Sentilan Veteran Asal Kotim, Kadar Usman: Dahulu Musuhnya Nyata, Sekarang Musuh dalam Selimut

Miftahul Ilma • Dipublikasikan Senin, 17 Agustus 2026 | 18:37 WIB
Cerita prajurit veteran di Kotim, Kadar Usman.(Miftah/kaltengpos.jawapos.com)
Cerita prajurit veteran di Kotim, Kadar Usman.(Miftah/kaltengpos.jawapos.com)

 

SAMPIT – Puluhan tahun lalu, Sersan Mayor (Purn) Kadar Usman menghadapi musuh yang dapat dikenali di medan tugas. Prajurit yang pernah bertugas di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) itu, kini tidak lagi mengenakan seragam sebagai prajurit aktif. Namun, ia melihat Indonesia menghadapi bentuk ancaman yang berbeda.

Kadar tidak menganggap kemerdekaan sebagai akhir dari perjuangan. Menurutnya, musuh yang dihadapi bangsa Indonesia sekarang memang tidak lagi selalu datang dengan senjata. Tantangannya justru bisa berada di tengah masyarakat dan lingkungan pemerintahan sendiri.

Baca Juga: Prajurit Veteran di Kotim, Kadar Usman: Konfrontasi Malaysia hingga Menyaksikan Indonesia Merdeka

.

“Belanda bisa diketahui, mudah (melawannya). Tapi musuh yang dalam selimut itu berbahaya,” katanya saat diwawancarai usai perayaan HUT RI ke-81 di Stadion 29 Nopember Sampit, Senin (17/8/2026). 

“Korupsi,” lanjutnya dengan lantang ketika ditanya mengenai apa contoh pernyataannya tentang musuh dalam selimut.

Kadar menyinggung korupsi sebagai salah satu persoalan yang menurutnya harus menjadi perhatian.Baginya, ancaman semacam itu berbeda dengan musuh yang pernah dihadapi ketika masih menjadi prajurit.

Musuh di medan perang dapat dilihat, sedangkan persoalan seperti korupsi dapat tumbuh dari dalam dan perlahan merugikan negara serta masyarakat. Terlebih lagi, perbuatan tak terpuji itu perlahan menggerogoti masyarakat. 

Baca Juga: Superman Muncul di Tengah Karhutla Palangka Raya, Ada Kisah Sedih Melekat Diingatan Rudiyansah 

.

Pandangan tersebut membuat makna perjuangan bagi Kadar ikut berubah seiring perjalanan zaman.

Jika dahulu perjuangan dilakukan dengan senjata dan berada di medan operasi, sekarang perjuangan bisa dilakukan dengan menjaga negara dari berbagai persoalan yang menggerogoti kepentingan rakyat.

Termasuk memastikan kebijakan pemerintah benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat. Ketika ditanya mengenai kebijakan pemerintah saat ini, Kadar mengaku sebenarnya ada banyak hal yang ingin disampaikan. Namun, ia menyadari tidak semua persoalan dapat diselesaikan dalam waktu singkat.

“Kalau kita mengutarakan banyak, tapi itu memerlukan waktu,” katanya.

Ia juga mengakui masih terdapat berbagai kekurangan dalam penyelenggaraan pemerintahan. Namun, sebagai masyarakat, ia tetap menerima proses yang berjalan sembari berharap adanya perbaikan.

.

Bagi Kadar, pesan tersebut bukan sekadar kritik. Itu adalah pandangan seorang veteran yang pernah menghabiskan sebagian besar hidupnya untuk negara.

Kini tubuhnya tidak lagi berada di medan operasi. Usianya juga tidak memungkinkan dirinya kembali menjalankan tugas seperti dahulu.

Namun, pengalaman 35 tahun sebagai prajurit membuatnya memiliki cara sendiri untuk memaknai kemerdekaan. (*)

Editor : Ayu Oktaviana
kadar usman kemerdekaan veteran