Kabar Terbaru Hukum & Peristiwa Kabar Kalteng Ekonomi & Bisnis Nasional Olahraga Hiburan Kesehatan Internasional Kuliner Wisata Pena Politik

Ujian Sabar dan Iklhas, Menemani Perjalanan Sabirin Menuju Tanah Suci

Anisa Bahril Wahdah • Jumat, 27 Februari 2026 | 10:20 WIB

Calon jemaah haji asal Palangka Raya, Sabirin Muhtar. (ANISA/KALTENG POS)
Calon jemaah haji asal Palangka Raya, Sabirin Muhtar. (ANISA/KALTENG POS)

Menunaikan ibadah haji menjadi kewajiban setiap muslim untuk menyempurnakan agama. Di balik perjuangan para jemaah haji, menyisakan banyak pelajaran berharga dari setiap jemaah.

 

ANISA BAHRIL WAHDAH, Palangka Raya

 

DI tengah ratusan calon jemaah haji Kota Palangka Raya yang akan bertolak ke tanah suci tahun ini, terselip pelajaran ikhlas dan sabar dari salah satu peserta manasik haji. Sabirin Muhtar, menjadi salah satu calon jemaah yang sudah jauh-jauh hari meyakini dirinya akan menunaikan ibadah haji tahun ini.

Rasa menggebu-gebu untuk berhaji bisa ia tahan. Menyadari berhaji adalah panggilan Allah Swt, bukan semata kehendak manusia, yang banyak luput dari perkiraan.

Mendaftar haji pada tahun 2012 silam, meyakinkan dirinya untuk bisa bertolak haji pada tahun 2025 lalu. Siap secara finansial dan mental, ia juga mendaftarkan istrinya dengan masa tunggu 13 tahun.

“Mendaftar haji pada tahun 2012, saat itu saya mendaftar dengan istri, jadi seharusnya saya berangkat sama istri,” kata Sabirin, saat dibincangi usai kegiatan manasik haji di Aula Arafah, Asrama Haji Jalan G Obos, Kota Palangka Raya, Senin (23/2).

Manusia hanya merencanakan, namun tuhan yang menentukan. Itulah yang dirasakan Sabirin, ketika rencana ia berhaji bersama istri harus terhenti.

“Istri saya sakit jantung, sudah berobat ke beberapa tempat hingga akhirnya meninggal tiga tahun lalu,” kisahnya, kepada kaltengpos.jawapos.com

Ia harus merelakan sang istri dan harus bertolak haji seorang diri. Hingga panggilan menjadi jemaah haji cadangan pada 2025 lalu, membangkitkan semangat untuk pergi ke tanah suci.

“Tahun lalu, saya menjadi jemaah haji cadangan. Sudah dihubungi beberapa bulan sebelum keberangkatan, karena memang sesuai urutannya saya masuk di kursi cadangan,” ucap pria kelahiran Kapuas, Kalteng ini.

Semangat dan menggebu-gebu yang ia rasakan, berujung pada kekecewaan. Segala persiapan sudah dilakukan mulai dari administrasi, pelunasan biaya, manasik haji hingga pembayaran dam.

“Ketika ada panggilan menjadi jemaah haji cadangan saya langsung mempersiapkan semuanya,” ujarnya dengan semangat.

Ia kembali menelan kecewa, kala namanya tak masuk dalam daftar keberangkatan haji ke tanah suci. Dari sekian kursi cadangan, ia yang berada di urutan paling bawah harus kembali sabar dan ikhlas.

“Saya lupa persisnya angka kursi cadangan saat itu, namun nama saya di posisi bawah sehingga tidak ikut diberangkatkan, beberapa jemaah dengan urutan di atas bisa bertolak haji karena menggantikan jemaah yang berhalangan,” bebernya.

Ia kembali dihadapkan pada ujian sabar dan ikhlas. Ia mengaku, tahun lalu ia terlalu menggebu-gebu dan optimis bisa berangkat haji, meski dengan status jemaah cadangan. Namun, ia sadar bahwa berangkat ke tanah suci merupakan panggilan Allah swt, yang bisa saja batal tanpa kehendak yang kuasa.

“Koper tinggal tarik dan berangkat, tapi gagal menunaikan ibadah haji. Tentu kecewa saat itu, namun itu menjadi pelajaran pribadi saya karena terlalu menggebu-gebu, sehingga saat batal berangkat menjadi kecewa,” tambah pria 87 tahun ini.

Kecewa itu kini terobati. Beberapa waktu lalu, ia kembali mendapat panggilan menjadi jemaah yang dipastikan berangkat haji tahun ini. Kali ini, ia menduduki kursi jemaah haji, bukan cadangan lagi.

“Ketika tahun lalu gagal berangkat haji, saya yakin tahun ini pasti berangkat, karena saat saya menjadi cadangan berarti sesuai urutan saya akan mendapat jatah tahun ini,” imbuhnya.

Namun, melihat pelajaran tahun lalu, ia tidak begitu menggebu-gebu. Meski demikian, segala persiapan harus dilakukan dengan maksimal. Mulai kembali mengikuti manasik haji dan persiapan lahir batin.

“Fokus ibadah saja tahun ini, tinggal berangkat karena sudah siap, pada dasarnya persiapan sudah tahun lalu,” singkatnya.

Rasa bahagia dan sedih ia rasakan. Bahagia lantaran berangkat haji menyempurnakan rukun Islam yang kelima. Di sisi lain, ia merasa sedih harus berhaji tanpa istri.

“Ya sedih, harusnya tahun ini berangkat bersama dia (istri,red), namun sudah takdir dan usianya tidak sampai, ikhlas,” tegasnya.

Biaya pelunasan sudah ia selesaikan saat menjadi jemaah cadangan tahun lalu. Sedangkan kuota istri yang seharusnya juga ikut ke tanah suci tahun ini, digantikan oleh anak mereka.

“Namun anak saya tidak berangkat tahun ini karena beberapa alasan,” jawabnya.

Tahun ini, ia tidak lagi melakukan pembayaran untuk pelunasan, lantaran proses administrasi sudah diselesaikan di tahun lalu. Ia mengaku bahwa total Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (BPIH) yang harus dibayarkan oleh Jemaah, tidak sepenuhnya ditanggung oleh masing-masing seseorang.

“Iya, ada dana manfaat yang diberikan kepada jemaah haji,” ucapnya.

Tentu, kata dia, dengan adanya dana itu dapat meringankan jemaah haji yang seharusnya membayar penuh, namun mendapat manfaat dari pengelolaan dana haji yang dikelola oleh Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) RI.

“Harapannya, dengan nilai manfaat itu, tahun ini pelaksanaan haji lebih baik dari tahun sebelumnya,” harapnya.

Terbukti, tahun ini ia mendengar bahwa pesawat yang akan digunakan untuk keberangkatan jemaah haji menggunakan maskapai yang lebih baik dari tahun sebelumnya.

“Tentu dengan adanya nilai manfaat ini akan berpengaruh terhadap jemaah haji, baik meringankan jemaah haji maupun fasilitas yang diterima jemaah haji di tanah suci nanti,” ujarnya.

Pihaknya juga mengaku menghindari calo-calo haji yang menawarkan berbagai hal, termasuk pembayaran dam. Ia meyakinkan semua pengelolaan keuangan dan proses pelaksanaan haji hanya kepada pemerintah.

“Calo-calo itu sebetulnya yang merusak citra pemerintah, yang sebetulnya pemerintah memberikan dampak positif kepada jemaah, kemudian ada hal-hal yang dilakukan calo atas nama pribadi,” tutupnya. (*)

Editor : Anisa Bahril Wahdah
#bpkh ri #jemaah haji #Haji 2026