KALTENGPOS.JAWAPOS.COM-Nama Haji Djendjeng alias Bachroen bin Koentjong mungkin tidak setenar Tjilik Riwut atau tokoh perjuangan lainnya. Namun, kisahnya menunjukkan bahwa perjuangan mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan melibatkan banyak lapisan masyarakat.
Djendjeng, yang juga menyandang gelar Haji, disebut berperan dalam mendukung logistik, transportasi, dan penyampaian informasi bagi Tim Ekspedisi Perjuangan Kalimantan atau Rombongan I ke Borneo yang dipimpin Tjilik Riwut.
Perannya juga tidak berhenti pada dukungan terhadap perjuangan bersenjata. Ia disebut menjadi bagian dari tokoh pemerintahan sipil Republik Indonesia di tingkat onderdistrict, termasuk wilayah yang kini dikenal sebagai Nanga Bulik.
Jejak tersebut membuat Djendjeng bukan hanya bagian dari sejarah keluarga, tetapi juga bagian dari sejarah perjuangan masyarakat Kotawaringin dalam mempertahankan Republik Indonesia.
Pesan Perjuangan Diteruskan Lewat Pendidikan
Bagi keluarga, Kai Djendjeng bukan sekadar nama yang tercatat dalam sejarah. Ia meninggalkan nilai yang terus diwariskan kepada anak cucunya.
Salah satu pesan yang paling diingat keluarga adalah agar keturunannya selalu berusaha memberikan manfaat bagi orang lain.
“Pesan buyut kami, yang paling diingat keluarga adalah, anak cucu harus bisa bermanfaat bagi banyak orang,” kata Bupati Lamandau Rizky Aditya Putra, salah satu keturunan Djendjeng.
Menurut Rizky, pendidikan menjadi salah satu hal yang paling ditekankan dalam keluarga. Keturunan Djendjeng didorong untuk menempuh pendidikan setinggi mungkin dan menyelesaikannya dengan baik.
Bahkan, ketika memiliki kemampuan lebih, keluarga diminta ikut berkontribusi dalam dunia pendidikan dan memberikan kesempatan belajar kepada masyarakat.
“Yang paling ditekankan adalah pendidikan. Anak cucu harus bisa menyelesaikan pendidikan. Kalau ada uang lebih, harus berkontribusi dalam dunia pendidikan, dengan membangun sekolah,” jelasnya.
Pesan tersebut kemudian berkembang menjadi semacam warisan perjuangan lintas generasi. Sejumlah keturunan Djendjeng memiliki perhatian terhadap pendidikan, termasuk mendirikan sekolah maupun yayasan pendidikan.
“Alhamdulillah salah satu pesan beliau untuk mendirikan sekolah, perlahan kami wujudkan. Yayasan Islam E sampai saat ini masih beroperasi dengan menyediakan pendidikan sekolah gratis yang berpusat di wilayah Kotawaringin Lama,” kata Rizky.
Dari Perjuangan Bersenjata ke Pengabdian
Bagi keluarga, perjuangan Kai Djendjeng tidak seharusnya hanya dikenang sebagai cerita masa lalu.
Jika dahulu perjuangannya diwujudkan melalui dukungan logistik, transportasi, informasi, dan jaringan bagi para pejuang Republik, generasi penerusnya diharapkan meneruskan semangat tersebut melalui pendidikan dan pengabdian kepada masyarakat.
Semangat itu menunjukkan bahwa perjuangan dapat berubah bentuk mengikuti zaman. Perjuangan Djendjeng dilakukan ketika Republik masih mempertahankan kemerdekaan dengan segala keterbatasan.
Sementara generasi setelahnya melanjutkan nilai tersebut melalui pembangunan manusia dan pendidikan.
Ada pula kisah yang masih hidup dalam ingatan keluarga mengenai akhir hayat Kai Djendjeng. Menurut versi keluarga, ia meninggal ketika menjalankan ibadah haji terakhirnya dalam perjalanan menggunakan kapal.
Terlepas dari kisah yang diwariskan secara turun-temurun tersebut, jejak Djendjeng menyisakan satu pesan penting: kemerdekaan di Kalimantan juga dibangun dari keberanian masyarakat biasa yang bersedia mengambil risiko demi mempertahankan Republik.
Namanya mungkin tidak selalu berada di halaman utama buku sejarah. Namun, dari pondok sederhana, perahu yang menyusuri sungai, hingga ruang tahanan NICA, Djendjeng telah meninggalkan jejak bahwa perjuangan mempertahankan kemerdekaan pernah berlangsung hingga jauh ke pedalaman Kalimantan.
Biodata H Djendjeng
Nama Lengkap: Djendjeng
Alias/Nama Perjuangan: Bachroen bin Koentjong
Gelar: Haji
Tempat lahir: Sukamara
Tanggal Lahir: –
Tempat tinggal: Kotawaringin
Jabatan Politik/Perjuangan
- Ketua Badan Usaha Rakyat Kotawaringin (Awal 1946)
- Penyokong logistik, transportasi dan intelijen Tim Ekspedisi Perjuangan Kalimantan (Rombongan I ke Borneo) pimpinan Tjilik Riwut dan Willem Batoe.
- Tokoh Inti Pemerintahan Sipil Republik Indonesia tingkat Onderdistrict (Kecamatan) Nanga Bulik.
Riwayat Penahanan Politik - 8 Agustus 1946
Ditangkap oleh militer NICA Belanda atas tuduhan makar, membantu gerilya, dan spionase. - 28 Juli 1946 / Agustus 1946
Dipindahkan dari tahanan Pangkalan Bun ke Penjara Negara Banjarmasin di bawah pengawasan ketat (verzekerde bewaring). - 6 Januari 1947
Perkara hukumnya resmi dilimpahkan ke Pengadilan Militer Sementara (Temporaire Krijgsraad) Banjarmasin.
Status Akhir Perkara
Dibebaskan murni pada tanggal 28 November 1947 berdasarkan keputusan Pengadilan Militer Sementara Banjarmasin karena tidak ditemukannya bukti material yang cukup memberatkan (geen ernstige bezwaren) selama masa penahanan.(*)
Editor : Ayu Oktaviana