Kabar Terbaru Hukum & Peristiwa Kabar Kalteng Ekonomi & Bisnis Nasional Olahraga Hiburan Kesehatan Internasional Kuliner Wisata Pena Politik Pendidikan

Menanti Panggilan Baitullah: Kisah Relly Ernawati Menabung Iman di Tengah Panjangnya Antrean Haji  

Anisa Bahril Wahdah • Kamis, 26 Maret 2026 | 11:18 WIB

 

 

Relly Ernawati saat menunjukkan tabungan haji. (ANISA/KALTENG POS)
Relly Ernawati saat menunjukkan tabungan haji. (ANISA/KALTENG POS)

PALANGKA RAYA – Di balik panjangnya antrean ibadah haji di Indonesia, tersimpan kisah kesabaran dan keyakinan yang tak tergoyahkan. Salah satunya datang dari Relly Ernawati, seorang calon jemaah haji yang telah menabung harapan sejak 2018, demi memenuhi panggilan suci ke Tanah Haram.

Di usianya yang ke-48 tahun, Relly memutuskan mendaftar haji melalui salah satu bank syariah, yakni Bank Muamalat, dengan setoran awal sebesar Rp25 juta untuk mendapatkan nomor porsi. Proses tersebut menjadi pintu awal perjalanan panjangnya menuju Baitullah.

“Karena memang sudah niat ingin menunaikan rukun Islam kelima, dan kebetulan saat itu ada dananya,” ujar Relly.

Setelah mendapatkan nomor porsi dari Kementerian Agama Republik Indonesia, Relly pun harus bersiap menghadapi kenyataan yang umum dialami jutaan calon jemaah lainnya: masa tunggu yang panjang, antara 15 hingga 20 tahun.

Jika sesuai perkiraan, Relly baru akan berangkat pada rentang tahun 2033 hingga 2038.

Bagi Relly, proses menabung bukanlah sesuatu yang rumit. Ia hanya perlu memenuhi persyaratan administrasi di bank dan memastikan kesiapan dana. Namun, yang jauh lebih penting adalah menjaga kesiapan hati dan kesehatan.

“Insya Allah selalu diberikan kesehatan jasmani dan rohani sampai waktu dipanggil-Nya. Saya juga rutin berolahraga,” tuturnya.

Meski harus menunggu belasan tahun, rasa syukur dan bahagia tetap menyelimuti dirinya. Baginya, mendapatkan nomor porsi saja sudah menjadi langkah besar dalam perjalanan spiritual.

Perempuan yang telah dua kali menunaikan umrah ini menyimpan doa yang begitu dalam. Ia berharap seluruh proses ibadah hajinya kelak berjalan lancar dan membawa keberkahan.

“Semoga menjadi hajjah yang mabrur, dan kalau bisa ingin meninggal di Tanah Haram, di Mekkah atau Madinah,” ungkapnya penuh harap. Relly juga berharap bisa kembali ke Tanah Suci bersama keluarga besarnya—suami, anak, menantu, hingga cucu.

Di balik rasa syukur, Relly juga menyampaikan harapan terhadap pengelolaan dana haji yang dilakukan oleh Badan Pengelola Keuangan Haji.

Menurutnya, dana manfaat yang dikelola seharusnya benar-benar kembali kepada jemaah dalam bentuk pelayanan maksimal saat keberangkatan.

“Dana manfaat itu kan hak jemaah yang sudah menabung selama 15 sampai 20 tahun. Harusnya bisa menanggung biaya operasional seperti transportasi dan makan,” tegasnya. Ia juga menyoroti pentingnya sosialisasi dari pihak Kementerian Agama agar masyarakat memahami secara utuh mekanisme haji, termasuk pengelolaan dana dan hak jemaah.

Kisah Relly Ernawati adalah potret nyata jutaan masyarakat Indonesia yang menabung bukan sekadar uang, tetapi juga kesabaran dan keimanan. Dalam panjangnya antrean, tersimpan doa-doa yang tak pernah putus.

Perjalanan menuju Tanah Suci memang tidak selalu cepat. Namun bagi Relly, setiap tahun penantian adalah bagian dari ibadah itu sendiri—sebuah perjalanan hati menuju panggilan Ilahi. (*)

Editor : Anisa Bahril Wahdah
#pengelolaan haji #dana haji #bpkh ri