Kabar Terbaru Hukum & Peristiwa Kabar Kalteng Ekonomi & Bisnis Nasional Olahraga Hiburan Kesehatan Internasional Kuliner Wisata Pena Politik Pendidikan

Putri Aqila Salim, Anak Pemalu yang Menaklukkan Panggung Stand Up Comedy

Dea Umilati • Sabtu, 23 Mei 2026 | 11:30 WIB
Putri Aqila Salim dan ibunya mendapat juara 3.Dhea Umilati/Kalteng Pos
Putri Aqila Salim dan ibunya mendapat juara 3.Dhea Umilati/Kalteng Pos

Riuh tawa penonton pecah ketika seorang anak perempuan kecil mulai melontarkan materi lawakannya di atas panggung. Dengan logat Dayak yang khas, ia berbicara luwes tentang kehidupan sehari-hari, tren anak muda, hingga cerita-cerita sederhana yang dekat dengan kesehariannya. Tidak sedikit penonton yang terkejut melihat keberaniannya berdiri di depan banyak orang.

DHEA UMILATI, Palangka Raya 

ANAK itu bernama Putri Aqila Salim dengan nama panggung Cila. Usianya masih belia, namun keberaniannya tampil di panggung stand up comedy yang diselenggarakan pada Festival Budaya Isen Mulang (FBIM) mencuri perhatian. Di balik tingkah lucu dan gaya polosnya, tersimpan perjalanan panjang seorang anak pemalu yang perlahan belajar percaya diri.

“Dia ini emangnya anaknya pemalu banget,” ujar Agus Salim, ayah Cila saat dibincangi di sela sela pertunjukan, Rabu (20/5/2026).

Agus mengaku tidak pernah menyangka putrinya kini bisa berdiri di atas panggung besar dan menghibur banyak orang. Sebab sebelumnya, Cila dikenal sangat pemalu bahkan untuk tampil di depan umum.

“Sebagai orang tua pasti senang. Anak sekecil dia, seusia dia, bisa berani tampil di depan orang banyak itu sudah luar biasa,” katanya.

Perjalanan Cila menuju dunia stand up comedy bermula dari kebiasaan sederhana di rumah. Agus dan keluarganya kerap membuat konten bersama. Dari situ, Agus mulai melihat potensi pada diri putrinya. “Awalnya dia biasa bikin konten sama kami. Kami lihat, ‘Ini anak bisa akting sedikit,’” ujarnya.

Kesempatan pertama datang saat ada lomba stand up comedy di sebuah dealer motor. Agus menawarkan Cila untuk ikut mencoba. Ia membantu menyusun materi, mengarahkan gaya penyampaian, hingga mendampingi putrinya saat latihan.

“Mau ikut enggak? Nanti ayah bantu buat materinya dan iyakan oleh anaknya saat itu,” kata Agus menirukan percakapannya dengan sang anak.

Tidak disangka, penampilan pertama itu mendapat respons positif. Beberapa anggota komunitas stand up comedy kemudian mengajak Cila ikut bergabung dan rutin hadir di acara open mic mengingat sang ayah juga merupakan anggota komunitas stand up di Kota Palangka Raya. 

Cila mengaku, panggung yang dulu terasa menakutkan mulai menjadi tempat yang akrab baginya.

"Setelah beberapa kali ikut lomba dan ikut ayah di komunitas akhirnya aku terbiasa," kata Cila.

Materi yang dibawakan Cila pada lomba Auh Pahureh kali ini pun lahir dari pemikirannya sendiri. Tentang kehidupan sehari-hari, teman-teman ayahnya, hingga fenomena yang sedang ramai di media sosial. Sebagian dibantu sang ayah, namun garis besar ceritanya tetap berasal dari sudut pandang seorang anak kecil. "Aku coba bikin sendiri dulu gambarannya seperti apa, terus di bantu sama ayah juga sedikit-sedikit," tuturnya.

Panggung yang dulu terasa menakutkan justru menjadi tempat yang membuat Cila bahagia. Ia mengaku senang setiap kali mendengar penonton tertawa karena materi yang ia bawakan. “Aku senanv kalau orang-orang ketawa gara-gara aku pas stand up,” ungkap Cila polos.

Meski terlihat percaya diri sekarang, Cila mengaku sempat merasa gugup ketika pertama kali tampil. “Awalnya agak berat. Tapi sekarang nggak lagi,” ujarnya singkat.

Layaknya anak-anak pada umumnya, bocah berusia 12 tahun itu tetap memiliki mood yang berubah-ubah. Agus bahkan mengaku tak pernah memaksa putrinya untuk tampil jika memang sedang tidak ingin.

“Tergantung mood-nya juga. Kalau dia bilang enggak mau, ya enggak bisa dipaksa,” katanya sambil tertawa.

Bagi Agus, stand up comedy bukan semata tentang menjadi lucu di atas panggung. Ada nilai penting yang ingin ia tanamkan kepada anaknya sejak dini, yakni keberanian berbicara dan kepercayaan diri.

“Ini bukan cuma buat lucu-lucuan. Tapi juga melatih public speaking-nya. Ke depannya pasti ada manfaatnya,” ujarnya.

Sementara bagi sang ibu, kemenangan bukan tujuan utama. Ia lebih bangga melihat anaknya berani mencoba dan belajar dari setiap pengalaman.

“Kalah itu bukan sesuatu yang memalukan. Kalah itu sebuah proses. Yang penting berani tampil dulu,” ungkapnya.

Meski mulai aktif mengikuti berbagai event, keluarga tetap memberi batasan. Dunia stand up comedy yang mayoritas diisi orang dewasa membuat orang tua Cila harus lebih selektif memilih lingkungan dan aktivitas sang anak.

“Stand up ini masih kurang wadah untuk anak-anak. Kebanyakan orang dewasa semua,” kata ibunya.

Di luar dunia komedi, anak kelahiran 2013 itu juga aktif menari dan mulai mencoba dunia modeling. Keluarganya sengaja memberi ruang agar ia bebas mengeksplorasi berbagai bakat yang dimiliki. “Dia masih muda, jadi kasih pilihan buat dia cari bakat,” pungkasnya.

Keberanian Cila bahkan membuat panitia penyelenggara merasa terkejut sekaligus kagum. Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Kalimantan Tengah, Adiah Chandra Sari, mengaku tidak menyangka seorang anak seusia Cila mampu tampil percaya diri di atas panggung komedi.

“Inu luar biasa. Kami juga surprise sekali waktu Cila mendaftarkan diri. Umurnya masih 12 tahun,” ujar Adiah.

Menurutnya, kemampuan Cila dalam menyampaikan materi tidak kalah dari peserta lain yang lebih dewasa. Cara Cila membangun cerita, memahami tema, hingga menyampaikan narasi dinilai cukup matang untuk anak seusianya.

Di balik usianya yang masih sangat muda, Cila dinilai memiliki kemampuan yang tidak mudah dimiliki banyak orang, yakni membuat orang lain tertawa lewat cerita yang disampaikan di atas panggung.

“Kalau hanya berbicara atau berpidato mungkin biasa-biasa saja. Tapi bagaimana membuat orang lain tertawa dengan apa yang kita bicarakan, itu sesuatu yang sulit. Dan dia mampu untuk itu,” ungkapnya.

Menurutnya, lomba seperti Auh Pahureh bukan sekadar ajang hiburan, tetapi juga menjadi ruang belajar bagi anak-anak muda untuk melatih keberanian dan rasa percaya diri tampil di depan publik.

“Di situ diberikan kesempatan bagaimana anak-anak seusia dia belajar keberanian untuk tampil. Mudah-mudahan ini menjadi bibit-bibit komika yang luar biasa di Kalimantan Tengah," pungkasnya.(*)

Editor : Ayu Oktaviana
#Putri Aqila Salim #komika #Festival Budaya Isen Mulang (FBIM) #stand up comedy