikan naskah kuno terbanyak kedua setelah Kobar,” ujarnya.

Fakhri mengakui keunikan naskah tersebut. “Keunikannya utama karena ini bertulis tangan di atas kertas daluang, bukan cetakan massal. Ia juga unik karena disertai terjemahan Melayu per juz, yang langka,” paparnya.

Meski kondisi fisik dinyatakan baik, Dissiptaka tidak lengah. Langkah pertama yang akan diambil adalah digitalisasi.

“Ini sangat penting. Selain lebih praktis dan mudah diakses, digitalisasi melindungi naskah fisik dari risiko kerusakan atau pemalsuan,” jelas Fakhri. Langkah ini menjadi fondasi untuk perawatan jangka panjang.

Tahap berikutnya adalah mengantarkan naskah ini meraih pengakuan resmi tingkat nasional, yaitu Sertifikat Naskah Kuno dari Perpustakaan Nasional.

“Prosesnya dengan mendaftarkan naskah beserta seluruh spesifikasinya jenis kertas daluang, metode penulisan, sejarah ke Perpustakaan Nasional,” jelasnya. Namun, jalan menuju sertifikasi tak selalu mulus.

“Tantangan umumnya adalah kekurangan informasi pasti: cara pemeliharaan yang spesifik, asal-usul kertas, metodologi penelitian, dan juga biaya untuk penelusuran detail teknis naskah,” ujar Fakhri mengenai kendala klasik yang dihadapi daerah.

Pemanfaatan naskah untuk edukasi publik sudah dirancang. “Sebelumnya, Al-Qur’an tersebut sudah kami pamerkan saat MTQ Kalteng di Barito Utara November 2025 lalu. Ke depan, dalam setiap pameran yang relevan, naskah ini akan kami hadirkan bersama edukasi, serta kami bagikan scan pdfnya kepada masyarakat,” tutur Fakhri mengenai strategi sosialisasi.

Harapan jangka panjangnya, mushaf ini akan mendapat rumah permanen di museum daerah yang rencananya akan dibangun.

“Iya, naskah-naskah keagamaan seperti ini akan mendapat ruang khusus. Sistem pengawasan dan preservasi di museum lebih baik, sehingga bisa dinikmati oleh seluruh masyarakat secara aman,” tegasnya.

Melalui perjalanan dari lemari keluarga H. Afuw ke kantor Dissiptaka, mushaf HM Tasin telah memulai babak barunya. Ia kini bukan lagi sekadar pusaka keluarga, melainkan sedang berproses menjadi milik bersama sebuah simbol ketekunan, keilmuan, dan identitas budaya yang akan dijaga oleh negara untuk cerita yang lebih panjang: cerita untuk generasi mendatang. (*/bersambung/ala)

Editor : Ayu Oktaviana
#Dinas Kearsipan dan Perpustakaan #mushaf #Pusaka #metodologi penelitian #Al-Qur'an #mtq #Museum Daerah #digitalisasi #barito utara #sertifikat naskah kuno #Dissiptaka Barito Utara #melayu #perpustakaan nasional #naskah kuno #identitas budaya