PALANGKA RAYA- Dua pelajar muda asal Palangka Raya, Kenzi Astagina Khairunissa Mahestri dan Faddel Alief Al Rizki, berhasil mengharumkan nama daerah dalam ajang ASEAN Innovative Science, Environmental and Entrepreneur Fair 2026 yang diadakan oleh Universitas Diponegoro. Pelajar dari SMP Al Ghazali ini pulang membawa medali emas.
Di tengah maraknya isu pencemaran lingkungan, dua pelajar asal Palangka Raya justru melihat peluang dari limbah yang kerap dianggap tak bernilai.
Kenzie Astagina Khairunissa Maestri siswi kelas VII bersama rekannya Faddel Alief Al Rizki pelajar kelas VIII berhasil membuktikan bahwa kreativitas dan kepedulian lingkungan dapat melahirkan prestasi gemilang di tingkat internasional.
Keduanya sukses meraih gold medal dalam ajang ASEAN Innovative Science, Environmental and Entrepreneur Fair 2026, sebuah kompetisi bergengsi yang diikuti hampir oleh seribu peserta dari berbagai negara di kawasan Asia Tenggara.
“Ini pertama kalinya saya ikut lomba internasional. Awalnya deg-degan banget tapi juga merasa senang karena bisa sampai di tahap final dan akhirnya berhasil dapat gold medal yang tidak pernah disangka-sangka,” ujar Kenzie kepada Kalteng Pos, Kamis (2/4/2026).
Sebagai pelajar berprestasi, perolehan kepercayaan diri seorang anak perempuan seperti Kenzie tidak serta merta langsung terbentuk.
Sebelumnya dirinya sudah pernah mengikuti banyak kategori perlombaan saat dirinya masih kecil beberapa diantaranya seperti perlombaan Dai, Speak and Spark Natioal English Storytelleing competition, pada bidang olahraga juga ia pernah menjadi juara 3 Karate Putri tingkat Kota.
Begitu pula dengan Faddel, keinginannya untuk ikut dalam sebuah perlombaan khususnya ajang yang dijuarainya saat ini tidak lepas dari lingkungan keluarga yaitu kakaknya yang juga merupakan alumni dari peserta perlombaan pada ajang ASEAN Innovative Science, Environmental and Entrepreneur Fair di tahun sebelumnya.
Seolah darah semangat juang dari sang kakak turut mengalir ke dalam diri sang adik yang tertarik terjun dalam dunia karya tulis ilmiah.
Rasa ingin tahunya yang besar dan semangatnya yang membara membawanya hingga pada kemenangan gold medal bersama teman sejawatnya Kenzie.
Faddel menceritakan awal mula ide inovasi yang mereka angkat terbilang sederhana, namun bermanfaat.
Mereka menciptakan lilin aromaterapi dari minyak jelantah dan daun jeruk purut kering sebuah produk ramah lingkungan yang tidak hanya mengurangi limbah tetapi juga memiliki fungsi sebagai pengusir nyamuk alami. Ia mengaku, ide tersebut muncul secara tak terduga.
“Awalnya saya itu tidak sengaja melihat pembuatan lilin aromaterapi di media sosial TikTok. Nah ada orang bikin lilin dari barang bekas. Dari situ saya kepikiran, bagaimana kalau bikin juga tapi pakai bahan yang berbeda,” ungkap Faddel.
Ide tersebut kemudian dikembangkan melalui diskusi dengan guru pembimbing untuk merumuskan masalah dan tujuan penelitian. Dari sanalah lahir konsep inovasi yang akhirnya membawa mereka ke panggung internasional.
Perjalanan menuju kemenangan tidaklah instan. Keduanya menghabiskan waktu sekitar dua bulan untuk mempersiapkan karya, mulai dari praktikum hingga penyusunan karya tulis ilmiah. Selama proses tersebut, berbagai kendala mereka hadapi.
Salah satu tantangan utama adalah kualitas bahan baku.
“Minyak jelantah itu kan tidak terkontrol, sudah dipakai berapa kali. Jadi kami harus memastikan apakah masih bisa digunakan atau tidak,” ujar Faddel.
Selain itu, mereka juga harus memastikan bahwa lilin yang dibuat benar-benar menghasilkan efek aromaterapi dan mampu mengusir nyamuk. Uji coba dilakukan berulang kali di laboratorium sekolah hingga akhirnya mendapatkan formula yang tepat.
Setelah melalui tahap pengumpulan karya, Kenzi dan Fadil harus menghadapi sesi presentasi yang menjadi penentu akhir.
Presentasi yang dilakukan secara daring melalui Zoom di hadapan tiga juri internasional.
Menariknya, seluruh proses mulai dari hasil karya tulis ilmiah, presentasi hingga tanya jawab dilakukan dalam bahasa Inggris.
Faddel mengungkapkan bahwa saat dirinya tengah menunggu giliran untuk melakukan presentasi, sekujur tubuhnya dikelilingi oleh rasa takut dan gugup.
Ia tidak memungkiri kekhawatiran terhadap perlombaan yang diikutinya berhasil membuatnya cukup kepayahan mengatasi cemas yang di ambang batas.
Namun, segera ia mencoba untuk kembali sadar dan mengontrol diri menjelang presentasi dengan cara berpikirnya.
“Awalnya gugup, tapi saya pikir gugup itu tidak ada gunanya. Jadi saya mencoba percaya diri,” kata Fadil.
Latihan rutin berbahasa Inggris di sekolah menjadi salah satu kunci keberhasilan mereka dalam menghadapi sesi ini. Kerja keras mereka terbayar lunas saat nama keduanya diumumkan sebagai peraih medali emas.
“Saya merasa sangat senang dan bangga sama diri sendiri pun untuk kelurga dan sekolah,” tutur Kenzi.
Bagi Fadil, kemenangan ini bukan hanya soal prestasi pribadi, tetapi juga kebanggaan untuk daerah. “Saya pribadi jujur merasa bangga terhadap diri sendiri sekaligus senang bisa membanggakan sekolah dan membawa nama daerahnya, Kalimantan Tengah ke ajang kompetisi ASEAN,” ujarnya.(afa/ala)
Editor : Ayu Oktaviana