Kabar Terbaru Hukum & Peristiwa Kabar Kalteng Ekonomi & Bisnis Nasional Olahraga Hiburan Kesehatan Internasional Kuliner Wisata Pena Politik Pendidikan

Kisah Mufti Rakhman, Pengrajin di Sampit yang Sulap Limbah Kayu Jadi Karya Seni Dayak Bernilai Tinggi

Miftahul Ilma • Kamis, 16 Juli 2026 | 10:40 WIB
Mufti Rakhman, pengrajin kayu di Kecamatan Seranau, Kotim.(Miftah/kaltengpos.jawapos.com)
Mufti Rakhman, pengrajin kayu di Kecamatan Seranau, Kotim.(Miftah/kaltengpos.jawapos.com)

SAMPIT- Jari-jari tangan Mufti Rakhman tampak telaten menggoreskan alat kecil ke sebuah kayu ulin berbentuk kepala naga. Suara pahat yang berpadu dengan aroma kayu menjadi pemandangan sehari-hari di bengkel kerja miliknya.

Potongan-potongan kayu sisa itu kerap kali dianggap tak lagi bernilai. Namun di tangan Mufti, lahir karya seni khas Kalimantan Tengah (Kalteng) yang justru diminati hingga mancanegara. 

Pengrajin asal Sampit itu berhasil menyulap limbah kayu menjadi tameng Dayak, perahu naga, hingga beragam ukiran berciri khas Bumi Tambun Bungai.

Terletak di Kecamatan Seranau, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), bengkel yang diberi nama Baniang 42 Jaya itu telah menghasilkan berbagai kerajinan ukir Dayak yang dikerjakan secara manual.

Perlu waktu sekitar lima menit untuk menyeberangi Sungai Mentaya dari dermaga penyeberangan Jelawat ke tempat produksinya. Selama lebih dari tiga dekade, beragam produk khas Dayak dihasilkan dari sebuah bangunan sederhana berbahan kayu itu.

Produknya tak main-main. Mulai dari telawang atau tameng Dayak, perahu naga, hingga ornamen ukiran bermotif tradisional yang sarat makna budaya. Tak hanya itu, pria berusia 46 tahun itu juga kerap menerima pesanan sesuai keinginan pelanggan.

“Yang kami produksi umumnya memang ciri khas ukiran Dayak Kalimantan Tengah. Ada telawang ukir, perahu naga ukir, dan berbagai macam kerajinan lainnya,” ujarnya saat dibincangi, Kamis (16/7/2026).

Usaha tersebut sudah ia tekuni sejak lama. Pria yang merupakan putra asli daerah itu belajar langsung dan melanjutkan usaha yang lebih dulu dirintis orang tuanya yang sudah menekuni hal itu sejak 4 April 1989.

Namun perjalanan usaha keluarga itu sempat berada di ujung tanduk setelah konflik sosial yang pernah melanda Sampit. Dari kondisi itu, Mufti berinisiatif untuk melanjutkan pekerjaan sang ayah.

“Setelah kerusuhan dulu usaha ini hampir gulung tikar. Saya kemudian berinisiatif melanjutkan dan mempertahankan warisan ukiran yang sudah didirikan orang tua. Alhamdulillah sampai sekarang masih berjalan,” katanya.

Dalam satu bulan, ia bisa menghasilkan sejumlah kerajinan. Total ada sembilan orang pekerja yang ikut ambil bagian. Pekerjaannya pun beragam. Ada yang membuat gantungan kunci, piala berbagai bentuk, tameng, bahkan jam berukuran besar.

“Kalau untuk perahu naga ini pengerjaannya bisa lima hari lima malam. Ada yang mengerjakan badan perahu dan lain-lain,” katanya.

Untuk bahan baku, biasanya ia hanya memanfaatkan kayu sisa. Baik kayu ulin ataupun kayu jenis lain. Khusus pengerjaan sulit seperti ukiran kepala dan ekor naga, akan dikerjakannya sendiri. 

Ia mengaku salah satu kesulitan dalam karyanya adalah konsep dasar yang dituangkan dalam kertas (mal).

Alat yang dipakai pun tak begitu canggih. Ia hanya menggunakan alat-alat sederhana seperti gergaji, pisau, pahat, dan alat-alat lain. Semua itu ia kerjakan handmade.

Mufti mengaku biasanya, banyak pelanggan yang memesan berasal dari luar daerah. Sembari bekerja, ia biasanya melakukan live di media sosial TikTok sebagai bentuk promosi. Dari idenya itu, ia bisa merogoh omzet hingga puluhan juta rupiah dalam satu bulan. Tergantung dari banyaknya pesanan.

Baginya, mempertahankan usaha bukan semata soal mencari penghasilan. Ada tanggung jawab menjaga identitas budaya daerah agar tidak hilang ditelan perkembangan zaman.

Ia menilai seni ukir Dayak, khususnya khas Kalimantan Tengah, kini mulai kehilangan regenerasi. Sementara di sisi lain, budaya asing semakin mudah memengaruhi generasi muda.

“Kami sangat mencintai budaya Kalimantan Tengah. Kalau bukan kita yang menjaga dan memperkenalkannya, siapa lagi? Apalagi penerus seni ukir khas Kalimantan Tengah sekarang hampir tidak ada,” ucapnya.

Tentang kualitas, hasil pekerjaannya tak perlu dipertanyakan lagi. Karya-karyanya acap kali menarik perhatian pembeli dari luar negeri. Menurut Mufti, beberapa pesanan pernah datang dari Tiongkok, Singapura hingga Korea Selatan.

“Terakhir ada pesanan dari Tiongkok. Ada juga dari Singapura dan Korea Selatan. Mereka memang mencari karakter ukiran Kalimantan Tengah yang sulit didapat di tempat lain,” ungkapnya.

Dari sekian banyak produk, telawang atau tameng Dayak menjadi kerajinan yang paling banyak diminati konsumen. “Yang paling banyak peminatnya tetap telawang atau tameng Dayak,” katanya.

Harga setiap produk pun tidak dipatok sama. Nilainya bergantung pada tingkat kerumitan motif, ukuran, hingga jenis kayu yang digunakan. Mulai dari Rp15 ribu untuk gantungan kunci, hingga puluhan juta rupiah.

“Harga menyesuaikan bentuk ornamen, motif, dan bahan bakunya. Semakin rumit ukirannya tentu nilainya juga semakin tinggi. Kalau menggunakan kayu ulin tentu berbeda dengan kayu sungkai. Misalnya perahu naga ini harganya Rp7 juta dan terbuat dari ulin 100 persen,” jelasnya. (*)

Editor : Ayu Oktaviana
mufti rakhman limbah kayu karya seni dayak pengrajin kayu pengrajin kayu sampit