Endang, Jemaah Haji Tertua di Kotim: 7 Tahun Menabung dari Upah Mengajar Mengaji dan Jahitan
Miftahul Ilma• Kamis, 30 April 2026 | 15:30 WIB
Endang, jamaah calon haji tertua di Kabupaten Kotawaringin Timur. Miftah/kaltengpos.jawapos.com
SAMPIT – Di usia 77 tahun, Endang, jamaah calon haji tertua di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) akhirnya menginjak satu fase yang ia tunggu selama bertahun-tahun.
Nenek Endang akhirnya menapaki jalan panjang menuju ibadah haji tahun ini. Bukan dari hasil usaha besar atau pekerjaan mapan, melainkan dari uang hasil mengajar mengaji dan menjahit.
Meski penghasilannya tak menentu, ia memiliki tekat bulat untuk mendaftar haji.
Perjalanan itu dimulai sejak 2019. Saat itu, Endang memberanikan diri mendaftar dengan setoran awal Rp25,5 juta.
Bagi sebagian orang, angka itu mungkin biasa. Namun bagi dirinya, itu adalah kumpulan tabungan dari kerja sederhana yang ia jalani setiap hari.
“Saya menunggu selama tujuh tahun. Saya mendaftar dari 2019, dan akhirnya berangkat tahun 2026,” ujarnya saat diwawancara usai dilepas secara resmi oleh Bupati Kotim, Halikinnor, Kamis (30/4/2026).
Tidak ada penghasilan tetap besar. Nenek yang sudah menjanda itu hanya mengandalkan upah mengajar mengaji dan menjahit.
Sekitar Rp1 juta setiap bulan untuk menutup biaya haji yang harus dipenuhi.
Ia tidak hanya menabung dari uang. Apa pun yang bernilai ia simpan. Bahkan pemberian orang pun menjadi bagian dari perjuangannya.
“Saya menabung. Dari hasil mengajar, dari menjahit. Ada orang kasih beras juga saya simpan,” katanya.
Perjalanan ekonomi nenek Endang mencerminkan realitas banyak jemaah haji di daerah. Ibadah yang sering dianggap mahal, ternyata bisa dicapai melalui tekad dan kesabaran.
Tidak ada angka yang besar dalam penghasilannya, hanya konsistensi yang dijaga bertahun-tahun. Kini, setelah tujuh tahun, tabungan kecil itu menjelma menjadi tiket menuju Tanah Suci.
Nenek Endang berangkat sendiri. Ini menjadi pengalaman pertamanya, bahkan ia mengaku belum pernah sekalipun menginjakkan kali di tanah suci.
“Saya berangkat sendiri. Ini pertama kali saya haji, umrah pun belum pernah,” ucapnya.
Soal persiapan, tidak ada hal yang rumit. Ia hanya menjaga kondisi tubuh dengan cara sederhana. Bersepeda setiap pekan. Meski badannya sudah tua, namun keinginannya masih kuat.
Bagi nenek Endang, kekuatan utama bukan pada latihan fisik, tetapi pada niat yang ia jaga sejak awal.
“Tidak ada persiapan khusus. Saya cuma olahraga, bersepeda setiap minggu supaya kuat,” katanya.
Di balik keberangkatannya, ada cerita tentang ketekunan ekonomi skala kecil. Tentang bagaimana penghasilan sederhana bisa membawa seseorang melintasi jarak ribuan kilometer, menuju sebuah perjalanan spiritual terbesar dalam hidupnya.
Nenek Endang membuktikan, haji bukan hanya soal kemampuan finansial besar, tetapi tentang kesabaran mengumpulkan sedikit demi sedikit, hingga akhirnya cukup untuk berangkat. (*)