Kabar Terbaru Hukum & Peristiwa Kabar Kalteng Ekonomi & Bisnis Nasional Olahraga Hiburan Kesehatan Internasional Kuliner Wisata Pena Politik Pendidikan

Kedai Kopi di Palangka Raya Bersaing Cari Pasar Via Robusta dan Arabika, Kone Coffe Pilih Jalan Berbeda

rifqi • Sabtu, 4 April 2026 | 15:30 WIB
Barista Clau saat memegang biji kopi Liberica di Kone Coffe, di Jalan Seth Adji. RIFQI/KALTENG POS
Barista Clau saat memegang biji kopi Liberica di Kone Coffe, di Jalan Seth Adji. RIFQI/KALTENG POS

 

PALANGKA RAYA-Di tengah menjamurnya kedai kopi yang berlomba mengusung robusta dan arabika, Deby Ramadhana memilih jalan berbeda. Ia tak ikut arus.

Lewat Kone Coffee yang baru dibuka akhir Januari lalu di Jalan Seth Adji (Pandohop), Palangka Raya, ia justru mengangkat Liberica 100 persen. Jenis kopi yang selama ini jarang disentuh coffee shop di Kota Cantik.

Bagi Deby, ini bukan sekadar pilihan rasa, melainkan pernyataan sikap: menghadirkan karakter kopi Kalimantan langsung dari kebun ke cangkir.

Deby memilih menghadirkan sesuatu yang berbeda.

“Daripada ngeramein kopi shop dengan menu yang sama, kenapa nggak angkat sesuatu yang belum ada,” katanya. Liberica, menurutnya, bukan hanya soal rasa, tetapi identitas.

Menurut Deby, pasar kopi di Palangka Raya sebenarnya sudah sangat kompetitif.

Kedai tumbuh cepat, konsep beragam, namun jenis kopi yang diusung cenderung serupa. Ia melihat celah di situ.

Liberica, yang selama ini lebih dikenal sebagai kopi olahan kesehatan atau campuran, belum benar-benar diangkat sebagai identitas utama sebuah coffee shop.

“Persaingan itu pasti ada. Tapi kalau cuma ikut arus, kita akan tenggelam. Liberica ini punya karakter sendiri, kenapa nggak kita jadikan kekuatan,” ujarnya.

Kepercayaan dirinya bukan tanpa dasar.Deby memiliki akses langsung ke petani, sehingga proses pengadaan biji kopi bisa dikontrol dari awal mulai dari pemetikan hingga pengolahan. Skala produksinya memang belum sebesar arabika di Pulau Jawa, namun justru di situlah nilai eksklusifnya.

“Liberica ini kebanyakan masih mikrolot, kebunnya kecil-kecil. Itu yang bikin unik,” katanya.

Meski mengusung konsep yang cukup “serius” pada kualitas dan karakter rasa, Kone Coff ee tidak dibangun sebagai ruang yang eksklusif hanya untuk penikmat kopi berpengalaman. Deby justru ingin tempat ini terasa santai dan terbuka bagi siapa pun.

“Orang yang belum paham kopi punnggak masalah datang ke sini. Kita bisa ngobrol, tanya-tanya, belajar bareng,” ujarnya.

Konsep ruangnya dibuat nyaman dan santai, dengan sentuhan warna yang cerah dan nuansa pop art. Deby tak ingin Kone hanya dikenal karena jenis kopinya, tetapi juga sebagai ruang terkoneksi sesuai makna nama “Kone” yang ia ambil dari kata connection. 

Menghubungkan kopi dengan manusia, dan manusia dengan manusia lainnya.

Bagi Deby, secangkir kopi bukan sekadar minuman, melainkan medium percakapan.

Karena itu, ia membuka ruang diskusi bagi pelanggan yang ingin memahami perbedaan robusta, arabika, hingga Liberica. 

Dari proses panen, metode pengolahan, sampai teknik roasting, semua bisa dibahas santai di balik meja bar.

Deby bahkan meyakini, siapa pun yang datang tanpa pengetahuan tentang kopi, setidaknya akan pulang dengan pemahaman baru. 

Dari obrolan santai di meja bar hingga proses seduh manual yang diperlihatkan langsung, pengunjung diajak mengenali perbedaan dasar antara robusta, arabika, dan Liberica baik dari tingkat kafein, karakter rasa, hingga aftertaste- nya.
 

Tak hanya kopi, Kone Coffee juga menyediakan beragam camilan pendamping, sehingga suasana belajar dan berbincang terasa lebih santai dan akrab, bukan sekadar datang lalu pulang.

“Minimal orang tahu bedanya, nggak cuma minum tanpa ngerti apa yang diminum,” katanya.

Untuk memastikan kualitas dan konsistensi rasa, Deby juga menggandeng konsultan kopi, Ferdi, yang telah berkecimpung di dunia kopi lebih dari satu dekade.

Pengalaman Ferdi sebagai barista kompetisi hingga pernah menjadi juri di sejumlah ajang kopi menjadi salah satu fondasi dalam meracik karakter Kone Coffee.

Ferdi mengaku telah menekuni dunia kopi sejak 2015. Ia memulai karier sebagai barista di Tanah Merah Coff ee, Jakarta, dan sempat mengikuti sejumlah kompetisi internal maupun eksternal.

“Saya pernah juara tiga kompetisi internal Tanah Merah, kemudian ikut Brewer of Kemang, dan beberapa kali dipercaya jadi juri di event kopi,” ujarnya.

Tak hanya itu, ia juga pernah terlibat di sejumlah coffee shop dan event kolaborasi kopi, memperdalam teknik manual brewing hingga espresso. Pengalaman tersebut, menurut Ferdi, membentuk pemahamannya bahwa setiap biji kopi memiliki karakter unik yang harus diperlakukan berbeda termasuk Liberica yang kini menjadi identitas Kone Coffee.

Ferdi menjelaskan, Liberica memang memiliki karakter yang berbeda dibanding robusta maupun arabika. “Kalau robusta itu paling tinggi kafeinnya, rasanya kuat. Arabika cenderung lebih fruity. Nah, Liberica ini kafeinnya lebih rendah, tapi punya karakter smoky dan ada hint nangka di aftertaste-nya,” ujarnya.

Menurutnya, perbedaan itu bukan hanya soal rasa, tetapi juga struktur biji dan cara pengolahannya.

Liberica umumnya ditanam dalam skala mikrolot dengan produksi yang tidak sebesar arabika di Pulau Jawa. “Karena kebunnya kecil-kecil, karakternya lebih spesifi k. Dan kalau diproses dengan benar, dia bisa punya rasa yang unik banget,” katanya.

Kalteng Pos pun sempat mencicipi salah satu menu andalan mereka, Nona Kopi.

Di tegukan pertama, rasa manis-creamy dengan sentuhan caramel terasa ramah di lidah. Namun yang paling menonjol justru muncul di bagian akhir.

Aftertaste-nya menghadirkan jejak fruity yang lembut, disusul sentuhan smoky khas Liberica yang tidak terlalu tajam. Karakternya ringan dan tidak meninggalkan sensasi berat di lambung, membuatnya tetap nyaman dinikmati hingga gelas terakhir.

Menanggapi karakter rasa tersebut, Ferdi menilai Nona Kopi memang dirancang sebagai “jalur masuk” bagi penikmat kopi pemula. “Banyak orang sebenarnya takut duluan sama kopi karena bayangannya pahit dan bikin lambung nggak nyaman.

Padahal kalau bijinya tepat dan prosesnya benar, kopi bisa ringan dan tetap kompleks,” ujarnya.

Menurut Ferdi, konsistensi menjadi kunci agar Liberica bisa diterima pasar.

“Kita mau orang datang bukan cuma karena penasaran, tapi karena rasanya stabil. Sekali coba, mereka tahu ini karakter Kone,” ucapnya.

Ia berharap kehadiran Liberica sebagai identitas utama di Kone Coffee bisa membuka perspektif baru tentang kopi Kalimantan.

“Liberica ini sebenarnya punya potensi besar. Tinggal bagaimana kita memperkenalkannya dengan cara yang benar,” tutupnya.(*)

Editor : Ayu Oktaviana
#liberika #arabica #biji kopi #coffeeshop #kopi