Kabar Terbaru Hukum & Peristiwa Kabar Kalteng Ekonomi & Bisnis Nasional Olahraga Hiburan Kesehatan Internasional Kuliner Wisata Pena Politik Pendidikan

Al-Qur’an Tulisan Tangan HM Tasin di Barito Utara, Harakat dan Tanda Waqaf Sama Persis dengan Cetakan Kemenag

Agus Pramono • Kamis, 26 Februari 2026 | 11:20 WIB

 

H Afuw Anwar penjaga Al-Qur’an tulisan tangan Datuk Tasin saat ditemui Kalteng Pos. RENO SAPUTRA/KALTENG POS
H Afuw Anwar penjaga Al-Qur’an tulisan tangan Datuk Tasin saat ditemui Kalteng Pos. RENO SAPUTRA/KALTENG POS

 

H Afuw Anwar telah menyerahkan Al-Qur’an tulisan tangan H Muhammad Tasin kepada pemerintah daerah. Ia menceritakan bagaimana pertama kali melihat langsung kitab suci umat islam dalam tulisan tangan sang Datuk tahun 1870 an tersebut.

RENO SAPUTRA, Muara Teweh

DI ruang sederhananya di Kecamatan Teweh Tengah, H. Afuw Anwar (55) masih hafal aroma kertas tua yang pertama kali menyambutnya 40 tahun silam.

Saat itu usianya masih 15 tahun. Sebuah kotak besi yang 15 tahun tak tersentuh dibuka, dan untuk pertama kalinya ia berhadapan langsung dengan amanah yang telah dititipkan kepadanya sejak ia belum lahir.

“Saya masih ingat, waktu itu lutut saya lemas. Bukan karena takut, tapi karena tiba-tiba saya sadar: seluruh hidup datuk saya, H. Muhammad Tasin, ada di dalam lembaran-lembaran ini,” kenang Afuw, suaranya perlahan menurun, seolah kembali ke momen itu.

Warisan naskah kuno Al-Qur'an tulisan tangan HM Tasin di Barito Utara. RENO SAPUTRA/KALTENG POS
Warisan naskah kuno Al-Qur'an tulisan tangan HM Tasin di Barito Utara. RENO SAPUTRA/KALTENG POS

Lelaki yang sehari-hari menjabat sebagai Penghulu Fungsional di Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Teweh Tengah ini bukan sekadar ahli waris biasa.

Ia adalah simpul terakhir dari rantai panjang penjagaan yang dimulai lebih dari satu abad lalu. Dan selama 40 tahun sejak 1992 hingga 2025 ia memikul sendiri tanggung jawab yang oleh kebanyakan orang mungkin hanya akan dianggap sebagai pusaka keluarga biasa.

Ada ironi dalam kisah Afuw. Ia menjaga mushaf yang ditulis oleh H. Muhammad Tasin, datuknya yang tak pernah ia lihat wajahnya.

Beberapa foto terakhir sang datuk lenyap dilalap api dalam kebakaran yang melanda rumah keluarga. Afuw tumbuh hanya mendengar cerita: bahwa datuknya adalah perantau asal Borneo yang berlayar ke Tanah Hijaz, berdagang sambil haus ilmu.

Namun justru dari ketidakhadirannya itulah kehadiran H.M. Tasin begitu kuat terasa.

Setiap kali Afuw membuka lembaran Al-Qur’an itu ia membaca, ia merawat, ia memastikan tinta Arab di atas kertas daluang tak luntur ia merasa sedang bercakap-cakap dengan masa lalu.

“Kakek saya, H. Muhtar, sudah berwasiat sejak saya lahir: ‘Afuw yang akan menjaga ini’. Saya lahir 1974, beliau wafat 1975. Tidak sempat berpesan langsung, tapi saya yakin, ini bukan sekadar wasiat biasa. Ini doa.” ujarnya pelan.

Selama 15 tahun pertama kehidupannya, mushaf itu tersimpan rapat di dalam kotak besi milik Hj. Nur Sehan, anak tertua dari silsilah saudara ibu Afuw.

Kotak itu seperti sebuah monumen yang tak boleh diganggu. Tak sekalipun dibuka.

Afuw kecil hanya bisa membayangkan seperti apa rupa Al-Qur’an yang konon ditulis dengan hafalan itu.

Ketika akhirnya kotak itu dibuka, Afuw yang masih remaja langsung membaca satu juz. Bukan karena disuruh.

“Saya hanya ingin memastikan beliau benar-benar menulis ini dengan hafalan. Dan memang benar. Tidak ada coretan, tidak ada revisi. Ini hafalan yang diabadikan.”

Sejak saat itu, mushaf H.M. Tasin tak pernah lagi masuk kotak besi. Afuw memindahkannya ke lemari kaca khusus, memberinya kamper dan obat anti serangga, serta memastikan sirkulasi udara di sekitarnya terjaga. Namun baginya, perawatan fisik saja tidak cukup.

“Orang bisa menyimpan benda ratusan tahun di museum, tapi kalau tidak pernah digunakan, ia hanya benda mati. Saya ingin Al-Qur’an ini hidup,” katanya.

Maka Afuw menetapkan tradisi pribadi, ia akan membacanya. Bukan sekadar melihat, bukan sekadar membolak-balik halaman untuk memeriksa kerusakan.

Ia membaca ayat demi ayat, juz demi juz. Sebagaimana H.M. Tasin menulisnya dengan hafalan, Afuw membacanya dengan penghayatan.

“Saya percaya, dengan membacanya berarti kita sudah menjaganya. Ini bukan sekadar pelestarian fisik. Ini pelestarian ruh,” tegasnya.

Lelaki yang telah mengabdi sebagai penghulu ini mengakui, mushaf itu mengubah cara pandangnya terhadap pekerjaannya sehari-hari.

Sebagai pegawai KUA yang setiap hari berurusan dengan dokumen pernikahan, perceraian, dan pencatatan keagamaan, ia belajar bahwa tinta di atas kertas bisa menjadi saksi abadi perjalanan manusia.

“Saya sering bilang ke staf-staf saya: tulis setiap dokumen dengan sebaik-baiknya. Mungkin 100 tahun lagi, ada orang yang membaca catatan kita. Mereka akan menilai kita dari tulisan itu,” tuturnya.

Ada satu momen yang tak pernah dilupakan Afuw. Suatu hari, ia membawa mushaf H.M. Tasin dan membandingkannya dengan Al-Qur’an cetakan Kementerian Agama Republik Indonesia. Ia ingin membuktikan sesuatu.

“Saya pilih satu ayat secara acak. Saya cocokkan posisinya, harakatnya, tanda waqafnya. Satu titik pun tidak ada kesalahan atau perbedaan,” ujarnya, nada kagum masih terdengar jelas meski peristiwa itu telah berlalu bertahun-tahun.

Bagi Afuw, ini bukan sekadar bukti akurasi hafalan datuknya. Ini adalah pesan lintas waktu: bahwa di abad ke-19, di tengah keterbatasan pencahayaan dan alat tulis, seorang anak Borneo mampu menuliskan Kalamullah setepat mesin cetak modern.

“Beliau berdagang di Mekkah, hafal per juz, lalu menulis. Tidak ada komputer, tidak ada korektor. Hanya ingatan dan ketekunan,” katanya. (*bersambung/ala)

Editor : Ayu Oktaviana
#museum #kantor urusan agama #Borneo #Kecamatan Teweh Tengah #Kementerian Agama Republik Indonesia #mekkah #mushaf #pusaka keluarga #Amanah #ahli waris #Al-Qur’an #penghulu #H Muhammad Tasin