Kabar Terbaru Hukum & Peristiwa Kabar Kalteng Ekonomi & Bisnis Nasional Olahraga Hiburan Kesehatan Internasional Kuliner Wisata Pena Politik Pendidikan

Saini Sang Penempa Mandau Khawatir Tidak Ada Lagi Generasi Muda Punya Keterampilan Serupa

rifqi • Kamis, 11 Juni 2026 | 19:30 WIB
Pak Saini memperlihatkan Mandau yang sudah selesai dibuat.(Rifqi/Kalteng Pos)
Pak Saini memperlihatkan Mandau yang sudah selesai dibuat.(Rifqi/Kalteng Pos)

KALTENGPOS.JAWAPOS.COM-Harga Mandau buatan Saini beragam. Untuk sebuah mandau, pembeli harus merogoh ­kocek mulai dari Rp500 ribu hingga ­jutaan rupiah, tergantung ukuran, bahan, dan ­tingkat kerumitan ukiran yang dikerjakan.

Bagi Saini, nilai sebuah mandau tidak semata diukur dari harga jualnya. Di balik setiap tempaan besi dan ukiran yang dibuat, tersimpan kekhawatiran yang terus menghantuinya.

Baca Juga: Saini Sang Penempa Mandau dari Pelosok Kalteng: Semakin Rumit Ukirannya, Makin Tinggi Nilai Seni yang Melekat

Saini melihat jumlah pengrajin tradisional semakin berkurang dari tahun ke tahun. Sementara minat generasi muda untuk mempelajari keterampilan tersebut juga semakin menipis.

“Sekarang sudah jarang anak muda yang mau belajar. Padahal ini budaya kita sendiri,” ujarnya. Kekhawatiran itu bukan tanpa alasan. Jika tak ada penerus, keterampilan membuat mandau yang diwariskan turun-temurun bisa saja hilang ditelan perkembangan zaman.

Karena itu, ia berharap pemerintah dapat memberi perhatian lebih kepada para pengrajin tradisional melalui promosi budaya, pelibatan dalam pameran, maupun bantuan pengembangan usaha.

“Harapan saya budaya ini jangan sampai hilang. Mudah-mudahan ada anak muda yang mau belajar, dan pemerintah juga bisa membantu memperkenalkan karya-karya budaya daerah,” ungkapnya.

Menurutnya, dukungan masyarakat juga memiliki peran besar dalam menjaga keberlangsungan budaya. Membeli dan memperkenalkan karya pengrajin lokal menjadi salah satu cara sederhana agar warisan leluhur tetap hidup.

Sore mulai turun di Bapinang Hulu. Bara di tungku perlahan meredup, tetapi semangat Saini menjaga budaya Dayak masih menyala.

Dari bengkel sederhana di pelosok Kotawaringin Timur itu, setiap dentang palu yang menghantam besi seolah menjadi pengingat bahwa tradisi tidak akan bertahan dengan sendirinya.

Ia harus dirawat, diajarkan, dan diwariskan. Dan selama masih ada tangan-tangan seperti M. Saini yang setia menempa mandau, marwah budaya Dayak akan terus hidup di tengah pusaran zaman. 

Bagi masyarakat yang ingin memesan mandau maupun berbagai hasil tempaan tradisional lainnya, Saini dapat dihubungi melalui nomor 0857-5415-7941.

Setiap karya yang dibeli bukan hanya menjadi koleksi atau alat kebutuhan sehari-hari, tetapi juga bentuk dukungan nyata terhadap pelestarian warisan budaya Dayak Kalimantan Tengah agar tetap hidup dari generasi ke generasi.(*)

Editor : Ayu Oktaviana
#pengrajin tradisional #mandau #budaya daerah #warisan budaya #Dayak