Kabar Terbaru Hukum & Peristiwa Kabar Kalteng Ekonomi & Bisnis Nasional Olahraga Hiburan Kesehatan Internasional Kuliner Wisata Pena Politik Pendidikan

Sejarah Islam di Kalteng, Kiai Gede Dikenal Santun, Bijak, dan Memiliki Kemampuan Manajerial

Agus Pramono • Kamis, 5 Maret 2026 | 13:00 WIB

Masjid Kiai Gede di Kotawaringin Barat menjadi bukti syiar islam di pulau Kalimantan. DOK KALTENG POS
Masjid Kiai Gede di Kotawaringin Barat menjadi bukti syiar islam di pulau Kalimantan. DOK KALTENG POS

Ketua MUI Kalteng Prof KH Khairil Anwar menyebut bahwa keberadaan makam dan masjid Kiai Gede hingga saat ini menjadi bukti sejarah islamisasi di wilayah Kalimantan Tengah, khususnya di kawasan Kotawaringin dan sekitarnya.


DHEA UMILATI, Palangka Raya

MENURUT Prof Khairil, Kiai Gede dikenal sebagai sosok yang santun, bijak, dan memiliki kemampuan manajerial dalam pemerintahan.

Peran ganda sebagai ulama dan administrator ini membuat Kiai Gede menjadi figur penting dalam integrasi antara dakwah Islam dan tata kelola kerajaan.

Prof. Khairil menjelaskan bahwa Kesultanan di wilayah Kotawaringin kemudian berkembang hingga mencapai masa keemasan pada era Sultan Imanuddin. Pada masa ini, pusat pemerintahan dipindahkan ke Pangkalan Bun yang berada di wilayah pesisir strategis.

Menurutnya, pada era Sultan Imanuddin, perkembangan Islam semakin terstruktur melalui pembangunan masjid, pengajian, pendidikan untuk keluarga kerajaan, serta penerapan sistem hukum adat yang dipengaruhi nilai-nilai Islam, seperti Undang-Undang Kuntara.

“Lengkaplah saat itu memang maju ke sultanan. Ada masjid, ada pengajian, ada pendidikan untuk anak-anak raja,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa struktur kesultanan pada masa tersebut menunjukkan integrasi antara agama, pendidikan, dan pemerintahan, yang menjadi fondasi perkembangan masyarakat Muslim di wilayah Kalimantan Tengah.

Prof Khairil juga menjelaskan keunikan diplomasi politik Kesultanan di Kalimantan Tengah. Menurutnya, penguasa di wilayah tersebut disebut Sultan ketika berhubungan dengan kerajaan luar seperti Brunei dan Sambas, tetapi disebut Pangeran ketika berhubungan dengan Kesultanan Banjar.

Hal ini mencerminkan hubungan kekerabatan politik antara Kesultanan Banjar dan Kesultanan di wilayah Kutaringin, sekaligus menunjukkan fleksibilitas diplomasi dalam struktur kekuasaan pada masa itu.

Menurut Prof Khairil, penggunaan dua gelar tersebut mencerminkan identitas politik yang dinamis dan adaptif, serta menunjukkan posisi kesultanan di Kalimantan Tengah dalam jaringan kerajaan-kerajaan di kawasan Kalimantan.

Baca Juga: Jejak Al-Qur’an Tulisan Tangan HM Tasin di Barito Utara, Menanti Pengakuan dari Perpustakaan Nasional

Ketua MUI Kalteng ini juga menegaskan bahwa peran Sultan Anta Kusuma dan Kiai Gede bukan hanya penting dalam konteks sejarah politik, tetapi juga dalam pembentukan peradaban Islam di Kalimantan Tengah.

Struktur pemerintahan yang mereka bangun menjadi sarana dakwah, pendidikan, dan pembentukan nilai-nilai sosial masyarakat.

Ia menilai bahwa keberhasilan islamisasi di wilayah ini tidak hanya karena dakwah ulama, tetapi juga karena adanya dukungan struktur politik kerajaan yang memfasilitasi perkembangan Islam.

“Peran mereka itu fundamental. Dari pemerintahan, dakwah, sampai pendidikan, semua terbangun di masa kesultanan,” ungkapnya. (*bersambung/ala)

Editor : Ayu Oktaviana
#dakwah Islam #pangkalan bun #Sultan Anta Kusuma dan Kiai Gede #kiai gede #perkembangan islam #diplomasi politik #kesultanan banjar #kesultanan