Kabar Terbaru Hukum & Peristiwa Kabar Kalteng Ekonomi & Bisnis Nasional Olahraga Hiburan Kesehatan Internasional Kuliner Wisata Pena Politik Pendidikan

Syamsul Arifin, Qori Nasional yang Menjuarai Berbagai MTQ, Saat Mahasiswa Aktif Jadi Imam Masjid, Istiqamah Jaga Hafalan

Agus Pramono • Jumat, 27 Maret 2026 | 15:38 WIB

Syamsul Arifin menjuarai lomba Musabaqoh Tilawatil Qur’an tingkat Provinsi Kalteng. DOK.PRIBADI
Syamsul Arifin menjuarai lomba Musabaqoh Tilawatil Qur’an tingkat Provinsi Kalteng. DOK.PRIBADI

Syamsul Arifin kini berusia 32 tahun, ia mengabdi sebagai guru Qur’an di SMP Darussalam, Imam Masjid Al-Firdaus Palangka Raya, sekaligus pembina tilawah. Baginya, Al-Qur’an bukan sekadar bacaan melainkan jalan hidup yang menuntunnya merantau, menuntut ilmu dan mengajar generasi.

FITRI SHAFA KAMILAPalangka Raya

LANTUNAN ayat suci Al-Qur’an menggema lembut di Masjid Al-Firdaus, Jalan G Obos 12, Palangka Raya. Di shaf terdepan berdiri sosok imam berusia 32 tahun dengan suara tenang dan penuh penghayatan. Dialah Syamsul Arifin, Imam Masjid Al-Firdaus sekaligus Qori nasional yang telah melanglang buana di berbagai ajang MTQ.

Saat ini ia aktif mengajar di SMP Islam Darussalam sebagai seorang guru. Karirnya di mulai sekitar tahun 2020 Syamsul menjadi guru Qur’an. Setahun kemudian, ia juga membantu mata pelajaran Pendidikan Agama Islam sekaligus mengoordinir kegiatan Al-Qur’an di sekolah tempatnya mengabdi.

“Alhamdulillah untuk yang ngajar di sini itu 2020 masuk jadi guru Qur’an, kemudian juga 2021 membantu di mapel Pendidikan Agama Islam, sekaligus diminta untuk membantu mengkoordinir kegiatan Qur’an,” ujarnya, Rabu (25/2).

Di luar aktivitas sekolah, ia rutin membantu menjadi imam di Masjid Al-Firdaus sejak sekitar tahun 2020. Saat itu, ia masih berstatus mahasiswa dan tinggal di asrama pesantren mahasiswa yang dikelola dosen UIN setempat. Ia tidak menetap di masjid, tetapi dijadwalkan mengisi imam secara bergiliran.

“Karena di masjid itu perlu imam tetap, jadinya diminta untuk membantu tanpa diam di sana. Kalau yang diam di sana ada marbot. Kalau saya sendiri masih di luar, cuma dijadwalkan membantu ngisi imam,” tuturnya.

Di usianya saat itu terbilang muda, ia sudah banyak memberikan manfaat terhadap sesama mulai dari jadi imam masjid hingga mengajar jadi guru ngaji bagi orang tua. Syamsul juga mengisi tahsin Al-Qur’an setiap malam Rabu selepas salat Isya. Pesertanya mayoritas jamaah sepuh, sekitar enam hingga delapan orang yang istiqamah belajar memperbaiki bacaan.

“Untuk yang tahsin Al-Qur’an itu tidak terlalu banyak, sekitar paling maksimal delapan orang. Karena memang waktunya setelah salat Isya,” katanya.

Sebelum menelusuri lebih jauh perjalanan karirnya, Syamsul kecil hidup dengan lingkungan yang agamis dan semuanya berawal dari perjalanan tilawah Syamsul dimulai sejak kecil. Ia tumbuh di lingkungan keluarga yang memiliki mushola sendiri. Kakeknya merupakan tokoh agama setempat, dan rumahnya menjadi tempat orang-orang belajar mengaji.

“Di sana itu setiap rumah ada mushola. Kebetulan di rumah itu peninggalan kakek, tokoh agama waktu itu. Orang-orang mengaji ke tempat saya itu sehingga dijadikan warisan turun-temurun,” kenangnya.

Ia mulai berani tampil saat kelas lima SD. Namun langkah seriusnya dimulai pada 2012 ketika mengikuti Musabaqoh Tilawatil Qur’an (MTQ) tingkat kabupaten di Madura dan meraih Harapan 2. Tentu saja hal tersebut menjadi kebanggaan tersendiri untuk oertama kalinya. Rasa penasaran dan keinginannya mengikuti lebih banyak lomba MTQ jadi bertambah kuat.

Setahun berselang di tahun 2013, ia mengikuti perlombaan untuk pertama kalinya meninggalkan Madura dan keluar pulau hingga menginjakkan kaki di Kalteng dengan menorehkan juara 1 tingkat kabupaten di Kalteng dan juara 3 tingkat provinsi kategori remaja. Prestasinya tidak berhenti disitu, dirinya terus mengikuti ajang perlombaan MTQ pada tahun-tahun berikutnya diisi dengan berbagai capaian, harapan 3 tingkat dewasa, Harapan 1 remaja hingga puncaknya pada 2018 meraih juara 1 tingkat dewasa dan mewakili daerah ke tingkat nasional di Medan.

Pada 2016, ia juga meraih juara 3 Olimpiade One Day One Juz di Bekasi, serta Harapan 2 pada ajang Pionir Olimpiade PTKIN se-Indonesia tahun 2019. Prestasi terbarunya tahun 2025 ini ia meraih juara 2 tingkat provinsi kategori dewasa Tilawatil Qur’an.

“Kalau boleh kita katakan yang mengantarkan itu Al-Qur’an. Al-Qur’an yang kemudian membawa saya ke Kalimantan,” ungkapnya penuh syukur.

Ia menceritakan bagaimana perjalanan awalanya yang mengantarkannya ke Kalimantan. Awalnya, Syamsul datang ke Kalimantan karena undangan lomba di Kabupaten Seruyan. Ketertarikan pada pengalaman baru dan dukungan LPTQ setempat membuatnya bolak-balik Madura–Kalimantan pada 2014–2015.

Titik balik terjadi pada 2016, ketika ia bertemu seseorang yang mengenalkannya pada peluang kuliah di UIN Palangka Raya. Sejak saat itu, ia menetap dan menyelesaikan studi hingga akhirnya mengabdi sebagai guru di SMP Islam Darussalam Palangka Raya.

Selain mengajar, ia juga dipercaya menjadi Ketua Yayasan Miftahus Sudur dan membina tutor mengaji di program bimbingan baca Qur’an kampus melalui metode Tilawati. Ia terlibat dalam pembinaan, munaqosah, hingga kenaikan jilid santri.

Meski dikenal sebagai qori, Syamsul mengakui fokus utamanya adalah kualitas bacaan, bukan kuantitas hafalan. Saat ini ia menjaga hafalan secara istiqamah, disertai beberapa surah pilihan.

“Memang tantangannya untuk Qur’an itu besar, apalagi menghafal. Godanya luar biasa, semangat bisa menurun. Jadi saya belum terlalu berani menambah terlalu banyak yang ada saja kita perjuangkan untuk mempertahankan,” katanya jujur.

Dalam seni tilawah, ia menggemari lagu Nahawand, serta lagu-lagu lain seperti Jiharkah dan Hijaz. Perkembangan variasi lagu ia ikuti dari pembinaan langsung para qori senior maupun media sosial.

“Kalau saya suka itu memang lagu Nahawand. Kemudian juga lagu-lagu yang sedih itu saya suka,” ujarnya.

Bagi Syamsul, perjalanan ini bukan sekadar tentang lomba dan gelar. Ia meyakini semua berawal dari doa dan keteladanan keluarga.

“Bersyukur. Mungkin kakek itu tidak yang alim sekali tapi senang dengan orang-orang alim, berkhidmat ke kiai. Mungkin berkat doa beliau, akhirnya kami juga Allah takdirkan suka dengan kegiatan keagamaan,” tutupnya. (*/ala)

Editor : Ayu Oktaviana
#pesantren #one day one juz #Qur an #mtq #kabupaten seruyan #imam #Musabaqoh Tilawatil Quran (MTQ) #qori nasional #tilawah #Tilawatil Qur'an #Al Qur an #smp islam #pendidikan agama islam