SAMPIT- Permintaan kerajinan ukir khas Kalimantan Tengah yang digarap Mufti Rakhman (46), pengrajin kayu asal Sampit sebenarnya terus berdatangan.
Tak hanya dalam negeri tetapi juga dari luar negeri. Namun peluang besar itu belum mampu dimanfaatkan secara maksimal.
Keterbatasan modal dan tenaga kerja membuat pria asal Sampit itu belum sanggup memenuhi pesanan dalam jumlah besar.
Bagi Mufti, pesanan dari mancanegara bukan lagi hal baru di tempat usaha bernama Baniang 42 Jaya miliknya. Beberapa negara bahkan berkali-kali menawarkan kerja sama untuk pembelian dalam jumlah besar.
Sayangnya, kesempatan itu terpaksa dilepas karena kapasitas produksi masih sangat terbatas.
“Sudah beberapa kali ada yang dari Korea Selatan, juga dari Sarawak, Malaysia. Mereka ingin produk seperti perahu naga ini diproduksi massal, bukan hanya satu atau dua buah,” ujarnya saat dibincangi, Kamis (16/7/2026).
Menurut Bang Mufti, keunikan desain menjadi daya tarik utama. Karakter ukiran khas Kalimantan Tengah dinilai berbeda dengan daerah lain sehingga memiliki pasar tersendiri di luar negeri. Potensi itu menurutnya bisa mengangkat Bumi Tambun Bungai ke kancah internasional.
Meski demikian, memenuhi permintaan ratusan unit dalam waktu singkat bukan perkara mudah. Keterbatasan modal usaha dan minimnya sumber daya manusia (SDM) menjadi kendala utama.
“Kalau diminta memproduksi misalnya 200 unit dalam satu bulan, kami hampir tidak bisa. Kendalanya modal dan SDM yang memang masih sangat kurang,” katanya.
Padahal, sebagian besar bahan baku yang digunakan justru berasal dari limbah kayu yang sudah tidak dimanfaatkan lagi.
Potongan-potongan kecil yang biasanya terbuang mampu disulap menjadi produk bernilai ekonomi tinggi.
“Sebagian besar bahannya limbah kayu. Potongan-potongan yang sudah tidak terpakai itu bisa menjadi karya seperti ini,” tuturnya.
Ia meyakini, apabila pemerintah ikut membina masyarakat dan melatih generasi muda di daerah yang memiliki banyak bahan baku, kapasitas produksi dapat meningkat tanpa menghilangkan ciri khas ukiran Dayak.
Bang Mufti mengaku selama ini sudah beberapa kali menyampaikan harapan kepada pemerintah. Namun hingga kini belum ada dukungan yang benar-benar mampu mendorong pengembangan usaha mereka.
“Kalau pemerhati seni memang masih jarang. Tapi kalau pemati seni banyak. Tanpa dukungan pemerintah, mustahil kami bisa berkembang lebih besar untuk ekspor,” katanya.
Ia membandingkan kondisi tersebut dengan daerah lain seperti Bali dan Jepara yang mampu menembus pasar internasional secara konsisten. Padahal menurutnya, Kalteng mempunyai bahan baku yang melimpah. Sementara di luar Kalimantan, bahan baku sudah mulai sedikit.
“Bali bisa ekspor, Jepara juga bisa. Padahal bahan baku mereka tidak sebanyak Kalimantan Tengah. Sementara kita punya bahan baku melimpah tetapi belum mampu ekspor dalam skala besar. Itu yang sangat kami sayangkan,” ujarnya.
Karena itu, ia berharap pemerintah kabupaten, provinsi hingga pusat dapat lebih aktif mendampingi pelaku usaha kerajinan.
Baik melalui bantuan permodalan, pelatihan maupun pengembangan sumber daya manusia.
“Kami ingin ada keterlibatan pemerintah, ada rangkulan kepada kami. Kami ingin karya Kalimantan Tengah ini tidak hanya dikenal di seluruh Indonesia, tetapi juga sampai ke seluruh dunia,” harapnya.
Di akhir perbincangan, Bang Mufti juga menitipkan pesan kepada generasi muda agar tidak membiarkan seni ukir Dayak kehilangan penerus.
“Banggalah dengan budaya kita. Kalau bukan kalian yang mencintai dan melestarikannya, siapa lagi? Jangan sampai generasi berikutnya tidak lagi mengenal karya budaya leluhurnya,” pungkasnya. (*)
Editor : Ayu Oktaviana