Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kalteng Prof Dr KH Khairil Anwar mengungkapkan bahwa proses islamisasi besar-besaran di wilayah Kalteng dan Kalsel terjadi pada abad ke-18 melalui jaringan ulama besar yang memiliki keterhubungan langsung dengan pusat-pusat keilmuan Islam di Timur Tengah.
DHEA UMILATI, Palangka Raya
MENURUTNYA, periode tersebut menjadi titik balik penting dalam sejarah perkembangan Islam di Kalimantan, khususnya di kawasan Sungai Barito yang sejak lama menjadi jalur utama perdagangan, mobilitas penduduk, serta penyebaran dakwah.
“Islamisasi besar-besaran itu terjadi ketika Syekh Arsyad Al-Banjari kembali dari Mekkah. Dia membawa ilmu dan jaringan ulama yang kemudian menyebar ke seluruh Kalimantan,” ujar Prof Khairil, Selasa (10/2/2026).
Ia menjelaskan bahwa Syekh Arsyad Al-Banjari merupakan ulama besar Banjar yang diutus ke Mekkah pada sekitar 1730-an untuk menimba ilmu agama.
Ia menetap di Tanah Suci selama kurang lebih 30 tahun, berguru kepada ulama-ulama terkemuka dan membangun jaringan keilmuan Islam internasional.
Setelah kembali ke Banjar, Syekh Arsyad tidak hanya mengajarkan ilmu agama, tetapi juga membangun sistem pendidikan dan dakwah yang terstruktur, sehingga melahirkan generasi ulama yang kemudian menyebar ke berbagai wilayah di Kalimantan.
“Beliau bukan hanya ulama, tetapi juga pendidik dan pembangun peradaban Islam di wilayah Banjar dan sekitarnya,” katanya.
Ketua MUI Kalteng ini juga mengungkapkan bahwa proses islamisasi di Kalimantan tidak terlepas dari integrasi budaya melalui perkawinan.
Anak Syekh Arsyad Al-Banjari, Syekh Jamaluddin, menikah dengan perempuan Dayak Bakumpai di wilayah Marabahan.
“Syekh Jamaluddin menikah dengan perempuan Dayak Bakumpai di Marabahan. Dari situ lahir generasi ulama yang menyebarkan Islam di pedalaman,” ujarnya.
Perkawinan tersebut menjadi simbol integrasi budaya Banjar dan Dayak, sekaligus jalur dakwah yang efektif melalui hubungan keluarga dan sosial masyarakat lokal.
Dari keturunan inilah kemudian lahir generasi ulama yang berperan besar dalam penyebaran Islam ke wilayah pedalaman Kalimantan Tengah.
Salah satu keturunan Syekh Arsyad Al-Banjari yang berpengaruh adalah Syekh Abdus Samad. Prof Khairil menjelaskan bahwa Syekh Abdus Samad belajar di Mekkah selama tujuh tahun sebelum kembali ke Marabahan dan mengajarkan tarekat Syadziliyah.
“Murid-muridnya datang dari berbagai daerah seperti Buntok, Muara Teweh, dan Puruk Cahu. Setelah belajar, mereka berdagang sambil menyebarkan Islam,” jelasnya.
Model dakwah melalui pendidikan dan perdagangan ini dinilai sangat efektif, karen tidak hanya menyampaikan ajaran agama, tetapi juga menjadi bagian dari kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat setempat.
Prof. Khairil menekankan bahwa jalur Sungai Barito menjadi jaringan pendidikan Islam yang sangat strategis. Sungai ini berfungsi sebagai jalur transportasi utama yang menghubungkan wilayah pesisir dan pedalaman Kalimantan.
“Mereka naik getek, perjalanan berhari-hari. Dari Marabahan ke Buntok, ke Muara Teweh, ke Muara Laung, sampai Muara Untu. Di setiap tempat mereka membangun masjid dan komunitas Muslim,” ungkapnya.
Di sepanjang jalur sungai tersebut, para ulama dan murid-muridnya mendirikan masjid, musala, serta pusat-pusat pengajian yang kemudian menjadi embrio lembaga pendidikan Islam tradisional di Kalteng.
Sebagai bukti sejarah perkembangan Islam di pedalaman, Prof Khairil menyebut berdirinya Masjid Lahak Wadid di Muara Untu pada tahun 1802. Masjid ini menjadi salah satu saksi penting bahwa Islam telah mengakar di wilayah pedalaman sejak awal abad ke-19.
“Ini merupakan salah satu bukti sejarah penting perkembangan Islam. Keberadaan masjid ini menandai jejak penyebaran agama Islam yang telah mencapai area pedalaman pada abad ke-19, menjadi saksi bisu sejarah keagamaan di kawasan tersebut,” ujarnya. (*bersambung/ala)
Editor : Ayu Oktaviana