Masuknya islam juga terjadi di wilayah Barito. Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kalteng Prof Dr KH Khairil Anwar, mengungkapkan bahwa jalur sungai memainkan peran strategis dalam proses masuk dan berkembangnya Islam di wilayah ini.
DHEA UMILATI, Palangka Raya
MENURUT Prof Khairil, Sungai Barito sejak masa lampau telah menjadi jalur utama perdagangan sekaligus jalur penyebaran Islam. Aktivitas perdagangan yang intens membuat wilayah di sepanjang sungai menjadi titik pertemuan berbagai etnis, budaya, dan agama.
“Barito itu sejak dulu sudah menjadi jalur perdagangan. Kapal-kapal dagang dari luar masuk ke Marabahan, Muara Teweh, sampai Puruk Cahu. Dari situ Islam berkembang lewat interaksi perdagangan,” ujarnya, Selasa (10/2/2026).
Ia menjelaskan bahwa pada masa kolonial, Sungai Barito menjadi jalur utama perdagangan rempah-rempah dan komoditas lainnya, sehingga menjadi ruang perjumpaan pedagang Muslim dengan masyarakat lokal. Proses ini kemudian melahirkan komunitas Muslim di berbagai wilayah sepanjang sungai.
“Perdagangan itu tidak berdiri sendiri. Ada dakwah, ada tasawuf, ada keteladanan. Pedagang mengajarkan agama sambil berdagang,” katanya.
Prof. Khairil menambahkan bahwa para pedagang Muslim juga membawa ajaran tasawuf melalui berbagai tarekat seperti Qadiriyah dan Naqsyabandiyah. Ajaran ini menjadi pendekatan dakwah yang mudah diterima masyarakat lokal.
“Siapa yang mengajarkan tasawuf, dia mengajarkan agama. Itu yang membuat Islam berkembang secara damai,” jelasnya.
Keteladanan sosial para pedagang Muslim, seperti menjaga kebersihan, bekerja keras, dan menerapkan pola hidup halal, membuat masyarakat Dayak tertarik dengan Islam.
“Orangnya rajin, bersih, pakai pakaian menutup aurat, makannya halal. Itu membuat masyarakat tertarik. Bahkan banyak gadis Dayak yang menikah dengan pedagang Muslim karena keteladanan,” ungkapnya.
Dari perdagangan dan perkawinan, komunitas Muslim kemudian terbentuk di berbagai wilayah seperti Marabahan, Buntok, Muara Teweh, Muara Laung, hingga Puruk Cahu. Di setiap komunitas tersebut, masjid dan musala dibangun sebagai pusat dakwah dan pendidikan.
“Kalau sudah ada musala, berarti ada komunitas. Dari situ ada dakwah, ada pendidikan. Lama-lama berkembang lembaga pendidikan,” katanya. (*bersambung/ala)
Editor : Ayu Oktaviana