Di balik kepemimpinannya sebagai Ketua DPW DEPRINDO Kalteng periode 2026-2029, tersimpan kisah inspiratif tentang sosok perempuan yang tumbuh bersama mimpi, ditempa kegagalan, dan percaya bahwa kesuksesan dibangun dari proses panjang, bukan jalan pintas.
PALANGKA RAYA-Kepercayaan menjadi Ketua DPW DEPRINDO Kalteng periode 2026-2029 bukanlah hadiah. Ini adalah buah dari usaha dan perjalanan panjang Yemima Eka Ampung.
Amanah itu menjadi pengakuan atas usaha dan kerja keras seorang perempuan muda yang membangun usahanya, hingga mampu membuktikan diri sebagai pengusaha properti sekaligus pemimpin organisasi.
Prestasi tidak pernah lahir dalam semalam. Bagi Yemima Eka Ampung, kepercayaan memimpin DPW DEPRINDO Kalteng merupakan puncak dari perjalanan panjang yang dimulai jauh sebelum ia dikenal sebagai pengusaha properti.
Baca Juga: Momen Haru Perpisahan Leonard S Ampung, ASN Bapperida Kalteng Tak Kuasa Menahan Tangis
Dari seorang anak yang gemar berdagang, menjadi perempuan yang merintis usaha dari rumah ke rumah, hingga kini dipercaya memimpin organisasi pengembang di Bumi Tambun Bungai ini. Setiap langkahnya dibangun oleh ketekunan, keberanian, dan keyakinan bahwa proses tidak pernah mengkhianati hasil.
“Bagi saya, kepemimpinan adalah amanah untuk melayani, menyatukan, dan memberikan teladan. Jabatan bukanlah tujuan, tetapi sarana untuk menghadirkan manfaat,” katanya saat dibincangi Kalteng Pos, Selasa (28/7).
Jauh sebelum mengenal dunia properti, Mima telah belajar tentang kehidupan melalui berbagai aktivitas sejak duduk di bangku sekolah dasar.
Ia aktif mengikuti dunia modeling, seni tari, organisasi juga Paskibraka. Berbagai kegiatan itu bukan sekadar mengejar piala atau penghargaan. Di sanalah ia belajar disiplin, keberanian, tanggung jawab, kerja sama, hingga kemampuan berbicara di depan umum.
“Saya belajar bahwa setiap proses jauh lebih penting daripada sekadar hasil. Dari setiap latihan dan perlombaan, saya belajar menerima kemenangan dengan rendah hati dan menjadikan kegagalan sebagai pelajaran,” tegas perempuan yang lahir di Palangka Raya, 27 Maret 1986 ini.
Ketertarikan terhadap bisnis tumbuh secara alami. Saat melanjutkan kuliah di Kota Malang, hidup jauh dari orang tua semakin mengajarkan arti kemandirian. Baginya, investasi pertama seorang pengusaha bukanlah modal uang.
“Modal pertama adalah ilmu, mental, dan jaringan,” jawabnya.
Usai menyelesaikan pendidikan pada 2008, Mima mencoba membuka warung bebek goreng dan nasi goreng di Malang. Tak lama kemudian ia kembali ke Palangka Raya. Di kota kelahirannya, perjalanan bisnis benar-benar dimulai.
Ia pernah menjadi agen tiket pesawat. Membuka usaha rental PlayStation 3. Mendirikan salon kecantikan. Membuka usaha ayam goreng hingga kembali mencoba bisnis bebek goreng. Semuanya menjadi ruang belajar. Sebagian bertahan, sebagian harus ditutup.
Namun baginya, tidak ada usaha yang benar-benar gagal. Lantaran setiap usaha selalu meninggalkan pengalaman. Pada 2015, ia mulai menekuni bisnis perhiasan. Awalnya sangat sederhana. Ia menawarkan produk dari rumah ke rumah. Perlahan, kepercayaan pelanggan tumbuh. Usahanya pun berkembang.
Setahun kemudian, bersama sang suami, Randika Anugraha Binti, ia memutuskan memasuki dunia properti. Mereka memulai hanya dengan sebidang tanah. Tidak besar, tidak pula mewah.
Di situlah Mima belajar langsung tentang perizinan, pembangunan, pemasaran, pengelolaan tenaga kerja, hingga melayani konsumen. Ia tidak segan turun ke lapangan. Berdiri di bawah terik matahari. Mengawasi pembangunan. Menyelesaikan persoalan pekerja. Sekaligus tetap menjalankan perannya sebagai ibu dari empat anak.
“Perjalanan ini penuh jatuh bangun. Tetapi setiap tantangan membentuk mental saya,” ujar perempuan 40 tahun ini.
Runner Up I Putri Indonesia Kalteng tahun 2010 ini percaya bahwa perempuan memiliki kepekaan yang kuat. Namun kepemimpinan tidak boleh hanya digerakkan oleh perasaan, logika juga harus hadir.
“Empati dan ketegasan bukanlah dua hal yang bertentangan. Justru keduanya harus berjalan bersama,” tegas perempuan yang hobi modeling ini.
Prinsip itu pula yang ingin ia terapkan selama memimpin DEPRINDO Kalteng. Menurutnya, organisasi tidak boleh sekadar menjadi tempat berkumpul para pengembang. Organisasi harus menjadi rumah bersama, tempat belajar, tempat berdiskusi, tempat mencari solusi dan membangun bukan sekadar rumah.
Membawa Semangat Huma Betang, memimpin DPW DEPRINDO Kalteng bukanlah tentang menjadi sosok paling hebat. Mima justru mengaku menerima amanah tersebut karena kepercayaan yang diberikan rekan-rekannya. “Saya ingin membangun organisasi yang profesional, sehat, berintegritas, dan menjadi mitra strategis pemerintah,” ujar ibu empat anak ini.
Nilai-nilai lokal Kalteng seperti Huma Betang dan semangat Isen Mulang akan menjadi fondasi kepemimpinannya. Baginya, kemajuan organisasi hanya bisa dicapai melalui kebersamaan.
Program awal yang disiapkannya pun berfokus pada konsolidasi internal, peningkatan kapasitas anggota, membangun komunikasi dengan pemerintah, perbankan, akademisi, media, hingga menghadirkan klinik konsultasi bagi para pengembang. Semua diarahkan agar DEPRINDO benar-benar memberi manfaat nyata bagi anggota dan masyarakat.
Di balik semua pencapaiannya hari ini, Mima masih menyimpan satu keyakinan sederhana. Bahwa belajar tidak pernah selesai. Nilai itu yang diwariskan ibunya, sosok yang paling menginspirasi sejak kecil.
“Dari ibu, saya belajar menjadi perempuan yang kuat, sabar, tidak mudah menyerah, dan selalu mengandalkan Tuhan dalam setiap langkah kehidupan,” tutupnya. (*)
Editor : Agus Pramono