Di usianya yang baru menginjak 12 tahun, Cheryl Christabel sudah akrab dengan panggung, ruang latihan tari, tuts piano, hingga berbagai perlombaan akademik dan seni. Murid yang dikenal selalu meraih peringkat satu di sekolah itu tumbuh menjadi anak multitalenta yang menekuni dunia seni sejak kecil.
DHEA UMILATI, Palangka Raya
PAGI itu, Cheryl tampak antusias bercerita tentang kesehariannya. Mulai dari latihan tari di Sanggar Betang Batarung, membuat hasta karya, bermain piano di gereja, hingga belajar akademik yang tetap menjadi prioritasnya setiap hari.
“Paling suka nari,” ucap Cheryl singkat sambil tersenyum ketika ditanya bidang seni yang paling ia cintai, Jumat (8/5).
Ketertarikan Cheryl terhadap seni tumbuh sejak usia dini. Awalnya, ia hanya mencoba-coba setelah ditawari orang tuanya untuk masuk sanggar. Namun siapa sangka, rasa penasaran itu justru berubah menjadi kecintaan yang terus berkembang hingga sekarang.
“Dulu pas kecil ditawarin sama ortu, ‘Kamu mau nggak masuk sanggar?’ Terus aku bilang mau buat nyoba-nyoba. Kelamaan jadinya makin suka,” katanya.
Di Sanggar Betang Batarung, Cheryl rutin berlatih tari tradisional. Bahkan setiap semester para murid akan mengikuti ujian kemampuan menari yang hasilnya diberikan dalam bentuk sertifikat kategori Gold, Silver, dan Bronze.
Tidak hanya menari, Cheryl juga aktif membuat berbagai karya seni dan hasta karya. Ia mengaku kemampuan tersebut turut dipengaruhi lingkungan keluarga yang dekat dengan kerajinan tradisional Dayak.
“Kebetulan Bue-ku bisa ngajarin aku yang kayak gitu, jadi kemarin sambil dibantu dikit-dikit,” ujarnya.
Sementara itu, Tambinya juga dikenal sebagai penjawet atau penganyam rotan tradisional. Dari situlah Cheryl mulai tertarik mempelajari seni menganyam yang suatu hari ingin ia tekuni lebih dalam. “Kayaknya seni Manjawet itu sih yang pengen dipelajari lagi,” katanya.
Selain seni rupa dan tari, Cheryl juga memiliki kemampuan bermain piano. Bahkan, sejak kelas 5 SD ia dipercaya menjadi pianis termuda di Gereja GKE Yerusalem.
Awalnya Cheryl hanya tampil memainkan piano sambil bernyanyi di gereja. Namun kemampuannya menarik perhatian pengurus gereja hingga akhirnya direkrut menjadi pianis tetap. “Yang lain itu sekitar SMA. Aku paling kecil,” tuturnya.
Meski aktif di banyak bidang seni, Cheryl tetap mampu menjaga prestasi akademiknya. Ia bahkan mengaku selalu meraih peringkat pertama sejak kelas 1 SD hingga semester pertama kelas 6.
Baginya, kunci membagi waktu adalah disiplin terhadap jadwal latihan dan belajar. “Kalau seni biasanya ada jadwal tertentu untuk latihan. Kalau akademik itu tiap hari belajar,” ungkapnya.
Prestasi Cheryl juga tidak hanya berhenti di sekolah. Ia pernah mengikuti berbagai kompetisi akademik dan seni seperti OSN, sosialisasi Ki Hajar Dewantara, hingga lomba Borneo Ecostraw.
Terbaru, Cheryl terpilih mewakili sanggarnya mengikuti International Women’s Dance Festival (IWDF) di Jakarta. Dari sanggarnya, hanya enam orang yang dipilih untuk tampil. “Dua cowok, empat perempuan termasuk aku,” ucapnya bangga.
Menurutnya seni bukan sekadar hobi. Ia menemukan tantangan sekaligus proses belajar dalam setiap gerakan dan karya yang dibuatnya. “Menurutku yang paling menarik itu dalam kita melakukan hal yang kita tidak bisa, jadi kita bisa belajar terus sampai kita bisa,” tuturnya. (*/bersambung)
Editor : Agus Pramono