DI balik khusyuknya jutaan umat Islam menjalankan ibadah haji, ada sosok-sosok yang bekerja dalam senyap mengatur, memastikan, dan menjaga agar setiap langkah ibadah berjalan lancar. Salah satunya adalah seorang Ketua Kloter (TPHI), Rahmat Fauzi, ia tidak hanya sekadar berhaji, tetapi mengemban amanah besar: melayani.
Perjalanan itu dimulai jauh sebelum kaki menjejak Tanah Suci. Prosesnya panjang dan ketat. Dari pengumuman resmi seleksi oleh Kanwil Kementerian Agama Kalimantan Tengah, pendaftaran dilakukan secara daring, dilanjutkan dengan seleksi administrasi yang menuntut kelengkapan dokumen seperti KTP, ijazah, SK PNS, hingga surat keterangan sehat.
Namun, administrasi hanyalah pintu awal. Tahap berikutnya adalah ujian kompetensi berbasis komputer (CAT), dimulai dari tingkat kabupaten/kota hingga provinsi. Materinya tidak ringan—mulai dari regulasi perhajian, fiqh haji, pelayanan publik, hingga istilah-istilah di Arab Saudi. Setelah itu, peserta masih harus melalui wawancara dan penilaian rekam jejak. Hanya yang benar-benar siap yang akhirnya terpilih.
“Ketika dinyatakan lulus sebagai Ketua Kloter, rasanya campur aduk—bangga, haru, sekaligus sadar bahwa tanggung jawabnya tidak kecil,” tuturnya.
Seleksi yang ketat itu berlanjut pada pembekalan. Selama sekitar 10 hari, para petugas mengikuti diklat di Banjarmasin, dilengkapi pemeriksaan kesehatan, vaksinasi, hingga pendalaman materi manasik. Mereka juga mulai mengenal jemaah yang akan dilayani—dalam hal ini, Kloter VI yang terdiri dari jemaah asal Kapuas, Murung Raya, Barito Utara, Barito Timur, Katingan, dan Sukamara.
Tugas sebagai Ketua Kloter ternyata jauh melampaui ekspektasi banyak orang. Ia tidak hanya memimpin, tetapi juga menjadi penghubung, pengambil keputusan, sekaligus penanggung jawab utama atas ratusan jemaah.
Setiap hari, ia harus memastikan kebutuhan dasar jemaah terpenuhi—mulai dari akomodasi, konsumsi, hingga transportasi. Bersama tim kloter yang terdiri dari pembimbing ibadah dan tenaga kesehatan, ia melakukan visitasi ke kamar-kamar jemaah, memantau kondisi fisik mereka, hingga membantu yang sakit.
Tak hanya itu, ia juga bertanggung jawab atas dokumen perjalanan, laporan harian kepada sektor, hingga mengatur jadwal ibadah dan pergerakan jemaah selama fase puncak haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna).
“Fokus utama kami bukan pada ibadah pribadi, tetapi pelayanan. Haji kami adalah khidmah,” ujarnya.
Tantangan terbesar datang dari kompleksitas jemaah itu sendiri. Dalam satu kloter berjumlah sekitar 360 orang, terdapat beragam latar belakang—usia, budaya, hingga tingkat pendidikan. Tidak sedikit pula yang membutuhkan perhatian khusus, termasuk sekitar 15 jemaah pengguna kursi roda.
Dalam situasi tertentu, tekanan kerja meningkat drastis. Ia pernah hanya tidur satu jam dalam sehari karena harus mencari jemaah yang terpisah di Makkah. Ada pula kondisi darurat seperti jemaah sakit, tersesat, bahkan meninggal dunia yang harus ditangani dengan cepat dan tepat.
Namun di balik itu semua, ada sisi yang tak ternilai. Kebersamaan dalam tim, solidaritas antarpetugas, hingga kedekatan dengan jemaah menjadi pengalaman spiritual yang mendalam.
“Rasa lelah itu ada, tapi kalah jauh dengan rasa syukur,” katanya.
Menariknya, pengalaman bertugas pada tahun 2022—pasca pandemi Covid-19—memberikan kondisi yang berbeda. Dengan jumlah jemaah yang masih dibatasi, pelayanan terasa lebih optimal. Fasilitas di Makkah, Arafah, Mina, hingga Madinah dinilai sangat baik. Tenda dilengkapi kasur, selimut, dan pendingin udara. Makanan berlimpah, mulai dari nasi hingga buah, susu, dan air zam-zam. Transportasi pun tertib, tanpa penumpang berdiri.
Meski demikian, ia menyadari bahwa kondisi tersebut mungkin tidak sepenuhnya sama di tahun-tahun berikutnya.
Pada akhirnya, menjadi petugas haji bukan sekadar perjalanan fisik ke Tanah Suci, tetapi perjalanan batin yang penuh makna. Ibadah tidak hanya dilakukan melalui ritual, tetapi melalui pelayanan.
“Bisa berhaji sambil melayani itu terasa sangat berbeda. Lebih dalam, lebih bermakna,” ungkapnya.
Dalam sunyi pengabdian itu, para petugas haji menjadi penjaga—bukan hanya perjalanan, tetapi juga kenyamanan dan kekhusyukan ibadah para tamu Allah. (*)
Editor : Anisa Bahril Wahdah