DI usianya yang baru menginjak 22 tahun, Mutoharoh sudah mengambil langkah besar dalam hidupnya, mendaftar ibadah haji. Perempuan kelahiran Pangkalan Bun, 21 Oktober 2001 itu resmi mendaftar pada tahun 2024 melalui Kementerian Agama Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), mengikuti domisilinya.
Keputusan tersebut awalnya bukan sepenuhnya datang dari dirinya. Ada dorongan dari orang tua yang menjadi titik awal perjalanan spiritualnya. Namun seiring waktu, niat itu tumbuh menjadi kesadaran pribadi.
“Kalau jujur awalnya karena keinginan orang tua. Tapi sekarang kalau dipikir-pikir, ini juga bagus. Kapan lagi mulai memikirkan kewajiban haji kalau sudah mampu? Sekalian mulai menabung untuk ‘tabungan akhirat’,” ungkap Mutoharoh.
Langkahnya mendaftar di usia muda bukan tanpa pertimbangan. Ia memahami bahwa antrean haji di Indonesia sangat panjang. Dengan perkiraan keberangkatan sekitar tahun 2037, Mutoharoh melihat keputusan ini sebagai investasi jangka panjang, baik secara finansial maupun spiritual.
Untuk mendukung persiapannya, Mutoharoh membuka rekening khusus haji di Bank Syariah Indonesia (BSI). Ia menegaskan adanya perbedaan antara rekening haji dan menabung haji yang sering disalahpahami masyarakat.
“Rekening haji itu wajib dimiliki sebelum mendaftar haji. Sedangkan menabung haji itu bisa dilakukan di mana saja. Kalau di BSI, rekening haji itu khusus, bahkan ada gambar Ka’bahnya, mungkin biar lebih semangat nabung,” jelasnya.
Meski demikian, ia mengakui fasilitas transaksi seperti ATM BSI di daerahnya masih terbatas, sehingga belum membuka rekening tambahan untuk kebutuhan lain.
Bagi Mutoharoh, menabung haji bukan sekadar soal pelunasan biaya, tetapi lebih kepada proses mencicil kemampuan di tengah kondisi ekonomi yang tidak selalu mudah. Ia juga menyadari bahwa biaya haji bersifat dinamis dan bisa berubah mengikuti kebijakan pemerintah.
“Kalau sekarang kabarnya biaya haji turun, tapi keberangkatan saya kan masih lama. Bisa saja nanti berubah lagi tergantung kebijakan ke depan,” katanya.
Terkait pengelolaan dana haji oleh Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH), Mutoharoh memilih bersikap realistis namun tetap berharap yang terbaik. Ia menyadari bahwa dana yang disetorkan jamaah dikelola dan diinvestasikan untuk memberikan manfaat.
“Kalau soal kepercayaan, saya pribadi pasrah. Kalau pun ada hal yang tidak baik, itu jadi urusan oknum. Tapi kita tetap berharap semuanya amanah. Yang penting jangan sampai jamaah dirugikan,” tegasnya.
Ia juga menekankan pentingnya transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan dana umat tersebut. Baginya, kepercayaan publik harus dijaga dengan keterbukaan informasi yang jelas.
Menariknya, Mutoharoh juga memahami konsekuensi jika menarik dana haji sebelum berangkat. Menurutnya, hal itu sama saja dengan keluar dari antrean dan harus memulai dari awal jika ingin mendaftar kembali.
“Ibaratnya kita sudah punya nomor kursi. Kalau ditarik, ya kita kehilangan antrean itu dan harus mulai lagi dari nol,” ujarnya.
Meski jadwal keberangkatan masih belasan tahun lagi, Mutoharoh tidak terlalu terbebani. Ia memilih menjalani proses ini dengan santai namun tetap konsisten. Persiapan fisik pun belum dilakukan secara intensif, meski ia mulai menjaga pola hidup sehat.
“Kalau persiapan intensif mungkin nanti mendekati keberangkatan, sekitar 2036. Sekarang lebih ke jaga kesehatan saja,” katanya.
Baginya, ibadah haji adalah perjalanan spiritual yang sangat personal. Bukan soal usia atau siapa yang lebih dulu berangkat, melainkan kesiapan hati dalam memenuhi panggilan Ilahi.
“Haji itu kan ibadah antara manusia dan Allah, dilakukan di tempat terbaik, Rumah Allah di dunia. Jadi perasaannya ya biasa saja, dijalani saja,” tutup Mutoharoh dengan tenang.
Kisah Mutoharoh menjadi gambaran bahwa kesadaran beribadah bisa tumbuh sejak dini. Di tengah tantangan ekonomi dan panjangnya antrean, tekad untuk “menabung surga” tetap bisa dimulai dari sekarang. (abw)
Editor : Anisa Bahril Wahdah