Prajurit Veteran di Kotim, Kadar Usman: Konfrontasi Malaysia hingga Menyaksikan Indonesia Merdeka

Miftahul Ilma • Dipublikasikan Senin, 17 Agustus 2026 | 15:10 WIB
Cerita prajurit veteran di Kotim, Kadar Usman.(Miftah/kaltengpos.jawapos.com)
Cerita prajurit veteran di Kotim, Kadar Usman.(Miftah/kaltengpos.jawapos.com)

SAMPIT – Rambutnya telah memutih. Langkahnya tak lagi setegap ketika mengenakan seragam Tentara Nasional Indonesia (TNI) puluhan tahun silam. Senjata pun sudah lama ia tinggalkan. Seragam militer kini hanya dikenakan pada momen-momen tertentu.

Namun, ingatan tentang masa ketika menjadi prajurit Tentara Nasional Indonesia (TNI) selama puluhan tahun masih melekat kuat dalam benak Sersan Mayor (Purn) Kadar Usman.

Baca Juga: Curhat Pedagang Kaki Lima Memaknai Kemerdekaan di Tengah Lesunya Ekonomi

Ia adalah mantan prajurit yang sudah menjajaki usia 83 tahun. Meski sudah berumur, Kadar masih mengingat bagaimana dirinya menjalankan tugas ketika Indonesia berada dalam situasi penuh ketegangan.

Dari konfrontasi Indonesia-Malaysia hingga penugasan di Kalimantan Barat dan Timor-Timur menjadi pengalaman yang tak akan ia lupakan. Mengingat hidupnya pernah dihabiskan untuk menjalankan perintah negara.

Kadar mulai masuk TNI Angkatan Darat pada 1964. Saat itu usianya sekitar 23 tahun. Indonesia berada di bawah pemerintahan Presiden Soekarno dan tengah berada dalam situasi konfrontasi dengan Malaysia.

“Saya masuk Angkatan Darat itu zamannya Soekarno, Ganyang Malaysia. Waktu itu Indonesia kontra dengan Malaysia. Gajih saya hanya Rp11,” ujarnya saat diwawancarai usai perayaan HUT ke- 81 RI di Stadion 29 Nopember Sampit, Senin (17/8/2026). 

Dua tahun setelah menjadi prajurit, perjalanan tugas membawanya ke Kalimantan Barat. Pada 1966, ia bersama pasukannya mendapat tugas menghadapi Pasukan Rakyat Kalimantan Utara (Paraku).

Bagi seorang prajurit muda, penugasan tersebut tentu bukan perjalanan biasa. Jauh dari kehidupan nyaman, ia harus menjalankan tugas di tengah kondisi yang penuh risiko.

.
.

Kadar kemudian kembali menjalankan penugasan pada 1977-1978. Kali ini, ia dikirim ke Timor-Timur. Puluhan tahun berada di medan tugas membuat Kadar menyaksikan sendiri bahwa pengabdian sebagai prajurit memiliki harga yang tidak kecil.

Ada rekan yang kembali bersama pasukan. Ada pula yang tidak pernah kembali. Ketika ditanya mengenai pengalaman paling berat selama menjadi prajurit, Kadar tidak banyak bercerita panjang.

.
.

Namun, satu hal yang masih membekas dalam ingatannya adalah banyaknya rekan seperjuangan yang menjadi korban.

“Kalau dibilang banyak keluhan, banyak. Tidak sesuai dengan penerimaan. Kita banyak korban,” katanya.

Bagi Kadar, angka dan masa penugasan mungkin dapat ditulis dalam sejarah. Tetapi kehilangan rekan di medan tugas adalah pengalaman yang tidak mudah hilang dari ingatan.

Ia kemudian menyelesaikan masa pengabdiannya setelah sekitar 35 tahun bertugas. Pangkat terakhirnya adalah Sersan Mayor sebelum akhirnya memasuki masa pensiun.

Ketika berbicara tentang kemerdekaan, Kadar justru menarik ingatannya jauh ke belakang. Ia mengingat masa kecil ketika Indonesia belum sepenuhnya seperti yang dirasakan masyarakat sekarang.

Kadar lahir pada 1943. Ketika Belanda masih menjadi bagian dari cerita kelam Indonesia, usianya masih sekitar lima tahun.

Kala itu, Ia masih terlalu kecil untuk memahami seluruh situasi politik dan perjuangan kala itu. Tetapi suasana kehidupan pada masa tersebut tetap membekas dalam ingatannya. Menurut Kadar, penderitaan masyarakat pada masa lalu sangat berbeda dibandingkan kehidupan sekarang.

“Penderitaan tahun 1948 dibandingkan dari sekarang sangat jauh. Sekarang sudah merdeka, sudah enak,” kenangnya.

Kalimat itu keluar dari seorang pria yang pernah menjadi bagian dari perjalanan panjang bangsa. Ia pernah menjalankan tugas dengan risiko kehilangan nyawa, sementara kini menyaksikan generasi setelahnya menikmati kehidupan yang jauh lebih mudah.

Namun, Kadar tidak menganggap kemerdekaan sebagai akhir dari perjuangan. Menurutnya, musuh yang dihadapi bangsa Indonesia sekarang memang tidak lagi selalu datang dengan senjata. Tantangannya justru bisa berada di tengah masyarakat dan lingkungan pemerintahan sendiri.

.
.

Kini tubuhnya tidak lagi berada di medan operasi. Usianya juga tidak memungkinkan dirinya kembali menjalankan tugas seperti dahulu.

Namun, pengalaman 35 tahun sebagai prajurit membuatnya memiliki cara sendiri untuk memaknai kemerdekaan.

Ia telah melewati masa konfrontasi, penugasan di berbagai wilayah, hingga masa pensiun. Dari semua perjalanan tersebut, satu hal yang ia pahami adalah bentuk perjuangan akan selalu berubah mengikuti zaman. (*)

Editor : Ayu Oktaviana
tni kemerdekaan