Kabar Terbaru Hukum & Peristiwa Kabar Kalteng Ekonomi & Bisnis Nasional Olahraga Hiburan Kesehatan Internasional Kuliner Wisata Pena Politik

Kisah Perjuangan Mbah Mo, Lansia Berhaji dari Hasil Bertani

Anisa Bahril Wahdah • Sabtu, 28 Februari 2026 | 13:41 WIB

Yahmo dan istrinya Kastri. (ANISA/KALTENG POS)
Yahmo dan istrinya Kastri. (ANISA/KALTENG POS)

Usia bukan penghalang menjalankan ibadah haji. Niat dan tekad menjadi bekal yang kuat. Pun kemampuan. Inilah Yahmo, menyisihkan sebagian penghasilan dari bertani, menyempurnakan agama dengan bertolak haji.

 

ANISA BAHRIL WAHDAH, Palangka Raya

 

SEORANG pria tua cukup disegani di Jalan Dunis Tuwan, Tjilik Riwut Kilometer 10, Kota Palangka Raya. Hampir seluruh penghuni rumah di komplek ini mengenalnya. Yahmo, seorang pembabat Jalan Dunis tuwan yang menggeluti dunia pertanian.

Saban pagi, ia tak pernah absen dari ladang di depan rumahnya. Sebidang lahan berukuran 70×23 meter itu menjadi satu-satunya ladang mata pencahariannya. Menanam dan merawat tanaman seperti kangkung, bayam, tomat dan berbagai macam sayuran menjadi rutinitasnya setiap pagi.

Matahari seolah menjadi sahabat karibnya. Dari mentari terbit hingga senja, panas sang surya tak menghalanginya bercocok tanam. Lebih dari 30 tahun, Mbah Mo, sapaanya, menjalani profesi sebagai seorang petani.

Bukan lahan milik sendiri, Mbah Mo, menggarap lahan yang tidak dikelola milik Dunis Tuwan. Ia menjadi perantauan asal Bojonegoro, Jawa Timur. Setelah satu dekade menjalani kehidupan sebagai transmigrasi di Pangkoh, Kabupaten Pulang Pisau, Kalteng sebagai seorang petani padi, ia bertolak ke Ibu Kota Kalteng, Kota Palangka Raya.

“Mulai dari itu saya menggarap lahan milik Kai (Kakek,red) Dunis Tuwan. Saya yang membabat dan memberi nama jalan ini Dunis Tuwan,” kata Mbah Mo, saat dibincangi di rumahnya, Kamis (26/2/2026).

Dalam menggarap lahan, ia memberikan bagian sepuluh persen dari penghasilan bertani, ia berikan kepada sang tuan tanah. Kehidupan ini ia jalani hingga saat ini. Namun, dari luasan tanah yang ia garap selama puluhan tahun, kini tinggal sebidang tanah yang ia kerjakan, tepat di depan rumahnya.

“Memang pemilik tanah tidak meminta bagian, tetapi saya berinisiatif memberikan sebagian hasil pertanian. Dari berladang inilah, saya bisa hidup dan menghidupi anak-anak saya, termasuk mengenyam pendidikan tinggi,” cerita Mbah Mo, mengenang awal kehidupan di tanah perantauan.

Dari hasil bertani ini pula, pria 75 tahun ini bisa menunaikan ibadah haji. Menjadi jemaah lansia pada haji 2025 lalu, tidak menyurutkan semangatnya untuk menyempurnakan agama. Rukun Islam yang kelima.

“Alhamdulillah saya sudah menunaikan ibadah haji pada Tahun 2025 lalu, bersama istri,” katanya kepada kaltengpos.jawapos.com

Mbah Mo bersama istri menyisihkan sebagian penghasilan untuk ditabung. Tahun 2012, ia bersama istri memutuskan mendaftar haji untuk menunaikan hajatnya.

Yahmo dan Kastri saat menjalankan ibadah haji tahun 2025 lalu. (DOKUMEN PRIBADI)
Yahmo dan Kastri saat menjalankan ibadah haji tahun 2025 lalu. (DOKUMEN PRIBADI)

“Saya memang ada keinginan sejak muda, semoga nanti saya bisa berhaji, alhamdulillah tunai niat itu,” kata pria kelahiran 8 Agustus 1951 ini.

Baginya, tidak ada yang tidak mungkin jika niat sudah ditanamkan dalam hati. Terlebih, ia sebagai seorang petani yang menggarap ladang milik orang lain, namun niat itu terwujud dengan hasil kerja keras.

“Sebelum mendaftar haji reguler memang ada keinginan untuk mendaftar haji plus, saat itu saya pulang ke Jawa, kakak saya baru pulang berhaji. Sepulangnya saya dari Jawa langsung mendaftar,” jelasnya.

Meski harus menunggu 13 tahun lamanya, harapan ke tanah suci terkabul pada tahun 2025. Mendaftar melalui Bank Syariah Indonesia (BSI), Mbah Mo melakukan setoran pendaftaran Rp25 juta, total yang ia bayarkan dengan istri sebesar Rp50 juta.

“Setelah melakukan pendaftaran kami menabung untuk rencana pelunasan, alhamdulillah saat tahun lalu dihubungi untuk berangkat haji, dana nya sudah siap,” tegasnya.

Tahun 2025 lalu, pemerintah menetapkan BPIH sekitar Rp89.410.258,79 per jemaah dengan nilai Embarkasi Banjarmasin sebesar Rp59.331.751. Menjelang keberangkatan, ia mengaku mendapat uang saku dari pemerintah sebagai bagian dari uang manfaat haji.

“Iya, ada diberikan uang saku, lupa nominalnya,” jawabnya.

Untuk pertama kalinya menginjakkan kaki di tanah suci, ia merasa aman dan tenang dengan pelayanan yang ada. Sebagai jemaah lansia, ia bersama istri mendapat pelayanan prioritas sebagai jemaah haji rentan.

“Alhamdulillah, meski usia sudah 74 tetapi bisa menunaikan ibadah haji dengan lancar, memang pelayanan kepada kami para lansia sangat maksimal,” tegasnya.

Meskipun, dalam pelaksanaanya, ia dengan kondisi usia lanjut sedikit kesulitan dalam beraktivitas, khususnya saat menjalankan ibadah wajib dengan aktivitas fisik cukup berat. Namun, semua itu tidak mengurangi semangat dalam menjalankan ibadah haji.

“Untuk fasilitas tempat tinggal dan menu makanan yang ada di sana sangat melimpah, kami dijamu dengan sangat baik,” tegas bapak empat anak ini.

Pun dengan istrinya, Kastri, mengaku bahwa melaksanakan ibadah haji dengan usia lanjut menjadi tantangan. Ia harus melalui beberapa rintangan seperti jatuh, karena kondisi kesehatan tulang yang kurang baik.

“Kaki saya sudah sakit sebelum berangkat, patah. Ditambah lagi dengan perjuangan kegiatan ibadah fisik di tanah suci. Tetapi, hal itu juga menjadi semangat kami menjalankan ibadah,” jelasnya.

Terkait pelayanan dan fasilitas yang diberikan juga sangat maksimal. “Makanan itu turah-turah (melimpah,red), kalau makanan sudah sangat luar biasa,” tutupnya. (*)

Editor : Anisa Bahril Wahdah
#bpkh ri #Kisah haji #haji 2025 #Haji 2026